Konten dari Pengguna

Siapakah Sosok yang Gerahamnya Sebesar Gunung Uhud? Kegelisahan Abu Hurairah

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari rd taupik tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dari kisah Ar-Rajjāl bin ‘Unfuwah hingga fenomena pembela kebatilan hari ini, sebuah renungan tentang pengkhianatan terhadap kebenaran, manipulasi agama, dan bahaya fanatisme.

Ilustrasi kitab Ibnu Katsir : Sumber : Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kitab Ibnu Katsir : Sumber : Pexels.com

Gunung Uhud berdiri kokoh di Madinah. Gunung ini menjadi saksi sejarah perjuangan kaum Muslimin. Namun, dalam sebuah riwayat sejarah yang dicatat oleh Ibnu Katsir, nama Gunung Uhud hadir dalam gambaran yang menggetarkan: geraham seorang manusia di neraka disebut lebih besar daripada Gunung Uhud.

Siapakah sosok yang dimaksud?

Namanya Ar-Rajjāl bin ‘Unfuwah. Ia dikenal dalam sejarah Islam karena pernah mengenal Islam, tetapi kemudian berbalik mendukung seorang pendusta yang mengaku sebagai nabi, yaitu Musailimah al-Kadzdzab.

Dalam kisah yang dinukil Ibnu Katsir, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dikisahkan pernah diliputi kegelisahan setelah mendengar sabda Nabi Muhammad ﷺ tentang seorang laki-laki yang gerahamnya di neraka lebih besar daripada Gunung Uhud.

Seiring berjalannya waktu, orang-orang yang dahulu berada dalam majelis tersebut meninggal dunia. Menurut kisah itu, tersisalah Abu Hurairah dan Ar-Rajjāl. Siapakah gerangan laki-laki yang dimaksud oleh sabda tersebut?

Kisah itu kemudian menghubungkan nama Ar-Rajjāl dengan salah satu peristiwa besar dalam sejarah Islam: kemunculan Musailimah al-Kadzdzab dan fitnah pengakuan kenabiannya.

Akan tetapi, ada catatan ilmiah yang tidak boleh diabaikan. Riwayat tentang geraham sebesar Gunung Uhud ini dicantumkan Ibnu Katsir melalui jalur Saif bin Umar, dari Thalhah, dari Ikrimah, dari Abu Hurairah. Jalur tersebut bermasalah dan tidak dapat begitu saja dinyatakan sahih. Karena itu, kisah ini perlu disampaikan sebagai riwayat sejarah yang memerlukan kehati-hatian, bukan sebagai hadis sahih yang telah dipastikan kebenarannya.

Meski demikian, kisah Ar-Rajjāl membuka ruang perenungan tentang persoalan yang relevan hingga hari ini: bagaimana seseorang yang pernah mengenal kebenaran justru dapat menjadi pembela kebatilan?

Dari Mengenal Islam hingga Mendukung Nabi Palsu

Menurut catatan Ibnu Katsir dalam kitab Al-Bidāyah wa an-Nihāyah, Ar-Rajjāl pernah datang kepada Nabi Muhammad ﷺ dan mempelajari Surah Al-Baqarah. Pada masa pemerintahan Abu Bakar ash-Shiddiq, ia bahkan diutus untuk menyeru penduduk Yamamah kepada Allah dan menguatkan mereka agar tetap berada di atas Islam.

Namun, perjalanan hidupnya berbelok tajam. Ia kemudian murtad dan bergabung dengan Musailimah al-Kadzdzab. Lebih dari itu, ia memberikan kesaksian yang mendukung pengakuan Musailimah sebagai nabi.

Dalam narasi Ibnu Katsir, pengaruh Ar-Rajjāl menjadi persoalan serius karena kesaksiannya membantu meyakinkan orang-orang untuk mengikuti Musailimah. Ia bukan hanya berada di barisan yang salah, tetapi juga ikut menguatkan klaim yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Di sinilah letak pelajaran pentingnya.

Kebatilan tidak selalu tumbuh karena pelakunya memiliki kemampuan luar biasa. Terkadang, kebatilan memperoleh kekuatan karena ada orang lain yang memberikan dukungan, kepercayaan, dan legitimasi kepadanya.

Sebuah kebohongan yang disampaikan oleh orang yang tidak dipercaya mungkin mudah ditolak. Namun, kebohongan yang dibenarkan oleh seseorang yang dikenal, dihormati, dan dipercaya dapat lebih mudah diterima.

Ketika orang yang memiliki pengaruh bersaksi untuk sesuatu yang salah, dampaknya bisa melampaui kesalahan pribadinya. Orang lain mungkin mengikuti bukan karena telah memeriksa kebenaran klaim tersebut, melainkan karena mereka mempercayai orang yang menyampaikannya.

Inilah salah satu bahaya terbesar ketika pengetahuan, kedudukan, dan pengaruh tidak lagi digunakan untuk menjaga kebenaran.

Seseorang bisa mengetahui banyak hal, tetapi pengetahuan itu tidak otomatis membuatnya jujur. Seseorang bisa pernah berada dalam lingkungan yang baik, tetapi masa lalunya tidak menjamin bahwa seluruh pilihannya kelak akan benar.

Kebenaran tidak diukur hanya dari siapa yang mengucapkannya. Kebenaran harus diuji melalui bukti dan pertanggungjawaban.

Mengapa Pembela Kebatilan Terkadang Lebih Berbahaya daripada Pelakunya?

Bayangkan seseorang menyebarkan sebuah kebohongan. Masyarakat mungkin meragukannya karena mengetahui rekam jejak orang tersebut.

Namun, bagaimana jika kebohongan yang sama dibenarkan oleh seseorang yang dihormati, memiliki gelar, dikenal berilmu, atau mempunyai jutaan pengikut?

Sebagian orang mungkin mulai mempercayainya. Bukan karena bukti baru telah ditemukan, melainkan karena sosok yang mereka percaya telah memberikan dukungan.

Di sinilah pembela kebatilan memainkan peran yang berbahaya. Ia dapat mengubah sesuatu yang meragukan menjadi tampak meyakinkan, sesuatu yang salah menjadi seolah-olah benar, dan sebuah klaim tanpa bukti menjadi sesuatu yang dipertahankan atas nama kehormatan kelompok.

Al-Qur’an memberikan peringatan dalam Surah Al-Baqarah ayat 42:

“Janganlah kamu mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan janganlah kamu menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya.”

Mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan merupakan persoalan serius. Sebab, kebohongan yang disajikan bersama sebagian kebenaran dapat lebih sulit dikenali daripada kebohongan yang terang-terangan.

Dalam kehidupan sehari-hari, hal itu bisa terjadi ketika seseorang mengutip dalil tanpa konteks, menyampaikan informasi secara selektif, menyembunyikan fakta yang tidak menguntungkan kelompoknya, atau menggunakan bahasa agama untuk membenarkan tindakan yang tidak adil.

Tentu, tidak setiap kesalahan pendapat berarti seseorang sengaja membela kebatilan. Ada kekeliruan yang lahir dari ketidaktahuan, perbedaan penafsiran yang dapat dipertanggungjawabkan, dan kesalahan yang dilakukan tanpa sengaja. Semua itu harus dibedakan dari tindakan sadar untuk menipu atau memutarbalikkan fakta.

Namun, ketika seseorang mengetahui kebenaran suatu perkara lalu sengaja menyembunyikannya demi kepentingan pribadi atau kelompok, persoalannya bukan lagi sekadar perbedaan pendapat. Ia telah berhadapan dengan masalah kejujuran dan amanah.

Indonesia Hari Ini: Ketika Fanatisme Mengalahkan Kebenaran

Lalu, adakah pembela kebatilan di Indonesia hari ini?

Jika yang dimaksud adalah orang yang membela kebohongan, memanipulasi informasi, atau mempertahankan klaim yang telah terbukti salah demi kepentingan tertentu, perilaku semacam itu dapat muncul di berbagai ruang kehidupan. Ia tidak terbatas pada satu partai, organisasi, kelompok agama, atau golongan masyarakat.

Di ruang politik, misalnya, seseorang bisa menolak mengakui kesalahan tokoh yang didukungnya, tetapi dengan mudah mengkritik kesalahan serupa ketika dilakukan lawannya.

Di media sosial, seseorang dapat menyebarkan tuduhan tanpa memeriksa bukti karena informasi itu sesuai dengan prasangkanya.

Di lingkungan keagamaan, seseorang bisa tergoda untuk membenarkan semua perkataan figur yang dikaguminya tanpa memeriksa dalil dan argumentasinya.

Semua contoh tersebut merupakan pola perilaku yang perlu dikritik apabila terbukti terjadi. Namun, kita tidak boleh menjadikannya alasan untuk menuduh individu tertentu sebagai Ar-Rajjāl zaman sekarang tanpa bukti yang kuat.

Persoalannya bukan mencari siapa yang pantas diberi label, melainkan mengenali bagaimana kebatilan memperoleh pembela.

Perkembangan teknologi juga memperbesar tantangan tersebut. Informasi palsu dapat dibuat menyerupai kenyataan melalui manipulasi gambar, video, dan suara. Ketika informasi semacam itu disebarkan tanpa pemeriksaan, masyarakat dapat terjebak dalam kesimpulan yang keliru.

Teknologi bukan satu-satunya persoalan. Manipulasi akan semakin berbahaya ketika ada orang yang dengan sengaja menyebarkan, membenarkan, atau mempertahankannya meskipun bukti menunjukkan sebaliknya.

Di sinilah masyarakat perlu membangun kebiasaan memeriksa sumber, memahami konteks, dan menilai argumen secara adil.

Popularitas bukan bukti kebenaran. Banyaknya pengikut bukan jaminan ketepatan. Kedekatan dengan tokoh yang dihormati juga bukan alasan untuk menangguhkan sikap kritis.

Seseorang yang benar-benar mencintai kebenaran harus bersedia mengoreksi pihaknya sendiri ketika terbukti salah.

Ketika Agama Digunakan untuk Membenarkan Kepentingan

Bahaya pembela kebatilan menjadi semakin serius ketika agama dijadikan alat untuk memperoleh kepercayaan masyarakat.

Agama seharusnya membimbing manusia agar berlaku jujur dan adil. Namun, simbol agama, kutipan ayat, dan istilah keagamaan dapat disalahgunakan untuk menutupi kepentingan pribadi atau kelompok.

Karena itu, kita perlu membedakan antara dakwah yang mengajak kepada kebenaran dan penggunaan agama untuk membungkus kepentingan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Tidak semua orang yang berbeda pendapat dalam persoalan agama sedang menyimpang. Perbedaan penafsiran dan ijtihad memiliki kaidah ilmiahnya sendiri. Yang patut dikritik adalah tindakan memalsukan dalil, sengaja menyembunyikan fakta yang menentukan, atau memanipulasi ajaran untuk membenarkan tindakan yang diketahui keliru.

Allah berfirman dalam Surah An-Nisa’ ayat 135:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan dan saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri.”

Ayat ini menuntut kejujuran yang tidak mudah: berani mengakui kebenaran sekalipun kebenaran itu merugikan diri sendiri, keluarga, tokoh yang dikagumi, atau kelompok yang selama ini dibela.

Membela orang yang kita cintai ketika ia benar adalah sikap yang wajar. Namun, membenarkan kesalahannya hanya karena kita mencintainya merupakan persoalan berbeda.

Kesetiaan kepada seseorang tidak boleh menghapus kesetiaan kepada kebenaran.

Media Sosial dan Ujian Menjadi Pembela Kebenaran

Pada masa lalu, sebuah kabar mungkin membutuhkan waktu lama untuk menjangkau masyarakat luas. Kini, sebuah unggahan dapat tersebar dalam hitungan menit. Potongan video, judul provokatif, atau tuduhan tanpa bukti dapat membentuk opini sebelum orang mengetahui duduk persoalannya.

Dalam keadaan seperti ini, seseorang tidak harus menjadi pencipta kebohongan untuk ikut memperbesar dampaknya. Ia bisa menjadi bagian dari penyebaran kebohongan ketika membagikan informasi yang belum diperiksa, menambahkan narasi yang menyesatkan, atau tetap mempertahankannya setelah mengetahui bahwa informasi tersebut keliru.

Allah berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 6 agar orang-orang beriman memeriksa kebenaran berita yang datang kepada mereka.

Prinsip tabayun ini sangat relevan dengan kehidupan digital. Jangan menjadikan jari sebagai alat untuk menyebarkan fitnah. Jangan menjadikan kemarahan sebagai pengganti pemeriksaan fakta. Jangan pula menganggap bahwa sebuah informasi pasti benar hanya karena dibagikan oleh orang yang kita percaya.

Sebelum membagikan berita, periksa sumbernya. Sebelum menuduh seseorang, periksa bukti-buktinya. Sebelum mengambil kesimpulan dari sebuah video, pahami konteksnya.

Dan jika ternyata informasi yang kita sebarkan salah, bersedialah untuk mengoreksi dan meminta maaf.

Keberanian mengakui kesalahan bukan tanda kelemahan. Justru, itulah salah satu bentuk tanggung jawab orang yang sungguh-sungguh menghormati kebenaran.

Pelajaran Paling Menakutkan: Mengenal Kebenaran Tidak Menjamin Akhir yang Baik

Kisah Ar-Rajjāl mengajak kita merenungkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kesalahan orang lain: keadaan hati manusia yang dapat berubah.

Seseorang mungkin pernah mempelajari Al-Qur’an, mengenal ajaran Islam, dan berada di lingkungan yang baik. Namun, semua itu tidak semestinya membuatnya merasa kebal terhadap penyimpangan.

Dalam Surah Al-A’raf ayat 175–176, Allah mengisahkan seseorang yang telah diberi ayat-ayat-Nya, tetapi kemudian melepaskan diri darinya. Kisah ini menjadi peringatan agar manusia tidak menyia-nyiakan petunjuk yang telah diterimanya.

Pelajaran tersebut bukan alasan untuk berputus asa. Sebaliknya, ia mengajarkan kerendahan hati: jangan merasa aman hanya karena masa lalu kita baik, jangan merasa pasti lebih lurus daripada orang lain, dan jangan berhenti memohon agar Allah menjaga iman kita.

Kita tidak mengetahui bagaimana akhir kehidupan kita. Pengetahuan, kedudukan, dan penghormatan manusia tidak memberikan jaminan bahwa seseorang akan selalu benar dalam setiap pilihannya.

Karena itu, ketika melihat orang lain melakukan kesalahan, kita boleh menjelaskan kesalahannya berdasarkan bukti. Ketika menemukan kebohongan, kita perlu mengoreksinya. Namun, kita tidak boleh dengan mudah memastikan nasib akhirat seseorang atau menyamakannya dengan tokoh tertentu dalam sejarah Islam.

Menegakkan kebenaran menuntut keberanian sekaligus keadilan. Tanpa keberanian, kita membiarkan kebatilan. Tanpa keadilan, kita justru dapat melakukan kezaliman atas nama kebenaran.

Jangan Menjadi Pembela Kebatilan Hanya karena Ia Berada di Pihak Kita

Barangkali pertanyaan paling penting dari kisah Ar-Rajjāl bukanlah, “Siapakah Ar-Rajjāl zaman sekarang?”

Pertanyaan yang lebih mendesak adalah: Pernahkah kita membela sesuatu yang salah hanya karena orang yang melakukannya adalah orang yang kita sukai?

Kita mungkin tidak pernah mengikuti Musailimah al-Kadzdzab. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, kita tetap menghadapi ujian kejujuran: memilih antara mengakui kesalahan seorang kawan atau menutupinya; memilih antara menyampaikan fakta atau menjaga citra kelompok; memilih antara mengoreksi orang yang dihormati atau membenarkan kesalahannya demi menjaga hubungan.

Ujian itu tidak selalu hadir dalam peristiwa besar. Terkadang, ia muncul melalui satu unggahan yang belum diperiksa, satu tuduhan yang disebarkan tanpa bukti, atau satu pembelaan yang kita berikan meskipun kita mengetahui ada sesuatu yang tidak benar.

Pada saat itulah integritas diuji.

Membela kebenaran tidak berarti harus selalu memusuhi seseorang. Terkadang, membela kebenaran justru berarti mengingatkan orang yang kita cintai bahwa ia telah keliru. Terkadang, membela keadilan berarti mengakui bahwa pihak yang berbeda dengan kita memiliki argumen yang benar.

Dan terkadang, sikap paling bertanggung jawab adalah menahan diri untuk tidak berbicara sampai kita benar-benar mengetahui persoalannya.

Ar-Rajjāl dikenang dalam literatur sejarah karena keterlibatannya dalam mendukung Musailimah. Kisahnya menjadi pengingat tentang bahaya kesaksian palsu dan pengaruh yang digunakan untuk menguatkan klaim yang menyimpang. Adapun riwayat geraham sebesar Gunung Uhud yang dikaitkan dengannya tetap harus disampaikan dengan catatan mengenai kelemahan sanadnya.

Bagi kita hari ini, pelajarannya bukanlah sibuk mencari siapa yang pantas diberi label Ar-Rajjāl. Pelajarannya adalah membangun keberanian untuk memeriksa klaim, menjaga kejujuran, dan tidak membiarkan fanatisme mengalahkan keadilan.

Jangan biarkan kecintaan kepada seorang tokoh membuat kita membenarkan kebohongannya. Jangan biarkan kebencian kepada lawan membuat kita menolak kebenaran yang datang darinya. Dan jangan biarkan keinginan memenangkan perdebatan membuat kita mengorbankan amanah ilmu.

Sebab, pada akhirnya, yang harus kita pertanggungjawabkan bukanlah seberapa keras kita membela seseorang, seberapa banyak pengikut yang kita miliki, atau seberapa sering nama kita dipuji.

Yang harus kita pertanggungjawabkan adalah perkataan dan perbuatan kita, termasuk ketika kita memilih untuk membela sesuatu yang salah padahal kita mengetahui kebenarannya.

Jangan hanya takut berada di barisan yang salah. Takutlah ketika fanatisme membuat kita kehilangan keberanian untuk mengakui mana yang benar dan mana yang salah.

Baca juga : Ketika saudara berperang : kenapa ishlah lebih baik dari memimak

Baca juga : Karhutla di Sumatra dan Kalimantan: Ancaman Lingkungan dalam Perspektif Islam

Baca juga : Dari Resolusi Jihad ke Literasi Digital: Santri dan Tugas Menguatkan Negeri

Baca juga : Menulis untuk Mengubah Zaman: Dakwah yang Tidak Berhenti di Mimbar