Konten dari Pengguna

Wabah Kolera Mengubah Sistem Perkotaan Menjadi Lebih Bersih

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Central Park, New York | Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Central Park, New York | Wikimedia Commons

Kolera, menjadi wabah yang cukup menakutkan pada masanya. Menyiksa banyak manusia di berbagai negara. Wabah ini berhasil datang ke Kota New York, Amerika Serikat, pada musim panas 1832, meninggalkan para korbannya dengan mata cekung, kulit biru, diare parah, mual, dan muntah-muntah.

Penyakit itu telah menempuh perjalanan sangat jauh dari Asia, melintasi Eropa, dan pada akhirnya bisa tiba di pantai New York. Hanya butuh beberapa minggu bagi kolera untuk merenggut nyawa lebih dari 3.500 orang di mantan ibu kota AS ini. Ketika kolera kembali menyerang pada tahun 1849, jumlah korbannya telah melebihi 5.000 orang di New York.

kumparan post embed

Dalam sepak terjangnya sepanjang abad ke-19, wabah kolera secara tidak langsung telah memberikan elemen baru terhadap desain perkotaan, seperti jalanan dan taman, yang akhirnya turut mengubah tata letak New York menjadi kota modern sebagaimana yang kita kenal sekarang.

Pada abad ke-19, kota-kota besar biasanya memiliki populasi yang terlalu penuh, kontruksi menyesakkan, dan tempat kotor di segala penjuru, sehingga dapat membuat kolera berkembang biak dengan sempurna. Sementara sampah, kotoran hewan, dan kotoran manusia, terus mengalir dengan bebas ke sumber air minum.

Guna mengatasinya, para pejabat lokal kemudian memperbaiki ventilasi, drainase, dan sanitasi, demi membersihkan udara kotor yang telah menyelimuti kota-kota. Para pemimpin di Kota New York juga berupaya dalam memberantas wabah kolera tersebut dengan membuang 20.000 babi dari jantung kota dan membangun sistem saluran air sepanjang 41 mil, yang menyalurkan air minum bersih dari utara kota.

Foto: Frederick Law Olmsted | Wikimedia Commons

Seorang arsitek lanskap bernama Frederick Law Olmsted mengatakan bahwa pembangunan taman-taman, laiknya Central Park, dapat bertindak seperti paru-paru perkotaan sebagai "gerbang" bagi udara kotor yang keluar dan udara bersih yang akan masuk. Ia juga mengatakan, bahwa perkotaan memerlukan ruang yang lebih terbuka agar udara segar dan matahari dapat dengan bebas masuk ke dalam. Berdasarkan keyakinan demi mengakhiri wabah kolera, ia pun merancang lebih dari 100 taman umum dan tempat rekreasi di beberapa kota besar, seperti Chicago, Detroit, Boston, dan Buffalo.

kumparan post embed

Selain New York, kolera juga mengubah London dan Paris. Di London, limbah mentah terus meluap di Sungai Thames, sehingga pada musim panas 1858 menghasilkan bau yang sangat tidak sedap, bahkan sampai tercium di seluruh kota hingga masuk ke rumah-rumah. Situasi ini memaksa pihak berwenang untuk membangun sistem saluran pembuangan modern ke arah yang cukup jauh dari kota hingga ke laut. Selain itu, garis tepian sungai yang berlumpur dipersempit dan diganti dengan tanggul. Disisinya dibuat jalan kecil dan kebun di tepi sungai.

Sementara di Paris, pemerintah setempat merobohkan 12.000 bangunan, membangun jalan-jalan dan taman, mendirikan air mancur, dan memasang sistem pembuangan kotoran yang rumit. Rencananya agar udara segar dan cahaya dapat masuk dengan lebih mudah ke jaringan perkotaan yang padat.

Pada akhirnya, wabah kolera betul-betul mengubah penampilan kota-kota besar itu. Setidaknya, walau tidak sekaligus menghentikan penyakit, warga bisa merasakan hidup yang lebih sehat.

kumparan post embed