Pembelajaran Berdiferensiasi Vs Pembelajaran Mendalam, Mana yang Lebih Baik?

Guru Inovatif Nasional 2020 (KEMDIKBUD) & 2023 (Penerbit Erlangga) - Agen Pusat Penguatan Karakter (PUSPEKA) KEMDIKBUDRISTEK - Fasilitator Literasi Regional Sumatra BADAN BAHASA - Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran Sosiologi Kab. Belitung Timur
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Ares Faujian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam dunia pendidikan modern di Indonesia, dua pendekatan yang sering diperbincangkan dalam dekade ini adalah pembelajaran berdiferensiasi (differentiated instruction/ differentiated learning) dan pembelajaran mendalam (deep learning). Keduanya menawarkan solusi atas tantangan keragaman siswa dan tuntutan zaman, namun manakah pendekatan pembelajaran yang lebih baik?
Pembelajaran Berdiferensiasi: Merangkul Keberagaman
Penerapan pembelajaran berdiferensiasi menguat sejak diberlakukannya Kurikulum Merdeka, atau lebih tepatnya ketika Nadiem Makarim menjabat Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI. Pendekatan pembelajaran ini menuntut guru untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan individual siswa, baik dari segi materi, proses, maupun produk penilaian (Sari et al., 2023; Farisia et al., 2025). Pendekatan ini pun terbukti meningkatkan hasil belajar siswa secara signifikan, karena siswa merasa dihargai dan difasilitasi sesuai karakteristiknya (Hidayati & Eriyanti, 2023; 2024).
Pembelajaran berdiferensiasi menekankan pentingnya menyesuaikan proses belajar dengan kebutuhan, minat, dan kemampuan unik setiap siswa. Guru menggunakan berbagai strategi, seperti variasi materi, metode, dan penilaian, agar semua siswa dapat berkembang optimal (Hati et al., 2025; Octamaya et al., 2024). Contohnya, guru membagi siswa ke dalam kelompok berdasarkan gaya belajar, yakni kelompok visual menggunakan infografis, kelompok auditori mendengarkan podcast, kelompok kinestetik melakukan simulasi sosial, dsb.
Sukmadana & Sudarti (2024) mendekripsikan implementasi pembelajaran diferensiasi sebagai upaya menguatkan Profil Pelajar Pancasila dalam kurikulum merdeka. Dimensi-dimensi Profil Pelajar Pancasila ini tertuang salah satunya dalam Salinan Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi No. 009/H/KR/2022 tentang Dimensi, Elemen, dan Subelemen Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka, antara lain: 1) Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia; 2) Berkebinekaan global; 3) Bergotong royong; 4) Mandiri; 5) Bernalar kritis; 6) Kreatif.
Namun, pembelajaran berdiferensiasi menghadapi tantangan besar. Guru sering kewalahan dalam merancang pembelajaran yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan setiap individu, apalagi di kelas besar dan heterogen (Awaru et al., 2023; Octamaya et al., 2024). Karena guru perlu mempersiapkan bahan ajar, media pembelajaran, strategi pembelajaran, hingga kemampuan melakukan penilaian terhadap berbagai macam karakteristik siswa. Keterbatasan sumber daya, waktu, dan pelatihan guru juga menjadi hambatan utama (Awaru et al., 2023). Akibatnya, implementasi di lapangan sering tidak maksimal, dan potensi ketidakadilan tetap ada jika guru tidak mampu memetakan kebutuhan siswa secara adil.
Pembelajaran Mendalam: Membangun Koneksi dan Kesadaran Sosial
Konsep pembelajaran mendalam mulai dikenal di Indonesia seiring dengan pergeseran paradigma pendidikan dari sekadar menghafal (surface learning) menuju pemahaman bermakna, reflektif, dan aplikatif (Suwandi et al., 2024). Pendekatan ini menekankan pengalaman belajar yang mindful (sadar penuh), meaningful (bermakna), dan joyful (menggembirakan), di mana siswa tidak hanya mengingat, tetapi juga memahami dan menginternalisasi materi (Suwandi et al., 2024; Rahayu et al., 2025). Abdul Mu'ti sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI saat ini turut mempopulerkan pendekatan deep learning ini dalam konteks pendidikan dasar dan menengah di Indonesia sejak tahun 2025.
Pembelajaran mendalam atau PM berfokus pada pengembangan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan reflektif. Studi Damanik & Muhammad (2025) berjudul “The Deep Learning Approach In Sociology Education At The High School Level” menyebutkan bahwa, pada pembelajaran ini siswa diajak untuk mengaitkan teori dengan realitas sosial melalui proyek, studi kasus, dan diskusi reflektif. Dalam pelajaran sosiologi, misalnya, siswa diminta meneliti fenomena sosial di lingkungan sekitar, lalu mempresentasikan hasil analisisnya. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan pemahaman konsep, tetapi juga menumbuhkan empati, kesadaran budaya, dan kemampuan memecahkan masalah nyata. Selain itu, siswa tidak sekadar menghafal, tetapi benar-benar memahami dan mampu mengaplikasikan pengetahuan untuk menghadapi kompleksitas masyarakat (Damanik & Muhammad, 2025).
Suyanto (2025) selaku ketua tim penyusun Naskah Akademik Pembelajaran Mendalam Menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua menuliskan bahwa, pembelajaran mendalam diterapkan untuk mewujudkan dimensi profil lulusan yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, memiliki keterampilan sosial, dan keterampilan belajar sebagai warga negara. Beliau menyebutkan pembelajaran mendalam difokuskan untuk mencapai 8 Profil Lulusan, yaitu: 1) Keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, 2) Kewargaan, 3) Penalaran kritis, 4) Kreativitas, 5) Kolaborasi, 6) Kemandirian, 7) Kesehatan, dan 8) Komunikasi (Suyanto et al., 2025). Dimensi-dimensi ini merupakan kompetensi utuh yang harus dimiliki oleh para peserta didik setelah menyelesaikan proses pembelajaran dan pendidikan di sekolah.
Kajian Suwandi et al. (2024) berjudul “Inovasi Pendidikan dengan Menggunakan Model Deep Learning di Indonesia” menyebutkan bahwa implementasi pembelajaran mendalam di Indonesia menghadapi beberapa tantangan, seperti keterbatasan infrastruktur, kesiapan guru, dan budaya belajar tradisional yang masih dominan. Salah satu tantangan utamanya adalah kesiapan dan kemampuan adaptasi guru. Karena tidak semua guru memiliki kemampuan beradaptasi yang sama terhadap perubahan, termasuk perubahan kurikulum hingga pendekatan pembelajaran baru yang akan digunakan.
Dalam ihwal ini, guru perlu diberikan pelatihan khusus agar mampu memfasilitasi diskusi mendalam dan proyek kolaboratif, serta menciptakan lingkungan belajar yang inklusif. Apalagi saat ini, kalangan pendidik berada pada masa transisi dari pembelajaran berdiferensiasi ke pembelajaran mendalam. Tentunya para guru perlu beradaptasi kembali dengan penggunaan pendekatan pembelajaran terkini (pembelajaran mendalam) yang diimplementasikan di Indonesia, baik itu mulai dari penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran, implikasi, hingga penilaiannya. Proses adaptasi ini memerlukan waktu, apalagi untuk mengaplikasikannya secara optimal oleh seluruh guru di setiap sekolah.
Mana yang Lebih Baik?
Tidak ada pendekatan yang mutlak lebih baik, pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran mendalam memiliki keunggulan dan tantangan masing-masing, serta dapat saling melengkapi dalam praktik pendidikan. Kedua pendekatan ini diciptakan oleh penggagasnya karena untuk mendapatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar yang lebih baik. Pembelajaran berdiferensiasi unggul dalam mengakomodasi keragaman individu, sedangkan pembelajaran mendalam unggul dalam membangun pemahaman, kebermaknaan, dan kesadaran dalam pembelajaran. Kombinasi keduanya, dengan guru yang terlatih dan dukungan sistem yang memadai, akan menghasilkan pendidikan yang adil, inklusif, dan relevan dengan tantangan masyarakat modern. Guru juga bisa menerapkan salah satu dari pendekatan pembelajaran ini, jika penerapannya terbukti efektif pada kategori kelas tertentu.
Penelitian mutakhir menegaskan bahwa pertanyaan tentang pendekatan pembelajaran terbaik itu tidak memiliki jawaban tunggal. Efektivitas suatu metode, apakah itu pembelajaran berbasis guru, pembelajaran mandiri, e-learning, atau inquiry, sangat dipengaruhi oleh banyak faktor seperti karakteristik siswa, peran guru, bidang studi, konteks, serta frekuensi dan waktu penerapan (Jong, 2019; Urhahne, 2020; Ssemugenyi & Sali, 2024). Kombinasi dan penyesuaian berbagai pendekatan seringkali justru menghasilkan hasil belajar yang optimal (Jong, 2019; Basten & Haamann, 2018).
Dalam pendidikan STEM, inquiry learning efektif untuk membangun pemahaman mendalam, namun tetap perlu dikombinasikan dengan instruksi langsung untuk penguasaan konsep dasar (Jong, 2019). Selanjutnya, penerapan e-learning dapat meningkatkan pemahaman jika dikombinasikan dengan diskusi tatap muka, bukan sebagai pengganti total (Bhatti et al., 2011; Ssemugenyi & Sali, 2024).
Lalu, model personalized learning yang memanfaatkan teknologi dan data siswa terbukti meningkatkan efisiensi dan hasil belajar, namun implementasinya menuntut kesiapan infrastruktur (Zhang et al., 2024; Zheng et al., 2023). Hal ini juga sama halnya dengan keberadaan pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran mendalam. Jadi, para guru pilih yang mana?
Oleh: Ares Faujian
Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran Sosiologi Kab. Belitung Timur & America Field Service (AFS) Global Up Educator
Referensi
Awaru, O., Ahmad, R., & Sadriani, A. (2023). Obstacles to Implementation of Differentiation Learning in Sociology Subjects. Technium Social Sciences Journal. https://doi.org/10.47577/tssj.v50i1.9933
Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan. (2022). Salinan Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi No. 009/H/KR/2022 tentang Dimensi, Elemen, dan Subelemen Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka. Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan: Jakarta. https://kurikulum.kemdikbud.go.id/wp-content/unduhan/Dimensi_PPP.pdf
Basten, D., & Haamann, T. (2018). Approaches for Organizational Learning: A Literature Review. SAGE Open, 8. https://doi.org/10.1177/2158244018794224
Bhatti, I., Jones, K., Richardson, L., Foreman, D., Lund, J., & Tierney, G. (2011). E‐learning vs lecture: which is the best approach to surgical teaching?. Colorectal Disease, 13. https://doi.org/10.1111/j.1463-1318.2009.02173.x
Damanik, F., & Muhammad, G. (2025). THE DEEP LEARNING APPROACH IN SOCIOLOGY EDUCATION AT THE HIGH SCHOOL LEVEL. SocioEdu: Sociological Education. https://doi.org/10.59098/socioedu.v6i1.2016
Farisia, H., Santoso, A., Suyono, S., & Kusumaningrum, S. (2025). A Multisite Case Study of Differentiated Instruction in Indonesia: A Cross Case Investigation of Rural and Urban Areas. Journal of Curriculum and Teaching. https://doi.org/10.5430/jct.v14n2p13
Hati, K., Rahmayanti, A., Aprilia, C., Nisa, L., Anggraeni, M., Trinugraha, Y., & Parahita, B. (2025). Practice and reflection of differentiated learning in sociology at senior high school. Journal of Education and Learning (EduLearn). https://doi.org/10.11591/edulearn.v19i2.21636
Hidayati, R., & Eriyanti, F. (2023). Differentiated Learning Technology on Science Education to Students Learning Outcomes. Jurnal Penelitian Pendidikan IPA. https://doi.org/10.29303/jppipa.v9ispecialissue.6479
Hidayati, R., & Eriyanti, F. (2024). The influence of Differentiated Learning Models on The Sociology Learning Outcomes of Class X Students At SMA N 2 West Sumatera. LANGGAM: International Journal of Social Science Education, Art and Culture. https://doi.org/10.24036/langgam.v3i2.169
Jong, T. (2019). Moving towards engaged learning in STEM domains; there is no simple answer, but clearly a road ahead. J. Comput. Assist. Learn., 35, 153-167. https://doi.org/10.1111/JCAL.12337
Octamaya, A., Awaru, T., Ridwan, M., Ahmad, S., Sadriani, A., Maulana, M., & Said, M. (2024). Meeting Diverse Learning Needs: Exploring Effective Sociology Teacher Strategies in Differentiated Learning. KnE Social Sciences. https://doi.org/10.18502/kss.v9i2.14831
Sari, D., Maulida, F., Khoirunnisa, J., Ummah, S., & Admoko, S. (2023). A Literature Review of the Implementation of Differentiated Learning in Indonesian Education Units. Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika. https://doi.org/10.20527/jipf.v7i2.8429
Ssemugenyi, F., & Sali, G. (2024). Is There a Best Way to Teach? Evaluating the Traditional and E-Learning Pedagogies from the Promise and Perils Perspectives. Creative Education. https://doi.org/10.4236/ce.2024.157082
Suwandi, Putri, R., & , S. (2024). Inovasi Pendidikan dengan Menggunakan Model Deep Learning di Indonesia. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Politik. https://doi.org/10.61476/186hvh28
Suyanto et al. (2025). Naskah Akademik Pembelajaran Mendalam Menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua. Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. https://gurudikdas.dikdasmen.go.id/storage/users/3/Berita/2025/PDF/Pembelajaran%20Mendalam.pdf
Urhahne, D. (2020). Learning approaches. Educational Psychology, 40, 533 - 534. https://doi.org/10.1080/01443410.2020.1755503
Zhang, F., Feng, X., & Wang, Y. (2024). Personalized process-type learning path recommendation based on process mining and deep knowledge tracing. Knowl. Based Syst., 303, 112431. https://doi.org/10.1016/j.knosys.2024.112431
Zheng, Y., Xu, Y., Wang, D., Chen, S., Sun, M., Li, Y., & Gao, F. (2023). A Novel Two-Stage Personalized Learning Path Recommendation Approach for E-learning. Proceedings of the 15th International Conference on Education Technology and Computers. https://doi.org/10.1145/3629296.3629304
