Alor dan Tantangan Pembangunan yang Belum Merata: Satu Suara dari Mahasiswa

Mahasiswi Semester 7 Jurusan S1 Ilmu Pemerintahan Universitas Riau
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari ZARITSA IZANI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Suara Mahasiswa asal Alor membawa persoalan harga dan distribusi beras keruang pemerintah.

Ada sesuatu yang menarik dari keberanian Adriano Jeconia Padama, mahasiswa baru Universitas Diponegoro (UNDIP) asal Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Di tengah ribuan mahasiswa baru yang mengikuti kuliah umum, ia memilih untuk tidak hanya menjadi pendengar. Adriano justru menggunakan kesempatan tersebut untuk menyampaikan persoalan yang dihadapi masyarakat di daerah asalnya kepada menteri pertanian Andi Amran Sulaiman. Pada saat itu menteri pertanian Republik Indonesia ini sedang memberikan kuliah umum penerimaan mahasiwa baru UNDIP di Semarang, di depan ribuan orang tersebut Adriano Padama berani berteriak dan menyampaikan persoalan yang dialami masyarakat daerah asalnya secara langsung kepada menteri pertanian Andi Amran Sulaiman. Persoalan yang dibawanya bukan kepentingan pribadi, melainkan masalah yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat, yaitu mahalnya harga dan sulitnya distribusi beras di kabupaten Alor. Mahasiswa sering disebut dengan agent of change yaitu agen perubahan. Kalimat tersebut memang terasa familiar, bahkan kadang terlalu sering digunakan sehingga hampir kehilangan maknanya. Namun, keberanian Adriano Jeconia Padama ini membuat istilah itu kembali memiliki makna. Menjadi seorang mahasiswa bukan hanya sekedar datang kekampus, mengikuti kelas dan menyelesaikan tugas. Ada tanggung jawab untuk melihat persoalan yang terjadi dilingkungan sekitar dan mempunyai kesempatan untuk menyampaikan persoalan tersebut kepada pihak yang mempunyai kewenangan untuk mencari solusinya.
Dari tengah kerumunan Adriano Padama memperkenalkan dirinya “Tolong kami pak, saya Adriano Padama dari kabupaten kecil” ujarnya dari kejauhan, sehingga ia diberikan kesempatan untuk maju kedepan oleh bapak menteri di depan rektor dan guru besar beserta dosen UNDIP. Di depan para petinggi Universitas Diponegoro ia berteriak, ditengah ribuan mahasiswa dia berlari bukan untuk dirinya sendiri tapi untuk 300 ribu jiwa saudaranya, ditempat yang jauh di kampung halamannya kabupaten Alor provinsi Nusa Tenggara Timur. Adriano Padama memperkenalkan dirinya sebagai mahasiswa baru dari fakultas ilmu sosial dan ilmu politik (FISIP) dari prodi hubungan internasional. Adriano mengatakan bahwa satu-satunya akses distribusinya di kabupaten Alor adalah menggunakan kapal, namun saat musim hujan cuacanya sangat parah sehingga sulit dijangkau. Adriano menyampaikan aspirasinya mengenai permasalahan yang dialami oleh masyarakat Alor yaitu mengenai kebutuhan beras yang mencapai 24 sampai 27 ton pertahun sedangkan kemampuan kabupaten alor hanya bisa memenuhi 10% nya saja sehingga harga beras di kabupaten Alor seringkali naik dan melonjak mahal. Ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah membuat distribusi menjadi persoalan penting, terutama ketika kondisi cuaca menghambat jalur transportasi. Dampaknya terasa pada harga beras yang dapat meningkat cukup tinggi, terutama di wilayah pedalaman. Bagi masyarakat dengan kemampuan ekonomi terbatas, kenaikan harga kebutuhan pokok tentu bukan persoalan kecil.
