Konten Media Partner

Rencong dan Kisah Orang Aceh Gila Kala Perang Belanda (7)

ACEHKINIverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Kisah pemakaian rencong dalam pembunuhan Letnan Kolonel Scheepens pada 1913, dan Kapten Charles Emile Schmid pada 1933, membuktikan senjata itu tak terpisahkan dari masyarakat Aceh di masa perang. Rencong telah menjadi pakaian, sekaligus simbol identitas.

Rencong dan pedang sebagai senjata orang Aceh masa lalu. Dok. KITLV
zoom-in-whitePerbesar
Rencong dan pedang sebagai senjata orang Aceh masa lalu. Dok. KITLV

Gaya pembunuhan yang dilakukan secara sendiri-sendiri maupun kelompok kecil oleh warga Aceh terhadap orang Belanda dan Eropa yang disebut kaphe (kafir), marak terjadi sepanjang 1910 sampai 1937. Fenomena ini menarik perhatian Belanda, yang menyebutnya dengan istilah Atjeh Moorden atau ‘Pembunuhan Aceh’.

Karenanya, belakangan Belanda juga menjuluki orang Aceh dengan Gekke Atjehsche atau Aceh Gila atau Aceh Pungoe, merujuk pada penilaian sikap warga yang mampu menghunus rencong menyasar orang Belanda dan Eropa secara tiba-tiba. Bahkan sebagian dari mereka saling kenal dan hidup berdampingan.

kumparan post embed

Paul van’t Veer dalam De Atjeh-Oorlog (1969) mencatat, serangan seperti itu menjadikan Aceh sebagai ‘pembawa sial’ bagi orang-orang Belanda di seluruh kepulauan Nusantara. Pegawai pemerintah merasa amat takut jika memperoleh berita kepindahannya ke Aceh dan berusaha cepat-cepat mengirimkan istri dan anak-anaknya ke negeri Belanda, sebab di antara para korban serangan-serangan itu juga terdapat wanita dan anak-anak.

Tidak ada satu carapun bagaimana orang dapat memberikan perlawanan, sebab pembunuhan-pembunuhan itu dilakukan dalam semacam keadaan hilang ingatan oleh orang-orang Aceh, yang umpamanya menjadi pembatu dalam suatu rumah tangga dan biasanya bertahun-tahun lamanya hidup rukun dan damai dengan korban-korban mereka.

Antara tahun 1910 sampai 1920, terjadi 79 serangan pembunuhan ala Aceh dengan 99 orang korban, rinciannya 12 orang meninggal dan lainnya luka-luka. Sementara dari pihak penyerang atau warga Aceh, 49 orang dapat dibunuh. Pada tahun 1928 tercatat jumlah serangan menurun menjadi 10 lebih, selanjutnya pada 1933 terdapat 5 serangan, dan semakin berkurang di tahun 1937.

kumparan post embed
Ukiran nama Letnan Kolonel Scheepens di perkuburan Kerkhof Peucut, Banda Aceh. Scheepens mati ditikam rencong Uleebalang. Foto: Suparta/acehkini

Menyelidiki fenomena Atjeh Moorden, Pemerintah Belanda pada tahun 1920 dan 1921 menugaskan Direktur Rumah Sakit di Batavia, Dr FH vab Loon, datang ke Aceh memeriksa keadaan kesehatan jiwa dan raga orang Aceh. Penyelidikan juga dilakukan Penasihat Urusan Kebumiputeraan dab Arab, Dr. RA Kern, terkait latar belakang sosial para pembunuh Aceh.

Menurut penyelidikan Kern, pada umumnya pribadi korban tidak menjadi soal bagi pelaku, yang menjadi soal hanyalah agama dan bangsa (Belanda). Agama pun tidak menjadi hal pokok, akan tetapi pikiran untuk mati sebagai seorang syahid atau pahlawan agama adalah wujud gambaran yang ada di benaknya. Bosan hidup dan perasaan balas dendam karena diberi malu adalah sebab-sebab utama, dan secara umum karenan tekanan kejiwaan dengan kekalahan yang diderita dalam peperangan.

Rusdi Sufi dkk dalam Aceh Tanah Rencong (2008) mengambarkan pembunuhan ala Aceh itu ikut dipengaruhi oleh Hikayat Prang Sabi, yang mampu membangkitkan gelora siapa saja yang mendengarkannya untuk melawan kaphe (Belanda) yang membuat seluruh rakyat menderita. Dengan hanya bermodalkan sebilah rencong, orang Aceh menyerang orang-orang Belanda secara nekad, baik dilakukan secara berkelompok maupun perseorangan.

kumparan post embed

Hikayat Prang Sabi adalah sebuah karya sastra yang diciptakan Haji Muhammad atau Teungku Chik Pante Kulu pada 1881. Syair-syair di dalamnya berperan besar dalam membangkitkan semangat orang-orang Aceh untuk berjihad melawan Belanda.

“Para pemuda meletakkan langkah pertamanya di medan perang atas pengaruh yang sangat besar dari karya-sastra ini, menyentuh perasaan mereka yang mudah tersinggung… Karya sastra yang sangat berbahaya,” tulis HC Zentgraaff dalam Atjeh (1938). []