PSK di Selandia Baru Dapat Subsidi Upah Darurat COVID-19 Senilai Rp 39 Juta

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sekitar seminggu sebelum Selandia Baru memberlakukan lockdown total pada tanggal 26 Maret 2020, Lana (nama samaran) mengambil cuti dari profesinya sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK) di rumah bordil kelas atas di Wellington. Sejak September 2019, ia telah menghasilkan sekitar NZD 2.200 per bulan dengan dua atau tiga klien per minggu. Bagaimanapun, selama cuti, Lana tetap mendapatkan pemasukan: Bukan dari dompet klien, tetapi dari subsidi pemerintah.
Proses pengajuan dan pencairan subsidi juga tidak menyulitkan, meski Lana berprofesi sebagai PSK. Pada 23 Maret, universitas (tempat Lana kuliah) mengumumkan proses belajar/mengajar akan berlangsung secara online; hari berikutnya ia memutuskan untuk tinggal bersama orang tuanya di Auckland; dan ia pun mengajukan subsidi upah darurat Selandia Baru. Hanya dua hari setelah pengajuan, bantuan dana telah masuk ke rekening Lana, sejumlah NZD 4.200 (senilai lebih dari Rp 39 juta) untuk mengganti penghasilan paruh waktu selama 12 minggu.
"Formulirnya hanya perlu tiga menit untuk diisi dan saya tidak perlu mengungkapkan bahwa saya seorang pekerja seks. Saya hanya perlu mengungkapkan bahwa saya berwiraswasta," tutur Lana dilansir The Guardian.
Sebagai hasil dari dekriminalisasi, dijelaskan oleh New Zealand Parliament, PSK telah diakui sebagai profesi legal dan disahkan oleh undang-undang di Selandia Baru pada tahun 2003. Legalitas inilah yang memungkinan Lana dan teman-teman seprofesinya berhak memperoleh subsidi upah darurat selama masa lockdown.
Subsidi upah darurat itu pun berlaku untuk semua pekerja yang penghasilannya turun 30 persen (atau lebih) akibat dampak pandemi. Mereka hanya perlu mencantumkan nomor identitas nasional (seperti: NIK-KTP di Indonesia) dan informasi pribadi yang mendasar sebagai pengajuan. Terutama untuk pekerja penuh waktu, yang rata-rata durasi kerjanya lebih dari 20 jam seminggu, mereka langsung mendapatkan sejumlah NZD 7.029 dalam beberapa hari setelah pengajuan.
“Fakta bahwa industri seks di Selandia Baru telah didekriminalisasi menghasilkan banyak keuntungan, dan sekarang terbukti dengan masalah (corona) virus ini,” kata Joep Rottier, peneliti kriminologi di Universitas Utrecht, Belanda, yang disertasinya menelaah soal model kebijakan di Selandia Baru.
Bantuan dana tersebut diharapkan dapat memicu sikap positif, agar penduduk betah di rumah dan lockdown total dapat berjalan lancar. Alhasil, penyebaran COVID-19 pun diharapkan dapat lebih mudah dibatasi di Selandia Baru.
