MPU Jawab Rasa Heran Menag soal Aceh Tak Punya Bioskop Seperti Jeddah

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Teungku H Faisal Ali, menanggapi pernyataan Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi yang merasa heran mengapa bioskop tidak diizinkan beroperasi di Aceh, sementara di negara Islam seperti Arab Saudi bioskop sudah diperbolehkan.
"Saya kira tidak substansi seorang Menteri Agama membanding-bandingkan Aceh dengan Jeddah. Belum tentu semua yang ada di daerah lain, negara lain, cocok dengan kita di Aceh, belum tentu," kata Teungku Faisal kepada acehkini, Minggu (5/1).
Ulama Aceh yang akrab disapa Lem Faisal ini menilai, keberadaan bioskop di Aceh bukanlah sesuatu hal yang bermanfaat bagi masyarakat. Oleh karena itu, menurutnya, kehadiran bioskop di Aceh bukanlah suatu hal yang penting untuk dibangun.
"Kalau dibilang untuk hiburan, masyarakat Aceh banyak sekali bentuk hiburan yang lainnya. Jadi saya rasa tidak perlu dibangun bioskop," ujarnya.
Soal Menag turut meminta umat Islam di Indonesia meniru negara Islam yang lebih maju terutama dalam merawat kerukunan antar umat beragama, Lem Faisal menilai kerukunan beragama sekarang ini di Aceh sangat baik.
Menurutnya, selama ini belum ada non-muslim yang terusik ketika tinggal di Aceh. Pelaksanaan syariat Islam yang berlaku di Aceh, imbuhnya, tidak bisa dianggap sebagai aturan yang menghalangi kerukunan.
"Orang non-muslim tidak terusik di Aceh, malah ada di antara mereka yang memilih untuk dihukum cambuk," tutur Lem Faisal.
Sebelumnya, Menteri Agama Fachrul Razi heran mengapa bioskop tidak diizinkan beroperasi di Aceh. Padahal, di negara Islam seperti Arab Saudi bioskop sudah diperbolehkan.
"Kemajuan negara Arab luar biasa dan kadang mengejutkan saya. Saya orang Aceh bioskop di Aceh dihabiskan, semua tidak boleh ada. Ternyata di Jeddah (Arab Saudi) ada bioskop dua, di Jeddah negara Islam, tempat Rasulullah dilahirkan, tempat nabi dilahirkan di sana ada bioskop," ujar Fachrul dalam sambutannya, di acara Hari Amal Bakti Kemenag RI ke-74 di Asrama Haji Medan, Sabtu (4/1).
Sementara itu, di Aceh, bioskop tidak boleh ada lantaran kehadirannya dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam.
"Saya tidak tahu yang mana yang betul, tapi boleh menjadi perhatian kita bersama. Mungkin ada sesuatu yang perlu kita benahi. Saya khawatir kalau tidak berbenah yang tadinya orang banyak mencontoh kita Islam di Indonesia, khawatirnya lama-lama berpaling," ujar Fachrul Razi.
