Pencarian populer

Lumba-lumba Terus Dipaksa Menari Meski Ditentang Bertubi-tubi

Konten Eksklusif: Sirkus Lumba-Lumba. Foto: Basith Subastian/kumparan

Lebih dari 122 ribu orang menandatangani petisi untuk menghentikan sirkus lumba-lumba di Indonesia. Desakan itu datang dari masyarakat serta aktivis hewan. Namun, peragaan sirkus lumba-lumba tetap ada.

Padahal, di tahun 2013, KLHK melalui surat yang dikeluarkan oleh Dirjen PHKA Nomor 5 297/IV-KKH/2013 sudah melarang sirkus keliling. Surat yang ditujukan kepada Kepala-kepala BKSDA di Pulau Jawa itu, berisi perintah untuk mengawasi dan menarik satwa yang ketahuan masih dijadikan binatang sirkus keliling di wilayah Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan DIY ke Lembaga Konservasi.

Selain pengawasan hukum yang lemah, label 'edukasi' yang dijual pada sirkus keliling, jadi alasan sirkus lumba-lumba masih eksis dan diminati hingga kini.

Sirkus lumba-lumba keliling. (Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan)

Menurut Ketua dan Founder Jakarta Animal Aid Network Benfika, keuntungan menggiurkan yang diperoleh perusahaan sirkus jadi alasan utama sirkus ini tetap eksis.

"Sampai sekarang akhirnya berkembang bahwa lumba-lumba ini potensial sekali untuk mendapatkan keuntungan. Nah dari situ akhirnya semua LK (Lembaga Konservasi) yang punya lumba-lumba itu membuat lumba-lumba-lumba itu sebagai bisnis," ujar Iben panggilan akrabnya, saat ditemui kumparan pada Rabu (24/7).

Pernyataan Iben secara tidak langsung diamini oleh Rohmadi alias Romi, Asisten Manajer PT. Wersut Seguni Indonesia (WSI), perusahaan yang memperoleh izin peragaan satwa sekaligus sebagai lembaga konservasi (LK).

Menurutnya, keberlangsungan Lembaga Konservasi WSI sangat bergantung dengan penjualan tiket yang didapat selama pertunjukkan.

"Ya kalau menurut secara pribadi , kalau dikatakan bisnis ya memang ada unsurnya bisnis ya, memang ada sih. Tapi kan kalau konservasi kan kita memang dari konservasinya," terang Romi pada Kamis (25/10).

Saat ini PT. WSI sedang menggelar atraksi pertunjukkan lumba-lumba keliling di Depok selama sebulan penuh. Dengan target pengunjung 10 ribu orang, dan biaya tiket Rp 40 ribu per orang belum biaya foto sebesar Rp 40 ribu per jepretan. Bisa dibayangkan berapa ratus juta keuntungan yang diraup oleh penyelenggara dalam sebulan?

"Kalau kita kan konservasi. Kita swasta sih ya, jadikan untuk pembiayaan juga, perawatan dan lain-lain ini kan kita harus usaha sendiri. Jadi ya dari tiket ini kita untuk menghidupi yang di sana, lumba- lumba yang di sana untuk perawatan, pengembangan menjaga mereka dan juga satwa-satwa yang lain,"lanjut Romi.

Sementara si empunya mengumpulkan pundi-pundi, Brama dan Kumbara, dua lumba-lumba yang jadi bintang sirkus itu setengah mati melompati lingkaran, menyundul bola, dan berfoto bersama pengunjung demi upah sepotong ikan mati. Hal inilah yang terus menjadi pro dan kontra antara aktivis hewan, penyelenggara juga pemerintah.

Sirkus lumba-lumba keliling. (Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan)

Perlakukan penyelenggara sirkus keliling dinilai telah menyalahi Peraturan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan Dan Konservasi Alam Nomor P.9/IV-SET/2011 Tentang Pedoman Etika Dan Kesejahteraan Satwa Di Lembaga Konservasi dan Nomor P.16/IV-SET/2014 Tentang Peragaan Lumba-lumba.

Salah satu aspek penting dalam prinsip kesejahteraan satwa yang harus dipenuhi oleh suatu lembaga konservasi yaitu aspek pengelolaan pakan. Di habitat asalnya, lumba-lumba melahap ikan, cumi-cumi, dan ikan segar. Namun kenyataan di lapangan tak demikian.

Menurut pengamatan kumparan saat menyaksikan sirkus lumba-lumba milik WSI di Depok, terlihat pelatih memberikan ikan mati yang sudah dipotong menjadi dua bagian.

Sirkus Lumba-lumba (Foto: Tommy/kumparan)

Kedalaman air di kolam lumba-lumba pun juga tak sesuai standar yang harusnya yakni 2,5 kali dari panjang tubuh lumba-lumba atau minimal 4 hingga 5 meter. Nyatanya, tinggi kolam hanya sedalam 2,5 meter.

Lebih memprihatinkan, hampir semua gigi dua lumba-lumba dalam sirkus keliling tersebut tanggal. Padahal, dikatakan oleh pelatih, lumba-lumba tersebut baru berusia di bawah 10 tahun.

----------------------------------

Bagaimana kisah sirkus lumba-lumba keliling saat ini? Simak ulasan lengkapnya dalam story-story berikut.

Polemik Sirkus Lumba-lumba Keliling

Di Laut, Tak Ada Lumba-lumba Bermain Bola dan Lompati Lingkaran Api

Fenomena Lumba-lumba Sirkus 'Bunuh Diri' karena Stres

Sederet Peraturan Sirkus Lumba-lumba di Indonesia

Tanpa Nonton Sirkus, Anak Bisa Kenal Lumba-lumba Dengan Cara Ini

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.60