Industri Tekstil dan Alas Kaki China Gempur Pengusaha Dalam Negeri

Perusahaan tekstil dan produk tekstil (TPT), serta alas kaki dari China sudah banyak masuk dan menggempur industri dalam negeri. Hal ini, dikhawatirkan bisa mengancam usaha di sektor TPT dan alas kaki.
Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki, Kementerian Perindustrian, Muhdori, mengatakan para pelaku usaha TPT dan alas kaki asal China ini enggan bekerja sama dengan perusahaan asal Indonesia. Biasanya, mereka akan datang ke daerah Jawa Tengah dan sebagian Jawa Barat.
"Pengalaman di industri tekstil dan alas kaki banyak investor China masuk di Jawa Tengah dan Jawa Barat, tapi mereka enggan kerja sama. Kalau ini terjadi, yang ada di dalam negeri akan terdistorsi," ujarnya di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (4/9).
Menurut Muhdori, akibat kondisi tersebut sulit mencapai target pertumbuhan industri manufaktur 7 persen pada 2024. Padahal, bisnis tekstil dan produk tekstil serta alas kaki merupakan dua sektor paling mampu bertahan di tengah lesunya ekonomi global.
Meski begitu, pihaknya mengaku akan selalu berupaya melihat peluang di pasar. Selain itu, sinergitas antara kementerian dan lembaga terkait juga harus didorong guna meningkatkan pertumbuhan industri manufaktur.
"Industri dipatok 7 persen sampai 2024 itu angka yang harus dicapai dengan berkeringat. Upayanya harus didukung kementerian/lembaga (K/L) lain dan pelaku usaha," ujarnya.
Sebagai informasi, pemerintah menargetkan kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sebesar 19,3 persen dan kontribusi kepada ekspor nasional sebesar 75,9 persen pada 2024 mendatang.
