Pendaki Ini Gapai Puncak Gunung Everest Dua Kali dalam Seminggu

Gunung Everest yang jadi salah satu dari tujuh puncak tertinggi di dunia tentunya memberikan tantangan tersendiri bagi para pendaki. Tak sedikit, pendaki yang bermimpi untuk menggapai puncak Everest.
Hal itulah yang membuat para pendaki di seluruh dunia berlomba-lomba untuk menaklukkan puncak Everest. Umumnya, para pendaki membutuhan waktu setidaknya dua bulan sebelum mencapai Puncak Everest. Tak hanya itu, waktu pendakian bisa saja berubah dan menjadi lebih lama mengingat kondisi cuaca yang bisa saja berubah, belum lagi medan yang cukup berat.
Tapi, tahukah kamu bahwa ada seorang pendaki yang berhasil menaklukkan Everest dua kali hanya dalam waktu seminggu? Ya, pendaki gunung asal Spanyol bernama Kilian Jornet ini adalah salah satu pendaki yang berhasil mencatatkan rekor sebagai pendaki tercepat ketika mendaki Gunung Everest.
Pada 20 April 2017 lalu, Jornet berhasil mencapai salah satu puncak tertinggi di dunia tanpa menggunakan tali ataupun botol oksigen. Jornet meakukan pendakian melalui jalur sisi utara Gunung Everest dari Biara Rongbuk yang ada di Tibet dan berhasil tiba di puncak Everest (8.848 meter di atas permukaan laut) dalam waktu 26 jam.
Beberapa hari setelahnya, Jornet pun berhasil mencapai puncak Everest dalam waktu 17 jam saja. Pendakian keduanya ia lakukan dari Advance Base Camp Everest yang ada di di ketinggian 21.352 kaki atau sekitar 6.500 mdpl.
Sayangnya rekor pendakian keduanya tidak berhasil mencatatkan namanya ke dalam rekor sebagai pendaki tercepat Everest dalam rute yang sama, karena rekor tercepat masih dipegang oleh Christian Stangl, pendaki Austria yang berhasil mencapai puncak everest dalam waktu 16 jam dan 42 menit pada tahun 2006.
Lantas apa sih rahasia Jornet yang bisa menggapai puncak Everest dua kali hanya dalam waktu seminggu?
Dilansir Daily Mail, rekor yang berhasil diperoleh oleh Jornet tak terlepas dari latihan yang ia lakukan. Jornet harus melakukan latihan fisik yang cukup berat dan mempersiapkan mental yang prima.
Untuk latihan fisiknya, sebelum menaklukan Gunung Everest, ia pun harus tinggal di dalam sebuah tenda dengan kondisi rendah oksigen selama empat minggu. Hal ini tentunya agar tubuhnya mampu beradaptasi ketika mendaki Everest dengan oksigen yang sangat sedikit.
Selain itu, Jornet juga harus menghabiskan waktu sekitar 100 jam untuk melakukan trekking di Pegunungan Alpen.
Menurut pelatihnya yang bernama Dr Gregoire Millet, yang juga seorang profefssor jurusan Fisiologi di Universitas Lausanne. Jornet juga harus tidur di dalam sebuah tenda bertekanan yang disimulasikan seperti suasana di Puncak Mont Blanc yang memiliki ketinggian sekitar 15.781 kaki atau sekitar 4.810 mdpl.
Lalu pada siang harinya, Jornet harus melakukan latihan treadmill dengan intensitas tinggi. Latihannya pun membuahkan hasil. Setelah satu bulan, grafik nadi suhu pernapasan Jornet meningkat dari 70 menjadi 85 persen.
Jornet bahkan memiliki kecepatan tercepat yang pernah tercatat saat naik ke Everest antara 20.669 kaki (6.300 m) dan 27.559 kaki (8.400 m) pada 1.148 kaki (350 m) per jam.
Selain menaklukkan Everest, ia juga memegang rekor sebagai pendaki tercepat Gunung Denali di Alaska serta Gunung Matterhorn dan Mont Blanc di Alpen.
Tetapi para peneliti memperingatkan bahwa para pendaki yang ingin mengikuti jejak Jornet harus memperhatikan segala aspeknya. Karena semua itu harus dilakukan melalui latihan yang ketat disertai dengan pengawasan dari mereka yang ahli dalam bidangnya terutama hal-hal yang berkaitan dengan latihan fisik.
Bagaimana menurutmu?