Adriano juga mengatakan bahwa harga beras diperkotaan bisa sekitar Rp14.000 sampai Rp15.000 tapi untuk daerah pedalaman bisa Rp17.000 sampai Rp18.000 saat harga normal tapi pada saat krisis didaerah pedalaman harganya bisa mencapai Rp25.000 sampai Rp30.000 perkilo. Hal ini tentu bukan masalah yang kecil bagi masyarakat terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan dibidang ekonomi. Perbedaan harga tersebut memperlihatkan bahwa persoalan pangan tidak berhenti pada masalah produksi saja. Ada permasalahan lain yang tidak kalah pentingnya yaitu bagaimana bahan pangan dapat didistribusikan dari sumbernya hingga sampai kepada masyarakat dengan harga yang terjangkau. Bagi daerah kepulauan seperti Alor, persoalan jarak, transportasi, cuaca, dan akses pasar menjadi bagian dari masalah pembangunan yang tidak bisa diabaikan.
Yang menarik dan juga menyita perhatian pada saat itu adalah respon menteri pertanian bapak Andi Amran Sulaiman yaitu setelah mendengar aspirasi dari Adriano, bapak menteri pertanian langsung mengatakan bahwa ini adalah hal yang penting dan meminta waktu sedikit kepada rektor UNDIP untuk mendengar aspirasi dari Adriano, setelah mendengarkan aspirasi dari Adriano beliau tidak hanya sekedar memberikan jawaban penenang diforum. Pemerintah merespon permasalahan tersebut dengan meminta jajaran terkait menindaklanjuti dan memastikan ketersediaan serta keterjangkauan harga beras di Alor bahkan melakukan kunjungan langsung ke kabupaten Alor pada tanggal 8 Agustus 2026 setelah sebelumnya bertemu dengan Adriano dalam perkuliahan umum penerimaan mahasiswa baru UNDIP pada tanggal 6 Agustus 2026. Bapak Amran langsung memberikan respon cepat dan memerintahkan untuk membangun 1 gudang bulog jika tidak ada gudang di kabupaten Alor dikarenakan harga beras yang cukup tinggi disana serta langsung meminta dirut bulog untuk langsung mengirimkan beras hari itu juga ke kabupaten Alor dengan harga merata satu daerah hanya Rp12.500 perkilonya. Menteri Amran mengatakan kepada rektor bahwa ia harus menyelesaikan hal ini karena masyarakat alor membutuhkan beras murah.
Keberanian Adriano menjadi hal yang sangat menarik karena faktanya ia baru saja kan memulai perjalanannya sebagai mahasiswa. Dalam situasi yang seperti ini biasanya kebanyakan mahasiswa akan memilih diam, mendengarkan materi yang disampaikan pejabat lalu pulang. Adriano justru mengambil kesempatan tersebut untuk menyampaikan keluhannya dan hal yang ia ketahui serta rasakan dikampungnya. Menurut saya, keberanian Adriano ini penting untuk dibicarakan karena merupakan hal yang langka ditemukan pada anak muda sekarang ini, ia juga merupakan contoh sederhana dari bagaimana seharusnya mahasiswa menjalankan perannya ditengah masyarakat yaitu sebagai agen perubahan (Agent of Change). Menjadi mahasiswa seharusnya membuat seseorang lebih peka terhadap persoalan yang ada dilingkungan sekitarnya, pengetahuan yang diperoleh dikampus akan lebih bermanfaat dan berarti jika digunakan untuk memahami dan membantu menyelesaikan persoalan yang ada ditengah masyarakat banyak.
Hal ini juga memperlihatkan bahwa hubungan mahasiswa dan pemerintah seharusnya tidak selalu berseberangan dan berada pada posisi yang terus berlawanan. Selama ini mahasiswa dianggap hanya sebagai kelompok yang hanya bisa mengritik pemerintah saja. Padahal kritik dan aspirasi mahasiswa ini dapat menjadi infromasi oleh pemerintah untuk mengetahui persoalan apa yang sedang dihadapi oleh masyarakat dan apa yang dirasakan oleh masyarakat. Adriano tidak maju kedepan untuk membahas teori yang rumit, ia membawa cerita tentang kampung halamannya sendiri. Justru disinilah kekuatan aspirasinya terlihat jelas, ia berbicara mengenai apa yang diketahuinya dan dirasakan langsung. Persoalan harga dan sulitnya distribusi beras di kecamatan Alor bukan hanya sekedar masalah angka, tetapi berkaitan dengan bagaimana kemampuan masyarakat disana untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari mereka.
Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan nasional tidak hanya bisa dilihat dari kondisi satu daerah pusat saja atau daerah yang infrastrukturnya sudah berkembang. Indonesia sebagai negara yang mempunyai kondisi geografis yang berbeda-beda menghadapi berbagai permasalahan mengenai distribusi, salah satunya seperti permaslahan di kabupaten Alor ini menunjukkan bahwa ketersediaan pangan tidak hanya bergantung pada seberapa banyak produksi yang dilakukan, tetpai juga bagaimana pangan tersebut sampai ke masyarakat dengan harga yang masih normal dan terjangkau. Hal yang perlu perhatian juga disini yaitu respon cepat yang diberikan pemerintah ketika suatu persoalan viral. Namun, ada pertanyaan yang menurut saya tidak boleh dilewatkan. Apakah masyarakat harus menunggu persoalannya menjadi perhatian publik terlebih dahulu agar pemerintah bergerak? jangan sampai persoalan yang dihadapi masyarakat itu ditanggapi dan mendapat perhatian jika sudah viral di media sosial saja. Masih banyak masyarakat diberbagai daerah yang mungkin mengalami persoalan yang hamper sama, tetapi tidak mempunyai kesempatan untuk mrnyampaikan persoalnnya secara langsung kepada pemerintah. Disinilah peran mahasiswa menjadi sangat penting, tidak semua mahasiswa memiliki kesempatan untuk bertemu dengan menteri dan tidak semua mahasiswa memiliki kebernaian untuk berbicara di depan ribuan ornag, tetapi semua mahasiswa pasti memliki kesempatan untuk mengamati, meneliti dan berdiskusi dengan masyarakat, dan menyampaikan persoalan yang ada dengan cara yang penuh dengan tanggung jawab.
Apa yang dilakukan Adriano juga memberikan pelajaran bahwa kritik tidak harus dilakukan dengan cara yang kasar. Pemerintah juga harus melihat mahasiswa sebagai mitra kritis, jika pemerintah dan mahasiswa bertemu dalam ruang dialog yang sehat, persoalan masyarakat akan lebih mudah dipahami dari berbagai sudut pandang. Melihat kisah Adriano bisa menjadi pengingat bahwa pendidikan tinggi seharusnya membuat mahasiswa lebih dekat dengan lingkungan sekitar bukan malah menjauh dari kehidupan bermasyarakat. UNDIP sendiri memberikan apresiasi berupa beasiswa double degree setelah menyelesaikan S1. Program tersebut berupa studi magister Administrasi Publik dan MA in Politics Governance & Public Policy di University of Sheffield. Apresiasi tersebut tentu menjadi hal positif, tetapi menurut saya makna yang lebih penting bukanlah penghargaan yang diterima Adriano. Yang lebih penting adalah pesan bahwa keberanian mahasiswa untuk membawa permasalahan masyarakat ke ruang publik layak dihargai dan diberi dukungan sebesar-besarnya.
