Van Gaal: Solskjaer dan Mourinho Sama-sama Doyan Parkir Bus

Baik Ole Gunnar Solskjaer maupun Jose Mourinho sama-sama doyan menggunakan taktik parkir bus di Manchester United, kata Louis van Gaal. Bedanya cuma satu: Solskjaer lebih sering menang ketimbang Mourinho.
Sebelum jeda internasional Maret 2019 ini Manchester United menelan dua kekalahan beruntun, masing-masing dari Arsenal di Premier League dan Wolverhampton Wanderers di Piala FA. Namun, sebelum itu United begitu digdaya, setidaknya jika hasil akhir jadi patokan. Dari 17 pertandingan, mereka cuma gagal menang tiga kali, yaitu kala ditahan imbang Burnley dan Liverpool serta kalah dari Paris Saint-Germain.
Selebihnya, United selalu menang. Salah satu kemenangan itu bahkan terjadi dengan cara spesial. Bertamu ke Parc des Princes, United meraih kemenangan 3-1 yang membuat mereka menyingkirkan PSG lewat aturan agresivitas gol tandang. Akan tetapi, itu semua tak membuat Van Gaal terkesan.
"Pelatih setelahku (Mourinho) beralih ke taktik parkir bus dan hanya mengandalkan serangan balik. Sekarang ada pelatih lain yang juga memarkir bus dan cuma mengandalkan serangan balik. Perbedaan utama antara Mourinho dan Solskjaer adalah Solksjaer mampu memetik lebih banyak kemenangan," kata Van Gaal kepada BBC.
"Cara bermain Manchester United yang sekarang sama sekali berbeda dengan cara main [Sir Alex] Ferguon. Mereka memainkan sepak bola yang defensif dan bertumpu pada serangan balik. Kalau kamu suka itu, ya, tidak masalah. Kalau kamu berpikir itu lebih menarik dari sepak bola menyerangku yang membosankan, oke. Tapi, bukan seperti itu kebenaran menurutku."
"Sangatlah penting bagi Manchester United untuk lolos ke Liga Champions. Waktu aku masih jadi manajer, kami sudah berhasil melakukan itu. Namun, sekarang mereka punya peluang memenangi Liga Champions karena dengan bermain defensif, mereka jadi susah dikalahkan. Suka tidak suka, itu adalah hasil kerja Mourinho," papar Van Gaal.
Sebenarnya, klaim Van Gaal soal Solskjaer itu bisa dengan mudah dibantah lewat catatan statistik. United di bawah Solskjaer mampu menorehkan rata-rata penguasaan bola sampai 61 persen. Sedangkan, di bawah Mourinho angkanya cuma 53 persen. Ini menunjukkan perbedaan dalam cara tim melakukan pendekatan. Yang satu proaktif, yang satu lebih reaktif.
Namun, memang ada anomali pada laga kedua kontra PSG. Tampil dengan skuat compang-camping, United bertahan total dengan penguasaan bola hanya 27 persen. Jumlah umpan mereka pun (292) tak sampai separuh jumlah umpan PSG (761). Jika laga itu yang jadi acuan Van Gaal, maka dia benar adanya. Namun, secara keseluruhan, tim asuhan Solskjaer tetap lebih ofensif ketimbang tim Mourinho.
Adapun, Van Gaal tak cuma menyamakan Solskjaer dengan Mourinho, tetapi juga menyempatkan untuk membela diri. Menurut pria 67 tahun yang baru saja pensiun dari dunia kepelatihan itu, sepak bola yang diusungnya jadi terlihat membosankan karena respons negatif dari tim lawan.
"Sepak bola menyerang yang diusung timku terlihat membosankan, tetapi itu terjadi karena lawan menggunakan taktik parkir bus. Kalau sudah begitu, kami harus menaikkan tempo, dan itu adalah hal yang sulit dilakukan," tutur Van Gaal.
"Aku punya filosofi. Aku yakin akan kebenarannya dan aku berhasil meraih gelar di empat negara (Belanda, Spanyol, Jerman, Inggris, red) dengan filosofi itu. Itu adalah bukti bahwa filosofiku sebenarnya bisa bekerja dengan baik," tambahnya.
Satu-satunya gelar Van Gaal di Inggris didapatkan pada ajang Piala FA. Dalam kariernya, Van Gaal pernah membawa Ajax jadi juara Liga Champions. Akan tetapi, dia justru menyebut bahwa trofi Piala FA bersama Manchester United itu merupakan pencapaian terhebatnya.
"Aku tidak suka bagaimana [Ed] Woodward menghubungi suksesorku. Dia tahu bahwa dia akan mengganti diriku tetapi diam saja selama enam bulan. Tiap Jumat aku datang ke konferensi pers dan ditanyai soal rumor tersebut. Coba bayangkan bagaimana hancurnya otoritasku. Maka, menjuarai Piala FA ketika selama enam bulan media-media siap menggantungku kapan saja adalah pencapaian terhebatku," tutup Van Gaal.
