Sebagus Apa, Sih, Maguire buat Manchester United?

Sodoran dana Manchester United sebesar 70 juta poundsterling masih diemohi Leicester City. "Tambahin 5 juta poundsterling lagi, nanti Harry Maguire bakal dikemas ke Old Trafford", begitu kira-kira percakapan transaksi United dan Leicester soal Maguire.
Well, Maguire total dihargai sebesar 75 juta poundsterling. Untuk membandingkan, angka tersebut setara dengan harga Virgil van Dijk saat diboyong Liverpool dari Southampton pada pertengahan musim 2017/18. Maguire juga lebih mahal dari Matthijs de Ligt yang berharga sekitar 58 juta poundsterling.
Eh, dua nama yang disebut di atas adalah bek-bek terbaik dunia untuk saat ini, lho. Jadi secara tak langsung, Maguire dipandang setara dengan Van Dijk dan lebih berharga ketimbang De Ligt. Pertanyaannya, apakah Maguire layak untuk dihargai semahal itu?
Urgensi United mendatangkan Maguire jelas: Bobroknya barisan pertahanan. Total 54 gol bersarang ke gawang 'Iblis Merah' di musim 2018/19. Angka itu menempati peringkat ke-11 dari seluruh kontestan Premier League --lebih buruk ketimbang Crystal Palace dan Newcastle United yang finis di papan tengah klasemen.
Lalu, mengapa Maguire yang dipilih United? Begini, kebijakan itu tak terlepas dari permintaan Ole Gunnar Solskjaer kepada Direktur United, Ed Woodward, untuk memboyong 'kearifan lokal' ke dalam skuatnya. Sialnya, bukan perkara mudah untuk memenuhi klasifikasi tersebut, lebih-lebih yang sudah teruji secara konsisten.
Langkah paling praktis, ya, menilik konstelasi susunan skuat Tim Nasional Inggris. Di Piala Dunia 2018 lalu misalnya, tersisip nama John Stones, Gary Cahill, Eric Dier, dan Phil Jones di barisan bek sentral.
Nama yang disebut pertama kurang realistis karena merupakan penggawa Manchester City. Pun demikian dengan Cahill terlalu uzur untuk didatangkan. Sementara Dier bukanlah seorang bek sentral murni.
Berlanjut ke skuat Inggris terbaru, di mana tercantum Michael Keane, Joe Gomez, dan James Tarkowski. Kecuali Keane, tiga nama di atas sukses menunjukkan performa impresif bersama timnya.
Yah, meski Gomez juga sedikit mustahil karena diproyeksikan menjadi bek masa depan Liverpool. Eh, iya, kenapa United tidak mengincar Tarkowski saja, ya?
Kembali ke Maguire. Ya, ia adalah penggawa reguler 'Tiga Singa'. Maguire menjadi pemain ketiga yang paling sering diturunkan Gareth Southgate di ajang UEFA Nations League lalu --setelah Jordan Pickford dan Harry Kane.
Eksistensinya di Piala Dunia 2018 juga tebal. Maguire tak pernah melewatkan satupun pertandingan yang ditempuh Inggris. Sumbangsihnya juga tak main-main karena sukses mencetak masing-masing satu gol dan assist dalam ajang yang dihelat di Rusia tersebut. Oh, ya, Maguire juga sukses menyumbang masing-masing satu gol dan assist kepada Tim Nasional Inggris di Piala Dunia 2018 lalu.
Nah, kemampuan dalam mencetak gol menjadi nilai plusnya. Total 3 gol dibuatnya untuk Leicester di Premier League musim lalu. Jumlah tersebut hanya kalah tipis dari Van Dijk yang mengemas 4 gol dan terpaut 2 gol dari Shane Duffy sebagai bek sentral terproduktif.
Jangan tanya soal agresivitas bek United. Wong, gabungan gol Chris Smalling, Victor Lindeloef, Jones, Eric Bailly, dan Marcos Rojo pun masih kalah dari jumlah lesakan Maguire.
Tinggi badan yang menjulang, 194cm, plus fisik yang kuat jadi keuntungan Maguire dalam mengonversi serangan serta mengamankan gawang. Menurut Whoscored, mantan penggawa Sheffield United itu sukses memenangi duel udara dengan rata-rata 5,9 di tiap pertandingan. Unggul jauh dari Smalling dengan raihan 4,3. Lebih signifikan lagi bila dikomparasi dengan Jones dan Lindeloef yang cuma mengukir 2,6 dan 1,8.
Nah, kedatangan Maguire diharapkan bisa menjadi penawar dari lemahnya United dalam mengantisipasi umpan lambung, baik itu dalam skema open play maupun bola mati. Perlu digarisbawahi, United sudah kebobolan 12 kali dari skema set-piece dan menjadi yang terbanyak keempat di Premier League.
Meski demikian, bukan berarti Maguire tak punya celah. Secara statistik, angka aksi bertahan miliknya tak lebih mengilap ketimbang para pemain belakang United lainnya. rata-rata tekelnya di Premier League musim lalu cuma menyentuh angka 1 per laga.
Torehan itu menjadi yang terendah di antara Lindeloef, Smalling, serta Jones. Oh, iya, kami tak menyertakan Rojo dan Bailly sebagai pembanding karena durasi tampilnya tak genap menyentuh angka 1.000.
Untuk catatan intersep, raihan Maguire lebih mendingan karena menyentuh rata-rata 1,2. Meski unggul dari Smalling dan Lindeloef, torehannya bukan yang terbaik. Ia masih kalah tipis dari Jones yang mengemas 1,3.
Betul bahwa Maguire adalah bek sentral yang dibutuhkan United. Spesialisasinya dalam duel udara --untuk bertahan dan menyerang-- bakal menambal kebobrokan departemen pertahanan United. Meski sulit dimungkiri bila pemain berusia 26 tahun itu bukan bek yang andal dalam duel bola bawah (tekel dan intersep).
Namun, asa United mendatangkan Maguire bukan hanya atas dasar kebutuhan, melainkan juga keinginan untuk mendatangkan pemain lokal yang notebene langka. Sialnya, Maguire adalah bek Inggris yang paling konsisten sejauh ini.
