Konten Media Partner

Suka Duka Relawan Bersama Rohingya: Mengajar Pengungsi Sambil Menghibur (9)

ACEHKINIverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Dalam membantu para pengungsi Rohingya di kamp penampungan di Aceh, para relawan mendapat banyak pengalaman unik. Salah satunya Farida Hanum, relawan yang mengurus pendidikan pengungsi yang umumnya buta huruf.

Anak-anak pengungsi Rohingya belajar berhitung sambil bermain di BLK Lhokseumawe. Foto: Yayasan Geutanyoe
zoom-in-whitePerbesar
Anak-anak pengungsi Rohingya belajar berhitung sambil bermain di BLK Lhokseumawe. Foto: Yayasan Geutanyoe

Farida Hanum tidak malu-malu mengaku dirinya 'gila'. Relawan Yayasan Geutanyoe ini kerap harus berpikir di luar kebiasaan tatkala mendampingi pengungsi Rohingya yang terdampar di Aceh. Bergabung dalam lembaga kemanusiaan itu sejak Januari 2022, Farida berperan di bidang pendidikan.

Sehari-sehari Farida menjadi guru yang mengajari pengungsi Rohingya: khusus perempuan remaja dan dewasa. Ruang kelasnya adalah tempat penampungan sementara di Balai Latihan Kerja (BLK) Kandang, Kota Lhokseumawe, dan gedung serbaguna kantor camat Jangka, Kabupaten Bireuen.

kumparan post embed

Mengajari perempuan pengungsi Rohingya yang sebagian besar belum mengenal huruf bukanlah perkara mudah. Sebab dalam budaya Rohingya perempuan tidak boleh sekolah tinggi. "Karena itu, relawan yang menangani pengungsi Rohingya harus cerdas. Bukan orang biasa, tapi orang-orang 'gila'," kata Farida sambil tertawa lepas. "Itu tantangan."

Kehidupan pengungsi Rohingya saat ini bagi Farida mirip masyarakat Aceh tahun 1980-an. Ketika Farida baru mulai mengajar di BLK Kandang, pengungsi Rohingya telah beberapa pekan tinggal di sana. Sebelumnya belajar dan mengajar telah berlangsung sistematis, meski sesekali pengungsi menolak bergabung.

Pengungsi Rohingya di BLK Kandang yang Farida ajarkan adalah penumpang kapal kayu yang terombang-ambing di perairan Bireuen, akhir Desember 2021. Mereka diselamatkan dan didaratkan di Pelabuhan Krueng Geukueh, lalu dibawa ke BLK Kandang. Jumlahnya 105 orang, tapi hari ke hari kian berkurang karena sebagiannya kabur.

Menurut Farida, anak-anak pengungsi Rohingya cepat belajar dan adaptasi dengan orang asing dibanding perempuan dewasa dan remaja. "Budaya mereka, perempuan tidak boleh keluar," ujarnya. Sikap menutup diri dengan orang asing ini menjadi salah satu kendala bagi Farida.

Anak Rohingya belajar berdandan dan tarian Aceh. Foto: Yayasan Geutanyoe

Hambatan itu belakangan diatasi Farida dan teman-temannya dengan memahami bahwa perempuan Rohingya suka berdandan. Lantas ia mengajari membaca dan menghitung sambil mereka belajar dandan. Strategi itu membuat perempuan Rohingya tertarik.

Di lain hari, Farida yang dipanggil Sharama–sebutan guru di kalangan pengungsi Rohingya–menggunakan teknik lain saat mengajarkan bahasa Inggris dan Indonesia. Sambil membuat gelang dari manik-manik, ia mengucapkan kata dalam dua bahasa itu sambil menunjuk apa yang ia ucapkan. Misalnya, Farida menyebut head sembari meletakkan jari di kepala.

kumparan post embed

Bila pengungsi Rohingya bosan dan tidak mau belajar, Farida memutarkan film. Awalnya yang dipilih tidak menarik minat pengungsi. Alhasil, ia buka YouTube dan membiarkan para pengungsi Rohingya memilih sendiri. Biasanya yang ditonton film berbahasa Urdu.

Menerapkan strategi mengajar seperti itu rupanya diterima pengungsi. Namun Farida kadang-kadang dibuat sedih oleh apa yang ibu-ibu pengungsi Rohingya katakan saat menolak belajar. "Ibu-ibu itu bilang begini: saya tidak sanggup lagi berpikir, saya memikirkan bagaimana sebenarnya nasib kami ini," kata Farida.

Bukan saja di BLK Kandang, penolakan dari ibu-ibu pengungsi Rohingya juga diterima Farida saat mengajar di gedung serbaguna kantor camat Jangka, Kabupaten Bireuen. Pengungsi di sana berjumlah 114 orang yang terdampar di pantai Gampong Alue Buya Pasie, Jangka, 6 Maret 2022.

Di gedung itu, pengungsi perempuan dan laki-laki dipisah dengan tabir. Ketika Farida dan teman-temannya hendak mengajari ibu-ibu, yang antusias justru remaja laki-laki. "Asal kami datang, remaja laki-laki ini sudah berlari mendekati kami," tutur Farida.

Di antara sekian remaja laki-laki, Farida sangat dekat dengan Ismail (16 tahun). Sebelum terdampar di Aceh, kehidupan Ismail keras. Ia yatim saat umur 7 tahun karena sang ayah dibunuh. Ia bersama adik dan ibunya menempati kamp pengungsian di Bangladesh.

Ismail menyebut ibunya yang membiayai perjalanan ke Malaysia dari kamp pengungsian di Bangladesh. Harapannya, Ismail bisa mencari uang buat ongkos ibu dan adiknya kelak ikut ke Malaysia. "Perjalanan itu tidak sesuai rencana, Ismail terdampar ke Aceh."

kumparan post embed

Dia tidak sungkan berbicara apa saja dengan Farida, termasuk meminta gurunya itu jadi ibu angkat. "Saya tidak punya siapa pun di sini. Saya rindu mama. Kamu jadi mama saya boleh?" kata Ismail. "Oh boleh-boleh," jawab Farida. Hari-hari berikutnya, Ismail selalu memanggil Farida mother atau ibu. Yang lain tetap memanggil Farida kakak atau sharama (guru).

Menurut Farida, minat belajar Ismail tinggi. Dibanding pengungsi lain, ia termasuk orang yang mudah menyerap apa yang Farida ajarkan. Ismail jago menulis dengan bahasa Bangladesh. "Dia miskin. Anaknya pintar. Apa yang saya ajarkan hari ini, besok kita tanya dia masih ingat," tutur Farida.

Suatu hari Farida melihat anak angkatnya itu memasang wajah muram, beda dengan biasanya. Ternyata sebelum Farida datang ke sana, Ismail baru saja ditangkap karena kabur dari gedung serbaguna bersama sejumlah temannya. "Saya tanya ke dia, Ismail, you (kamu) kabur curi-curi go to (pergi ke) Malaysia? kemudian dia jawab: sorry mama, sorry, sorry" cerita Farida.

Para pengungsi di sana kemudian dipindahkan ke Pekanbaru pada 17-19 Mei 2022. Ismail menangis saat harus berpisah dengan ibu angkatnya. [bersambung]

Note: Sebagian materi tulisan telah dibukukan dengan judul ‘Aceh Muliakan Rohingya’ ditulis oleh jurnalis acehkini difasilitasi Yayasan Geutanyoe.