kumparan
21 Okt 2018 13:05 WIB

Risiko di Balik Kegemaran Makan Mi Instan Campur Nasi

Ilustrasi mi instan dan nasi. (Foto: Instagram/@hasegawatadaki)
Beberapa orang merasa belum makan jika belum makan nasi, sehingga makan mi instan pun dicampur nasi. Padahal nasi dan mi merupakan karbohidrat.
ADVERTISEMENT
Corporate Nutritionist di Nestle Indonesia, Eka Herdiana, mengakui dirinya masih sering mendengar orang-orang yang gemar makan mi instan bersama nasi. Ya, hanya mi instan plus nasi, tanpa sayuran dan sumber protein. Kata Diana, sapaan akrabnya, kebiasaan ini sebaiknya jangan dipelihara.
"Kalau kebanyakan makan karbohidrat, dampak jangka pendeknya jadi ngantuk. Jadi kalau ngantuk di sekolah atau tempat kerja, bisa jadi itu karena kebanyakan makan karbo," tutur Diana kepada kumparanFOOD di sela-sela perayaan International Chefs Day 2018 yang digelar Nestle di bilangan Jakarta Selatan, Sabtu (20/10/2018).
Nah, jika kebiasaan makan mi instan campur nasi berlangsung berkepanjangan, maka risikonya adalah meningkatnya berat badan. Sebab karbohidrat yang menumpuk di tubuh jika tidak dipakai maka akan disimpan menjadi lemak. Alhasil saat melihat timbangan, jarum timbangan akan semakin bergeser ke kanan.
ADVERTISEMENT
Direktur Legal and Corporate Affairs Nestlé Indonesia, Debora R. Tjandrakusuma, menimpali nggak hanya mi instan campur nasi saja yang masih sering dijumpai, tapi kebiasaan makan nasi kuning bersama mi goreng, kentang balado, dan perkedel kentang. Semuanya karbohidrat.
"Ini mungkin karena nggak tahu ya. Tahunya sudah diolah jadi lauk, padahal semuanya karbo. Maka itu perlu ada pendidikan gizi di keluarga," ujar Debora.
Sebenarnya karbohidrat memang diperlukan oleh tubuh sebagai sumber tenaga. Tapi kita harus ingat bahwa porsi dan jumlahnya harus sesuai dengan yang disarankan. Dalam kampanye 'Isi Piringku Sekali Makan' yang disuarakan Kementerian Kesehatan, jumlah karbohidrat yang disarankan adalah 2/3 dari setengah piring.
Karbohidratnya nggak harus nasi. Jadi kalau kamu nggak mau makan nasi, bisa menggantinya dengan mi, bihun, singkong, ubi jalar, jagung, kentang, atau sagu.
ADVERTISEMENT
"Kalau kebanyakan karbohidrat, sekali makan semuanya karbohidrat, maka vitamin dan mineral nggak terpenuhi. Akibatnya ke perkembangan kognitif bisa terganggu," sambung Diana.
Saat seseorang makan mi instan campur nasi saja, maka kebutuhan nutrisi mikro untuk meningkatkan fungsi sel nggak tercapai. Sering juga asupan buah sayuran nggak terpenuhi, padahal banyak sayur dan buah yang harganya nggak mahal.
"Kuncinya adalah cukup. Pesannya kembali ke prinsip makan seimbang. Jadi saat makan ada karbo, vitamin, mineral, dan protein," kata Diana.
Pesan Kementerian Kesehatan, karbohidrat seperti nasi hendaknya 2/3 dari setengah piring. Sedangkan, lauk dan buah masing-masing 1/3 dari setengah piring. Sementara itu, sayur seperti halnya karbohidrat jumlahnya 2/3 dari setengah piring.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan