Konten dari Pengguna

Belajar di Alam, Mengapa Anak Justru Bisa Kehilangan Fokus?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ika Dewi Sumiati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan seorang guru mengajak murid-muridnya belajar Biologi di taman sekolah. Hari itu, mereka diminta membandingkan bentuk daun dan mengenali ciri tumbuhan di sekitar. Belajar di taman semula tampak menjanjikan pengalaman yang menyenangkan: anak-anak bisa melihat tumbuhan secara langsung, bukan hanya melalui gambar di buku. Namun, beberapa menit kemudian, perhatian mereka mulai berpindah. Ada yang mengikuti kupu-kupu, mengamati semut, mendengarkan kicauan burung, bahkan memotret bunga yang tidak berkaitan dengan tugas. Guru pun harus berkali-kali mengajak mereka kembali pada pengamatan daun.

Situasi ini mungkin akrab bagi guru yang pernah mengajak siswa belajar di luar kelas. Alam menghadirkan warna, suara, gerakan, dan aneka bentuk kehidupan yang mengundang rasa ingin tahu. Akan tetapi, apakah lingkungan yang kaya rangsangan selalu membuat anak lebih mudah belajar, atau justru membuat perhatiannya terpecah?

Belajar di Alam, Mengapa Anak Justru Bisa Kehilangan Fokus?
zoom-in-whitePerbesar

Untuk memahami jawabannya, kita perlu melihat cara otak memilih informasi yang patut diperhatikan.

Ketika Otak Harus Memilih Apa yang Perlu Diperhatikan

Saat berada di taman, mata menangkap warna dan gerakan, telinga mendengar suara, sementara tubuh merasakan suhu dan hembusan angin. Semua informasi itu datang hampir bersamaan. Namun, otak tidak dapat mengolah semuanya secara mendalam pada saat yang sama. Ada informasi yang dipilih, ada pula yang dibiarkan berlalu.

Kemampuan memilih dan memusatkan perhatian ini disebut atensi. Sederhananya, perhatian bekerja melalui dua cara yang saling membantu. Pertama, kita sengaja mengarahkannya pada tujuan, seperti ketika siswa mengamati bentuk daun sesuai instruksi guru. Kedua, perhatian dapat tertarik secara spontan oleh kejadian yang penting atau tidak terduga, misalnya kupu-kupu yang tiba-tiba melintas.

Dalam kajian literatur tentang neurosains, kedua cara tersebut berkaitan dengan jaringan perhatian di otak. Jaringan yang disebut dorsal membantu mengarahkan perhatian sesuai tujuan, sedangkan jaringan ventral berperan ketika sesuatu yang relevan atau tidak terduga meminta perhatian kita beralih. Keduanya bekerja sama; bukan dua tombol yang bisa dinyalakan dan dimatikan sesuka hati.

Itulah sebabnya siswa bisa bersungguh-sungguh mengerjakan tugas, tetapi tetap menoleh ketika sesuatu bergerak di dekatnya. Perhatian yang berpindah sesaat tidak serta-merta menunjukkan bahwa belajar di alam menurunkan kemampuan konsentrasi anak, apalagi bahwa anak malas atau tidak berminat. Otak dapat merespons rangsangan yang menonjol, meskipun rangsangan itu tidak selalu relevan dengan tujuan pembelajaran.

Mengapa Alam Bisa Menenangkan Sekaligus Mengganggu Perhatian?

Pemandangan pepohonan atau suara air sering membuat suasana terasa lebih tenang. Dalam kondisi tertentu, menikmati lingkungan alami juga berpotensi membantu memulihkan perhatian yang lelah. Namun, menikmati taman berbeda dengan menyelesaikan tugas ilmiah di taman.

Ketika siswa harus mengamati tumbuhan, mengingat instruksi, menggunakan alat, mencatat data, dan membandingkan hasil, otak perlu mengatur beberapa kegiatan sekaligus. Di sinilah memori kerja dan fungsi eksekutif berperan. Memori kerja membantu menyimpan serta mengolah informasi untuk sementara, sedangkan fungsi eksekutif membantu mengendalikan perhatian, menahan dorongan yang tidak relevan, dan mengatur tindakan sesuai tujuan.

Dalam kajian literasi neurosains, bagian depan otak, terutama korteks prefrontal, ikut mendukung pengendalian tersebut bersama jaringan otak lainnya. Bayangkan siswa yang membaca petunjuk di telepon genggam sambil membandingkan tiga tumbuhan, menjawab pertanyaan teman, dan menuliskan data. Perhatian harus berpindah berkali-kali. Jika terlalu banyak tugas ditangani sekaligus, kemampuan mental yang tersedia untuk memahami konsep dapat berkurang.

Inilah yang disebut beban kognitif: tuntutan pengolahan informasi selama belajar. Alam membuat fenomena lebih nyata, tetapi kegiatan di dalamnya juga dapat menjadi rumit. Karena itu, pembelajaran luar ruang tidak otomatis lebih mudah bagi otak dibandingkan pembelajaran di kelas. Dalam kajian neurosains dijelaskan bahwa beban kognitif adalah jumlah total kapasitas atau sumber daya mental (seperti perhatian dan memori kerja) yang digunakan seseorang saat menyelesaikan suatu tugas atau mempelajari informasi baru.

Rasa Ingin Tahu: Gangguan atau Awal Pembelajaran?

