Bahaya Makan Beralaskan Tanah Terhadap Kesehatan

Beberapa waktu lalu, salah satu foto kegiatan Pramuka di Kronjo Tangerang yakni makan bersama di atas tanah tanpa alas, viral di sosial media dan menuai kritik dari netizen. Para pimpinan Gerakan Pramuka pun ikut mengecam kegiatan tersebut.
Salah satu yang mengkritik kegiatan tersebut adalah Adhyaksa Dault yang kini menjabat sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Indonesia. Adhyaksa mengkritik kegiatan tersebut dengan cara mengunggah sebuah foto sekitar pukul 11.00 WIB, Sabtu (25/3) di akun Instagram resminya (@adhyaksadault). Foto tersebut memperlihatkan bagaimana sekelompok pelajar berseragam Pramuka tengah makan bersama-sama.
Baca: Foto: Pramuka Makan Ramai-ramai Beralaskan Daun Pisang
Adhyaksa merasa miris ketika nasi dan lauk yang dimakan para anggota Pramuka tersebut diletakkan begitu saja di atas tanah dan rerumputan, tanpa menggunakan alas apapun. Dalam foto yang diunggahnya, tergambar kegiatan makan bersama ini menggunakan alas terpal yang masih dilapisi lagi dengan daun pisang. Dalam keterangan fotonya, Adhyaksa menyatakan bahwa prosesi makan tersebut bukanlah bagian dari pendidikan dan pembinaan di Gerakan Pramuka.
Selain tidak sesuai dengan nilai pendidikan dan pembinaan di Gerakan Pramuka Indonesia. Hal ini pun tentunya tidak baik bagi kesehatan anak-anak tersebut.
kumparan (kumparan.com) mencoba menghubungi dr. Desi Natalia, seorang spesialis patologi klinik, untuk mencari tahu dampak yang bisa ditimbulkan akibat kegiatan makan beralaskan tanah ini.
dr. Desi mengatakan bahwa tanah sebenarnya merupakan penyeimbang ekosistem, tanah memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Namun, tanah juga bisa menjadi perantara penyakit yang sering disebut soil-borne diseases.
"Tanah itu tempat hidup berbagai organisme termasuk mikroba dan kebanyakan mikroba tersebut bersifat patogen," kata dia.
dr. Desi menambahkan, patogen sendiri memiliki arti bisa menyebabkan sakit. Mikroba yang memiliki sifat ini antara lain protozoa, jamur, bakteri, bahkan virus.
"Ada beberapa mikroba yang butuh host atau induk untuk berkembang biak dan hidup. Selain hewan, mikroba tersebut juga bisa hidup di dalam tubuh manusia. Contohnya seperti Spora Clostridium tetani, mikroba ini menyerang bayi baru lahir dan dapat menyebabkan tetanus neonatorum," jelas Dr. Desi.
Sedangkan jika makan berlasakan tanah yang tercemar bakteri Clostridium botulinum, maka hal ini bisa menyebabkan diare. Gejala yang ditimbulkan pada anak-anak beragam, mulai dari muntah hingga penurunan kesadaran.
dr. Desi pun memberikan langkah-langkah penangganan jika gejala tersebut terjadi.
"Tentunya si anak pasti menunjukan suatu gejala tertentu, kalau sudah ada gejala seperti demam, diare terus menerus, muntah, harus segera dilarikan ke dokter atau puskesmas. Tapi apabila memang tidak ada gejala-gejala seperti itu, ada kemungkinan si anak mempunyai daya tahan tubuh yang kuat. Untuk pencegahannya bisa memperbanyak minum air putih untuk menetralisir," ungkapnya.

Sebagai seorang ahli kesehatan, dr. Desi tidak mempermasalahkan makan di kegiatan outdoor. Namun demikian, dr. Desi tetap menekankan jika makan di outdoor harus diberi alas dan cuci tangan.
"Pakai tangan tidak masalah, tapi tangan dibilas dulu dengan air atau tisu basah. Diusahakan lebih baik pakai air mengalir," kata dia.
Selain itu, dr. Desi menjelaskan, jika memang tidak ada alas lain, kita bisa menggunakan alternatif lain seperti menggunakan daun pisang. Namun, perlu diperhatikan kembali kebersihannya, karena mikroba bisa saja menempel di daun.
"Sebaiknya menggunakan alas daun bisa menjadi alternatif, tapi dengan tetap perhatikan kebersihannya. Karena bisa saja mikroba tertiup angin dan menempel di daun dan ada juga yang memang dari awal sudah ada di daun," jelas dr. Desi.
Nah, berkegiatan di luar memang bagus, namun ada baiknya kita tetap memperhatikan aspek-aspek kebersihannya agar kita tetap sehat dan mendapatkan manfaat dari kegiatan yang kita lakukan.
Baca juga: Heboh Pramuka Makan Nasi Beralaskan Tanah