Satu orang mahasiswa yang berani bersuara memang tidak akan langsung menyelesaikan persoalan di kabupaten Alor. Namun, satu suara dapat menjadi awal munculnya perhatian yang lebih besar. Karena itu, kunjungan pemerintah ke Alor seharusnya tidak dipandang sebagai akhir dari persoalan, melainkan sebagai awal dari proses penyelesaian yang perlu terus diawasi. Disini terlihat Gambaran bahwa demokrasi membutuhkan keberanian untuk berbicara dan ketersediaan pemrintah untuk mendengarnya. Karena itu, mahasiswa seharusnya tidak perlu takut untuk menyampaikan aspirasinya selama yang disampaikan itu berdsarakan data dan fakta yang ada, dilakukan secara jelas dan bertanggung jawab dan pemerintah juga tidak perlu menganggap setiap kritik itu sebagai ancaman, bisa saja dari suara mahasiswa ini pemerintah melihat hal-hal yang selama ini belum terlihat dari meja demokrasi itu. Dari Adriano kita juga bisa belajar bahwa mahasiswa tidak perlu menunggu lulus untuk dapat memberikan manfaat bagi sekitar, bahkan sejak hari pertama masuk perguruan tinggi mahasiswa sudah bisa mengambil peran sebagai agen perubahan.
Dari Alor, kita belajar bahwa persoalan pembangunan sering kali terlihat sederhana dari kejauhan, tetapi terasa sangat nyata bagi masyarakat yang mengalaminya. Harga beras bukan sekadar angka ketika kenaikan harga menentukan kemampuan sebuah keluarga memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Distribusi bukan sekadar urusan logistik ketika keterlambatan pasokan membuat masyarakat harus membayar dengan harga yang mahal. Adriano mungkin hanya seorang mahasiswa dari sebuah daerah kepulauan yang jauh dari pusat pemerintahan. Namun, keberaniannya menunjukkan bahwa suara dari daerah tetap memiliki tempat dalam pembangunan nasional. Pemerintah perlu mendengar suara tersebut, bukan hanya ketika ia terdengar keras, tetapi juga ketika suara masyarakat masih kecil dan belum menjadi perhatian publik. Sebab pembangunan yang benar-benar merata bukan hanya pembangunan yang terlihat dari pusat saja tetapi pembangunan yang merata adalah ketika masyarakat di daerah yang jauh dari pusat pemerintahan juga dapat merasakan bahwa negara hadir dalam setiap aspek kehidupan mereka.
Sumber:
Bahtiar. (2026). Undip Siapkan Beasiswa untuk Adriano, Mahasiswa yang Suarakan Kondisi Alor. Radio Republik Indonesia. https://rri.co.id/semarang/iptek/2641242/undip-siapkan-beasiswa-untuk-adriano-mahasiswa-yang-suarakan-kondisi-alor
Dhani, ed. N. (2026). UNDIP Berikan Beasiswa ke Sheffield Inggris Bagi Adriano Padama, Mahasiswa Pemberani yang Suarakan Kebutuhan Rakyat Pulau Alor. Direktorat Jejaraing Media, Komunitas, Dan Komunikasi Publik. https://undip.ac.id/post/58301/undip-berikan-beasiswa-ke-sheffield-inggris-bagi-adriano-padama-mahasiswa-pemberani-yang-suara-kan-kebutuhan-rakyat-pulau-alor.html
Digi, M. (2026). Mahasiswa UNDIP Curhat, Mentan Amran Langsung Perintahkan Pengiriman Beras ke Alor. Kementerian Pertanian Republik Indonesia. https://www.pertanian.go.id/?act=view&id=8026&show=news
Kementerian Pertanian RI. (2026). Mentan Amran bekali mahasiswa UNDIP: Mimpi besar harus dibuktikan dengan aksi nyata. https://youtu.be/tK6KBHlnI0Y?si=GH8qnh5P47jYf3_M
Libu, S. T. (2026). Mentan RI Apresiasi Pemuda Alor yang Berani Sampaikan Apirasi Rakyat. Radio Republik Indonesia. https://rri.co.id/atambua/nasional/2637166/mentan-ri-apresiasi-pemuda-alor-yang-berani-sampaikan-aspirasi-rakyat
M. Digi. (2026). Adriano, Simbol Mahasiswa Pembela Rakyat Miskin, Mentan Amran: Aspirasi Riil untuk Rakyat Alor. Kementerian Pertanian Republik Indonesia. https://www.pertanian.go.id/?act=view&id=8033&show=news
