Konten Media Partner

Yayasan Geutanyoe Gelar Festival Kebudayaan Peringati Hari Pengungsi

ACEHKINIverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Peringatan Hari Pengungsi Sedunia di Medan. Foto: Yayasan Geutanyoe
zoom-in-whitePerbesar
Peringatan Hari Pengungsi Sedunia di Medan. Foto: Yayasan Geutanyoe

Yayasan Geutanyoe bersama Pemerintah Kota Medan, Sumatera Utara, menggelar festival kebudayaan untuk memperingati hari Pengungsi Sedunia atau World Refugee Day (WRD) di Taman Sri Deli, Medan, Senin (20/6/2022). Kegiatan mulai digelar sejak Sabtu lalu.

Peringatan ikut dihadiri oleh Wakil Wali Kota Medan, Aulia Rachman, perwakilan IOM, perwakilan UNHCR serta Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) dan pegiat-pegiat seni. Festival kebudayaan dirangkai dengan pentas seni dan teater, ikut melibatkan para pengungsi Rohingya di Medan.

“Kami dari Yayasan Geutanyoe mengucapkan selamat memperingati hari World Refugee Day, yang jatuh pada hari ini, 20 Juni 2022. Peringatan untuk menunjukaan rasa hormat pada mereka yang berstatus sebagai pengungsi,” kata Nasruddin, Manager Program Yayasan Geutanyoe.

kumparan post embed

Menurutnya, mengacu pada tema tahun ini, “Whoever, Whatever, Whenever. Everyone has the right to seek safety” ('Siapapun, Apapun, Kapanpun. Setiap orang berhak untuk mencari keselamatan'), Yayasan Geutanyoe ingin menegaskan kembali bahwa memberikan perlindungan dan pelayanan bagi perwujudan pemenuhan hak-hak pengungsi adalah tanggung jawab bersama. “Jika pun tidak secara hukum, kita semua setidaknya memiliki panggilan moral kemanusiaan untuk bersama-sama menunjukkan kepedulian atas upaya pemenuhan hak-hak pengungsi, entah dari latar bangsa apa dan agama manapun mereka berasal,” katanya.

Pada intinya adalah, pemenuhan terhadap hak-hak pengungsi tidak hanya menjadi tanggung jawab badan-badan khusus PBB yang ditunjuk untuk itu, dan Lembaga-lembaga masyarakat sipil (OMS) di tingkat internasional dan tanah air yang bekerja pada isu tersebut, melainkan juga menjadi bagian dari tanggung jawab pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah. “Tanggung jawab itu tentunya juga tidak terkecuali bagi masyarakat tuan rumah, seperti halnya di Aceh, yang kerap menerima kehadiran pengungsi di tempat mereka,” jelas Nasruddin.

Wakil Wali Kota Medan, Aulia Rachman (tengah) bersama tim dari Yayasan Geutanyoe dan perwakilan NGO.

Walaupun belum menjadi bagian dari negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang ikut meratifikasi Konvensi Pengungsi 1951, namun Indonesia setidaknya telah meratifikasi Konvensi Hak Asasi Manusia (HAM) yang juga menjadi dasar bagi tanggung jawab kita dalam pemenuhan hak-hak pengungsi. Oleh karena itu, sudah saatnya mendorong komitmen yang lebih kuat untuk aksi kemanusiaan bagi pemenuhan hak-hak pengungsi ke depan dapat berjalan secara lebih terencana dan sinergis satu sama lain melalui regulasi-regulasi yang relevan dalam mengatur hal itu.

Nasruddin menyebutkan, khususnya di Aceh, bagian dari Indonesia yang selama kerap menerima kedatangan pengungsi Rohingya yang terdampar ketika melintasi perairan Selat Malaka, ketersediaan suatu regulasi di tingkat Pemerintahan Provinsi dalam bentuk Qanun Aceh telah menjadi sesuatu kebutuhan yang bersifat segera. Hal tersebut demi upaya-upaya respon kemanusiaan dalam memberikan pelayanan terhadap pengungsi internasional oleh berbagai pihak dapat lebih terkoordinasi dan maksimal.

“Pada kesempatan Hari Pengungsi Sedunia hari ini, kami dari Yayasan Geutanyoe juga menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang setingginya kepada berbagai pihak yang selama ini telah ikut andil untuk peduli dalam aksi-aksi kemanusiaan terhadap para pengungsi, terutama etnis Rohingya yang sering terdampar di Aceh karena mengalami kondisi darurat,” kata Nasruddin.

kumparan post embed

Saat memberikan sambutannya, Wakil Wali Kota Medan, Aulia Rachman, mengatakan melalui peringatan WRD 2022 ini, Pemerintah Kota Medan berharap beberapa stakeholder yang terlibat dalam penanganan pengungsi ini, harus mencari solusi terhadap mereka.

"Setidaknya, satu hal yang harus disampaikan sama-sama, kita resapi sama-sama, mengungsi ini bukan mau mereka. Tapi mereka terpaksa kerana berada di dalam wilayah konflik," katanya. []