Menguak Sisi Ilmiah Tarian Maut Abad Pertengahan (2)

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selain kasus di Strasbourg, Prancis, pada tahun 1518, banyak catatan peristiwa dari abad ke-14 hingga ke-16 yang menyebutkan laporan tentang orang-orang yang menari secara kesurupan. Tak jarang, mereka yang menari dilaporkan hingga tewas karena kelelahan. Sebutan "Tarian Maut Yohanes Pembaptis" disematkan oleh masyarakat di Eropa terhadap fenomena ini, karena kebanyakan dari mereka yang menari selalu meracau memanggil nama Yohanes Sang Pembaptis. Beberapa sejarawan juga menyebutnya sebagai "wabah menari".
Baca Tulisan Sebelumnya:Tarian Maut Abad Pertengahan, Kesurupan berjoget Sampai Mati (1)
Sekelompok Kristen, yang dikenal sebagai Flagellant, dianggap punya kaitan dengan kasus tersebut. Mereka kerap memulai ritual aneh dengan memukul diri sendiri, sebagai bentuk penebusan dosa untuk dirinya dan orang lain. Kelompok ini juga sering terlihat melakukan proses "panggilan untuk bertobat" di jalan-jalan pedesaan dan perkotaan. Pada 1360, di Lausitz, kebiasaan orang-orang Flagellant berkembang menjadi suatu ritual yang lebih janggal dengan sebuah catatan menggambarkan bahwa beberapa wanita muda dantua bertindak "gila" dengan menari sembari berteriak di jalanan.
Ritual mereka dikabarkan sempat mereda selama beberapa tahun. Namun, kemudian muncul lagi dalam skala yang jauh lebih besar ketika wabah dan kekacauan kembali menghampiri Eropa. Kerumuman orang dilaporkan sering memadati kota dan menari di depan altar, dengan gerakan tarian yang tidak harmonis, disertai lompatan, dan putaran. Tarian mereka tampak ganas, tidak ada kebahagiaan, mencengkram pikiran dan tubuh.
Seorang biarawan dan penulis sejarah, Petrus de Herenthal, menggambarkan orang yang menari seperti:
Sangat tersiksa oleh Iblis. Sehingga di pasar, gereja-gereja, dan rumah mereka sendiri, mereka menari dengan memegang tangan satu sama lain dan melompat tinggi ke udara".
Para ilmuwan menyebutkan bahwa kebanyakan dari mereka yang menari telah mati akibat kejang epilepsi atau cacat kognitif. Selama lima abad terakhir ini, telah muncul berbagai spekulasi untuk mencari jawaban dari fenomena kesurupan massal itu.
Beberapa pendapat mengklaim bahwa orang-orang yang kesurupan merupakan anggota dari sekte penari histeris. Sementara opini lain menyebutkan bahwa orang-orang itu menderita sydenham's chorea atau chorea cinor (juga dikenal sebagai Saint Vitus Dance), suatu kelainan yang ditandai oleh gerakan menyentak yang cepat dan tidak terkoordinasi, terutama yang mempengaruhi wajah, tangan, dan kaki.
Sedangkan para ilmuwan, yang mengasumsikan kesurupan tarian massal itu sebagai wabah, percaya bahwa fenomena ini berkaitan dengan faktor lingkungan. Mereka yang menari diduga menderita suatu gejala yang disebabkan ergot, sejenis jamur yang mengandung sifat psikotropika.
Akan tetapi, tarian itu memiliki sifat yang aneh, fakta bahwa para penarinya terlihat seperti terpisahkan dari tubuh mereka layaknya orang yang sedang trans atau kesurupan, sehingga teori tentang peran ergot pun belum dapat menjelaskan dengan gamblang apa yang menjadi pemicunya.
Sumber penderitaan mereka lebih mengarah pada kondisi psikologis daripada sesuatu yang mereka telan. Apalagi, kondisi Eropa Tengah pada abad ke-14 mengalami banjir, wabah, kelaparan, dan peperangan, yang mengakibatkan banyak orang putus asa akan kelangkaan makanan. Dengan rendahnya harapan hidup, tentu kita tidak dapat mengabaikan hubungan antara stres ekstrem dan kesurupan yang menyebabkan Tarian maut Santo Yohanes.
Sumber:
The medieval dance of death | historyextra.com
Dancing plague of 1518 | britannica.com
What was the dancing plague of 1518? | History
