Pencarian populer

Alasan Program Bayi Tabung Berpeluang Lebih Besar Hasilkan Bayi Kembar

Ilustrasi bayi tabung. Foto: Shutter stock

Program bayi tabung menjadi salah satu alternatif bagi pasangan yang kesulitan hamil lewat pembuahan alami. Meski membutuhkan biaya yang cukup besar, in vitro fertilization (IVF) atau bayi tabung sering menjadi pilihan bagi wanita di atas usia 35 tahun yang sangat ingin punya anak.

Prosedur IVF dilakukan dengan mempertemukan sel telur dan sperma dalam gelas di laboratorium agar terjadi pembuahan. Jika pembuahan berhasil, terbentuklah embrio yang akan ditransfer ke dalam rahim beberapa hari kemudian.

Mengutip laman First Cry Parenting, peluang hamil bayi kembar pada kehamilan alami adalah sekitar 6 persen. Sementara pada siklus bayi tabung, peluang itu meningkat hingga 25 persen.

Kenapa program bayi tabung lebih berpeluang hasilkan kehamilan bayi kembar?

Ilustrasi bayi kembar Foto: Pixabay

Sebenarnya dalam proses fertilisasi IVF, terbentuk lebih dari satu embrio. Embrio-embrio itu kemudian diseleksi untuk dicari yang paling normal dan sehat. Embrio terbaik punya peluang lebih besar untuk menghasilkan kehamilan.

Dr Eeson Sinthamoney, ahli fertilitas di Sunfert International Fertility Centre, Kuala Lumpur, menyatakan bahwa semakin banyak embrio yang dipindahkan ke rahim, semakin besar kemungkinan untuk hamil. Oleh karena itu, dalam satu siklus IVF, seringkali ditransfer dua, tiga, hingga empat embrio sekaligus.

dr Eeson Sinthamoney di Sunfert Fertility Centre Foto: Shika Arimasen Michi/kumparan

“Tujuannya adalah untuk memperbesar peluang terjadinya kehamilan. Seringnya dari dua embrio yang dipindahkan dalam rahim, hanya satu embrio terbaik yang berhasil berkembang menjadi janin,” jelas Dr Eeson saat ditemui kumparanMOM di Kuala Lumpur dalam acara yang digelar Malaysia Healthcare Travel Council.

Namun ada kalanya kedua embrio yang ditransfer itu sama-sama berhasil tertanam pada leher rahim. Alhasil wanita tersebut akan hamil bayi kembar. Menurut data Human Fertilization and Embryology Authority (HEFA), satu dari lima kehamilan dengan IVF menghasilkan kelahiran bayi kembar.

“Seringkali kehamilan bayi kembar bukan permintaan dari pasien tapi ‘bonus’ dari program bayi tabung,” tambah Dr Eeson.

Meski bayi kembar tampak menggemaskan, namun Anda juga perlu ingat, melahirkan mereka juga risikonya lebih tinggi. Mengandung bayi kembar lebih berisiko melahirkan prematur dan bayi lahir dalam berat badan rendah.

Ilustrasi bayi tabung. Foto: Shutter stock

Sebuah penelitian di Swedia mencoba membandingkan angka kelahiran prematur dan bayi lahir dengan berat badan rendah dari program IVF dengan transfer embrio tunggal dan embrio ganda.

Riset itu melibatkan 991 wanita yang melahirkan bayi kembar dari transfer embrio ganda dan 921 wanita yang melahirkan dua bayi dari dua siklus IVF yang berbeda.

Mengutip Reuters, hasilnya sebanyak 47 persen bayi kembar lahir prematur dan 39 persen bayi kembar lahir dengan berat badan rendah. Sedangkan bayi yang lahir dari transfer embrio tunggal, hanya 7 persen yang lahir prematur dan kurang dari 5 persen yang lahir dengan berat badan rendah.

Oleh karena itu sebagian ahli lebih merekomendasikan transfer embrio tunggal daripada ganda pada program bayi tabung. Namun tak sedikit pula pasien yang mau mengambil risiko dari transfer embrio ganda demi peluang kehamilan yang lebih tinggi.

Namun dr Eeson juga mengingatkan banyak kehamilan bayi kembar yang berjalan lancar dan menghasilkan bayi-bayi yang sehat. Keputusan akhir diberikan kepada pasangan yang menjalani program bayi tabung, dengan pertimbangan pendapat dokter, embriologis, dan kualitas embrio yang ada.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.61