Meski begitu, tidak setiap perhatian yang beralih perlu dianggap sebagai gangguan. Kupu-kupu yang hinggap pada bunga dapat memunculkan pertanyaan baru: mengapa serangga itu mendatangi bunga tertentu? Apa yang mungkin terjadi jika tidak ada serangga penyerbuk? Ketertarikan spontan dapat menjadi awal penyelidikan ilmiah.

Rasa ingin tahu juga berhubungan dengan cara informasi dipelajari dan diingat. Kajian neurosains menunjukkan bahwa ketika seseorang benar-benar ingin mengetahui jawaban, sistem yang berkaitan dengan motivasi dapat berinteraksi dengan hipokampus, bagian otak yang berperan penting dalam pembentukan memori. Perhatian pada informasi yang dicari pun berpeluang meningkat, sehingga informasi itu lebih mudah dipelajari dan diingat.

Namun, rasa ingin tahu saja tidak cukup. Seorang anak dapat terpukau melihat serangga tanpa memahami perannya dalam ekosistem. Ketertarikan itu perlu dilanjutkan dengan pengamatan, pertanyaan, bukti, dan penjelasan. Hubungan antara rasa ingin tahu, sistem motivasional, dan hipokampus dijelaskan oleh literatur neurosains, bukan oleh pengukuran aktivitas otak siswa saat belajar di taman. Perubahan perhatian atau hasil belajar yang terlihat tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa bagian otak tertentu menjadi lebih aktif.

Guru memegang peran penting untuk menentukan kapan ketertarikan spontan dapat dimasukkan ke dalam pelajaran dan kapan siswa perlu kembali pada fokus semula. Jika pengamatan kupu-kupu berkaitan dengan topik penyerbukan, guru bisa memanfaatkannya. Jika tujuan saat itu membandingkan bentuk daun, pertanyaan tentang kupu-kupu bisa dicatat untuk dibahas setelah tugas utama selesai.

Membantu Anak Fokus Tanpa Menghilangkan Keajaiban Alam

Membawa anak ke luar kelas bukan berarti membiarkan mereka menjelajah tanpa arah. Pengalaman nyata akan lebih bermakna jika guru memberi tujuan yang jelas, tetapi tetap menyediakan ruang untuk bertanya dan menemukan sesuatu yang tidak terduga.

Alih-alih meminta siswa “mengamati semua tumbuhan”, guru dapat mengajukan pertanyaan yang lebih terarah: “Apa perbedaan bentuk daun tumbuhan yang tumbuh di tempat teduh dan tempat terbuka?” Dengan pertanyaan seperti itu, anak memiliki petunjuk tentang informasi yang perlu dicari. Perhatian pun tidak hanya tertarik pada hal yang mencolok, tetapi mulai diarahkan pada ciri yang penting untuk dipelajari.

Kegiatan juga dapat dibagi menjadi beberapa tahap. Siswa mengamati lebih dulu, lalu mencatat hasil, dan setelah itu mendiskusikan penjelasannya. Pengenalan alat sebelum kegiatan serta lembar pengamatan yang sederhana dapat membantu mengurangi tuntutan yang tidak perlu. Tujuannya bukan membuat tugas menjadi terlalu mudah, melainkan memberi cukup ruang bagi siswa untuk berpikir.

Teknologi pun sebaiknya digunakan seperlunya. Aplikasi identifikasi tumbuhan dapat membantu mengenali ciri organisme, tetapi jangan sampai siswa lebih sibuk melihat layar daripada memeriksa tumbuhan di hadapannya. Setelah kegiatan, mintalah siswa menceritakan kembali temuan mereka dan menjelaskan kaitannya dengan konsep Biologi. Dengan begitu, pengalaman lapangan tidak berhenti sebagai kegiatan yang seru, melainkan berkembang menjadi pemahaman.

Alam Menyediakan Rangsangan, Pembelajaran Memberikan Arah

Pembelajaran luar ruang tidak harus membuat anak mengabaikan semua hal yang menarik di sekitarnya. Tantangan utamanya ialah membantu anak memilih informasi yang relevan, mengelola tuntutan memori kerja, dan menggunakan rasa ingin tahu sebagai titik awal penyelidikan. Guru dapat mengarahkan perhatian tanpa mematikan kesempatan siswa menemukan fenomena yang tak terduga.

Alam menyediakan banyak hal untuk diamati, tetapi tidak semuanya otomatis menjadi pengetahuan. Pembelajaran yang baik membantu anak mengubah ketertarikan menjadi pertanyaan, pengamatan menjadi bukti, dan pengalaman menjadi pemahaman. Kekuatan belajar di alam pada akhirnya bukan terletak pada seberapa banyak hal yang menarik perhatian, melainkan pada bagaimana anak memaknai apa yang ditemukannya.

Artikel populer ini dikembangkan dari hasil kajian systematic literature review (SLR) berjudul “Pembelajaran IPA dan Biologi di Alam melalui Lensa Neurosains: Tinjauan Sistematis tentang Atensi, Memori, Beban Kognitif, Keterlibatan, dan Pemahaman Konseptual” oleh Ika Dewi Sumiati, S.Pd., M.Pd., dan Yogi Valfa, S.Pd., M.Pd. Artikel ini disusun untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Neurosains pada Program Pendidikan Doktoral Pendidikan Biologi, Universitas Negeri Malang dengan Dosen Pengampu Hendra Susanto, S.Pd, M.Kes. Ph.D; Fauzi Akhbar Anugrah, S.Si., M.Si, Ph.D; dan Bagus Priambodo, S.Si., M.Si., M.Sc., Ph.D.

.