Konten Media Partner

Transmisi Lokal, Kasus Positif COVID-19 di Aceh Melonjak Tinggi dalam Sepekan

ACEHKINIverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh disemprot disinfektan untuk mencegah penyebaran virus corona, 20 Maret 2020. Foto: Suparta/acehkini
zoom-in-whitePerbesar
Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh disemprot disinfektan untuk mencegah penyebaran virus corona, 20 Maret 2020. Foto: Suparta/acehkini

Kasus positif COVID-19 di Aceh melonjak tinggi dalam sepekan terakhir. Empat perawat yang bertugas di Respiratory Intensive Care Unit (RICU) RSUDZA Banda Aceh ikut tertular virus corona.

Kasus baru positif terinfeksi virus corona pada Minggu (21/6) bertambah 10 orang, sehingga akumulasi kasus COVID-19 di Aceh menjadi 49 orang, dan sudah terjadi penularan lokal dari klaster baru di Aceh Besar.

Hal itu disampaikan Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Pemerintah Aceh, Saifullah Abdulgani (SAG). "Kasus-kasus baru tersebut hasil tracking (melacak) kontak dekat pasien COVID-19 berinisial Suk (63) yang meninggal dalam perawatan medis RICU RSUDZA Banda Aceh pada Rabu 17 Juni 2020," ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (21/6) malam.

kumparan post embed

SAG menjelaskan, sesuai prosedur pengendalian wabah penyakit menular, Tim Surveilans Epidemiologi Gugus Tugas COVID-19 Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar melacak setiap orang yang memiliki riwayat kontak dekat dengan penderita.

"Semua kontak dekat COVID-19 dianggap orang tanpa gejala dan harus diperiksa. Teknisnya tergantung situasi di lapangan dan Gugus Tugas COVID-19. Bisa dipanggil dan diperiksa, home visit, atau yang ada interaksi dengan penderita melapor kepada petugas kesehatan," sebutnya.

Ia menyebut, tim surveilans mengambil swab hidung dan tenggorokan keluarga serumah dengan almarhum Suk, yakni istri, anak, menantu, dan cucunya, yang tinggal di Aceh Besar. Perlakukan serupa dilakukan tim surveilans terhadap tim medis yang merawat dan menangani jenazah Suk di RSUDZA Banda Aceh.

Jubir Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Pemerintah Aceh, Saifullah Abdulgani (SAG). Foto: Suparta/acehkini

Berikutnya, kata SAG, spesimen swab nasofaring dan orofaring orang-orang yang kontak dekat dengan Suk yang diambil pada 17 Juni 2020, dikirim ke Laboratorium Balai Litbangkes Aceh, untuk diperiksa dengan sistem real time polymerase chain reaction (RT-PCR).

"Dari hasil pemeriksaan RT-PCR itu, yang diterima Gugus Tugas COVID-19 Aceh, menunjukkan 9 orang terkonfirmasi positif COVID-19," ujarnya.

Ia merincikan, keluarga Suk yang positif tertular virus corona masing-masing berinisial Na (66), LS (38), Sus (37), BA (12), AB (4). "Mereka semua tinggal di Aceh Besar saat temuan kasus, meski tidak semuanya warga Aceh Besar secara administratif kependudukannya," kata SAG.

kumparan post embed

Sementara tenaga medis RICU RSUDZA Banda Aceh yang merawat Suk dan terkonfirmasi positif COVID-19 sebanyak empat orang, sambung SAG, masing-masingnya berinisial DEM (29), Mus (32), HY (36), dan Hel (40). Keempat perawat tersebut bertugas di RICU atau Ruang Isolasi Pinere RSUDZA Banda Aceh, dan dicatat sebagai kasus baru COVID-19 Kota Banda Aceh.

SAG menambahkan, sedangkan satu orang lainnya yang juga terkonfirmasi positif COVID-19 pada hari ini ialah seorang laki-laki usia 54 tahun berinisial AR. Ia tinggal di dalam Kota Banda Aceh, namun secara administrasi kependudukan bukan warga Kota Banda Aceh.

"Jadi kasus COVID-19 terbaru tersebut, 5 orang dari Aceh Besar dan 5 orang lainnya dari Kota Banda Aceh," ujar SAG.

Petugas medis di Aceh mengambil sampel swab, Rabu (17/6). Foto: Suparta/acehkini

Lebih lanjut, SAG memberikan catatan atas temuan kasus baru tersebut. Menurutnya, melihat kronologis kasus-kasus terbaru ini perlu kesadaran semua warga untuk menunda perjalanan dan kunjung-mengunjungi—terutama dari dan ke zona merah pandemi COVID-19. Silaturahmi dapat dilakukan dengan bantuan teknologi informasi, baik dengan orangtua maupun dengan kaum kerabat.

SAG juga menuturkan, penularan lokal sudah terjadi di Aceh, baik penularan lokal di klaster Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, maupun di klaster baru, Pagar Air, Kabupaten Aceh Besar.

"Masyarakat di dalam dan di lingkungan klaster tersebut tidak perlu panik. Kepanikan kian menambah persoalan. Yang dituntut kewaspadaan dan kepedulian sesama," sebutnya.

"Kita lebih waspada menjaga diri dan keluarga. Menunda saling berkunjung secara fisik. Hal ini diperlukan kesadaran semua pihak demi saling menjaga diri dan melindungi antarsesama," sambung SAG.

kumparan post embed

Update Corona di Aceh

SAG merilis prevalensi kasus COVID-19 di Aceh berdasarkan laporan Gugus Tugas COVID-19 kabupaten/kota, per Minggu (21/6/2020) pukul 15.00 WIB. Ia menyampaikan bahwa jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) di seluruh Aceh hari ini sebanyak 2.230 orang.

"Tidak ada penambahan ODP baru hari ini. ODP yang masih dalam pemantauan Gugus Tugas COVID-19 kabupaten/kota sebanyak 121 orang. Sedangkan 2.109 lainnya sudah selesai menjalani proses pemantauan atau isolasi secara mandiri," ujarnya.

Update COVID-19 di Aceh per Minggu (21/6/2020) pukul 15.00 WIB di laman Dinas Kesehatan.

Sementara jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP), kata SAG, sebanyak 116 kasus. Dengan rincian, PDP yang masih dirawat di rumah sakit rujukan saat ini hanya 2 orang, sisanya sebanyak 113 orang sudah sembuh dan 1 PDP meninggal dunia pada 25 Maret 2020.

Sedangkan kasus positif COVID-19 di Aceh hingga saat ini, kata SAG, dengan bertambah 10 kasus baru pada hari ini secara akumulasi menjadi 49 kasus. Ia merincikan, pasien positif terinfeksi virus corona yang masih dirawat sebanyak 27 orang, 20 orang sudah sembuh, dan 2 orang meninggal dunia.

"Pasien positif COVID-19 yang meninggal 2 orang tersebut, pasien yang meninggal pada 23 Maret 2020, dan yang meninggal 27 Juni di RSUDZA Banda Aceh," kata SAG.