Pencarian populer

Memahami Kisruh Diplomatik Arab Saudi dan Kanada

Mohamed Bin Salman sama Justin Trudeau. (Foto: AFP/Alexey DRUZHININ, EMMANUEL DUNAND)

Isu global pekan ini diawali dengan kisruh diplomatik Arab Saudi dan Kanada. Pemerintah Saudi marah betul dengan Kanada, sampai mem-persona-non-grata-kan dubes dari Ottawa, menangguhkan kerja sama dagang yang nilainya triliunan rupiah, hingga menghentikan penerbangan.

Salah satu bukti bahwa Saudi benar-benar murka, mereka akan memindahkan 15 ribu mahasiswa penerima beasiswa di Kanada ke negara lain

Lantas, apa yang bikin Saudi marah?

Peristiwa ini bermula dari tweet Menteri Luar Negeri Kanada Chrystia Freeland. Pada 2 Agustus 2018, Freeland mengomentari penangkapan para aktivis HAM perempuan oleh Saudi sehari sebelumnya, dengan salah satu nama yang jadi perhatian: Samar Badawi.

Samar Badawi (Foto: AFP/ALEX WONG)

"Sangat khawatir mengetahui Samar Badawi, kakak Raif Badawi, dipenjara di Arab Saudi. Kanada berdiri bersama keluarga Badawi di saat sulit ini, dan kami terus menyerukan pembebasan Raif dan Samar Badawi," kata Freeland.

Sehari setelahnya, tweet Freeland ditimpali oleh akun Kementerian Luar Negeri, menyerukan pembebasan Samar dan Raif serta para aktivis HAM lainnya.

Berbagai komentar Kanada ini lantas dibalas -juga melalui Twitter- oleh Kemlu Arab Saudi. Dalam bahasa Inggris dan serangkaian tweet panjang dalam waktu dua hari, 5-6 Agustus 2018, Saudi menganggap komentar Kanada bentuk campur tangan terhadap urusan dalam negeri mereka.

"KSA (Kerajaan Arab Saudi) dalam sejarahnya tidak pernah dan tidak akan menerima setiap bentuk intervensi dalam masalah dalam negeri Kerajaan. KSA menganggap posisi Kanada sebagai serangan terhadap KSA dan memerlukan tindakan tegas," tulis Kemlu Saudi.

Di hari yang sama, Saudi langsung memanggil pulang dubes mereka dari Kanada dan menyatakan dubes Kanada sebagai persona-non-grata alias orang yang tidak diinginkan. Saudi memberi dubes Kanada waktu 24 jam untuk hengkang dari negara mereka.

Saudi juga menghentikan seluruh rencana kerja sama dagang dengan Kanada. Awal pekan ini, Saudi menghentikan penerbangan langsung Riyadh-Ottawa oleh maskapai Saudia. Bahkan, Saudi menyatakan akan memulangkan mahasiswanya dari Kanada dan pemberian beasiswa untuk pelajar yang ingin studi ke Kanada.

Kanada meresponsnya, menegaskan tidak akan goyah dalam pendiriannya mendukung penegakan HAM di Saudi. "Kanada selalu membela hak asasi, baik di Kanada dan seluruh dunia, dan hak-hak wanita adalah hak asasi manusia," kata Freeland, Selasa (7/8).

Kendati demikian, pemerintah Kanada dilaporkan akan meminta bantuan Inggris atau Uni Emirat untuk memperbaiki hubungan dengan Saudi. Sementara itu, sekutu terdekat Kanada, Amerika Serikat, lepas tangan dan menolak ikut campur.

Bendera Kanada (Foto: Daniel Chrisendo/kumparan)

Dampak Ekonomi

Kisruh diplomatik ini diperkirakan merugikan perekonomian Kanada. Padahal saat ini Kanada tengah mengincar banyak kerja sama dengan Saudi yang mulai mencari investasi selain minyak. Digawangi Putra Mahkota Mohammed bin Salman, Saudi punya visi terbebas dari ketergantungan terhadap pemasukan sektor minyak pada 2030.

Arab Saudi saat ini menjadi pasar ekspor terbesar kedua di Teluk bagi Kanada setelah Uni Emirat Arab. Ekspor Kanada ke Saudi mencapai USD 1,12 miliar pada 2017, atau 0,2 persen dari total nilai ekpor negara itu. Hubungan dagang kedua negara bernilai hampir USD 4 miliar per tahun.

Kanada mengimpor 75 ribu hingga 80 ribu barel minyak dari Saudi setiap harinya, kurang dari 10 persen nilai impor total.

Penarikan ribuan mahasiswa Saudi juga akan berdampak pada pemasukan sektor pendidikan di Kanada. Kebanyakan mahasiswa Saudi di Kanada adalah peserta program beasiswa Raja Abdullah yang ditanggung seluruh ongkos kuliah, penerbangan, akomodasi, dan biaya hidupnya.

Kerugian di depan mata adalah terancam batalnya pembelian kendaraan tempur dari perusahaan Kanada, General Dynamics Corps, yang diteken Saudi pada 2014 senilai USD 13 miliar atau lebih dari Rp 187 triliun.

Kendaraan tempur Stryker. (Foto: Wikipedia)

Ini adalah kerugian tambahan bagi Kanada di sektor pertahanan setelah Filipina membatalkan kontrak pembelian 14 helikopter usai pemerintah Justin Trudeau memerintahkan meninjau catatan pelanggaran HAM Presiden Rodrigo Duterte.

Selain itu, karena idealismenya soal perlindungan lingkungan, Kanada juga kesulitan memperoleh kesepakatan dagang dengan beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Meksiko, atau China.

Sikap Kanada Tepat?

Kanada bersikeras sikapnya terhadap Saudi sudah tepat. Menurut beberapa pengamat, Kanada memang harus teguh pada sikap ini demi memantapkan citra sebagai negara pembela HAM.

"Ada saatnya secara politis kami harus mengambil pilihan," kata Ferry de Kerckhove, profesor di University of Ottawa.

"Di mata dunia, ada anggapan Kanada adalah satu dari benteng pertahanan terakhir nilai-nilai liberal, baik ekonomi, politik, dan sosial," lanjut dia.

Namun menurut David Chatterson, mantan dubes Kanada untuk Saudi, langkah pemerintah Trudeau telah gagal karena akan lebih banyak merugikan negara ketimbang mencapai tujuan yang diinginkan.

"Apakah tujuannya untuk kebaikan Badawi? Jika iya, maka kami gagal. Jika untuk mempengaruhi Arab Saudi? Saya kira itu tidak tercapai," kata Chatterson. "Apakah kami mengedepankan kepentingan Kanada? Tidak. Ini kegagalan total."

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: