Mengapa Manusia Tidak Akan Pernah Benar-benar Menjadi Ateis?

Mahasiswa Antropologi Sosial, Universitas Andalas, Sertifikasi Psikologi Positif dari University of Pennsylvania
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Arif Furqhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya sangat tertarik pada salah satu artikel yang ditulis oleh pengajar Saya dalam pengantar psikologi yang disediakan oleh Yale University, Paul Bloom. Ia memperkenalkan konsep tentang Tuhan muncul dari ketidaksengajaan. Kira-kira narasinya begini: konsep ketuhanan adalah sebuah produk sampingan dari dualisme kognitif yang berkembang setiap saat.
Bahkan seorang bayi telah dapat membedakan apa yang menjadi bagian pikirannya dan apa yang merupakan kenyataan di sekitarnya. Ini sama sekali tidak memperkuat argumen tentang dualisme yang sudah tidak relevan, melainkan suatu argumen konstruktif yang menyatakan bagaimana konsep jiwa dan raga telah kita kenal sejak neuron masih dalam tahap awal perkembangan. Bila ini dipahami sebagai psikologi perkembangan dari Noam Chomsky, konsep Tuhan adalah genetik: ia dibawa sejak manusia lahir.
Maka semua argumen yang menyatakan semua bayi tidak memiliki kepercayaan oleh sepenggal paragraf di atas sepenuhnya kita tolak. Hanya saja, kita tidak bisa mentah-mentah menyatakan seorang bayi sudah menjadi buddha, kristen, atau muslim sejak ia dilahirkan. Di sinilah letak argumen ini dibangun: kapan Tuhan itu ada? Tuhan seperti apa yang hadir pertama kali? Serta seperti apa eksistensi Tuhan yang paling logis dicerna oleh manusia?
Sejarah “Diterimanya” Tuhan dalam kehidupan Manusia
Karen Amstrong, seharusnya kita tidak lagi asing dengan namanya ketika membahas kapan Tuhan itu ada dengan bukunya yang terkenal bertajuk Sejarah Tuhan. Konsep ketuhanan tidak muncul sebagai penggalan yang terpisah dari perkembangan manusia itu sendiri, melainkan tumbuh bersamaan ketika manusia itu menyadari dirinya sebagai manusia.
Menurut Saya angka 14.000 tahun yang lalu sebagai permulaan awal munculnya manusia dan konsep ketuhanan dari Amstrong terlalu kasar dan kurang tepat ketika banyak penemuan dan sumber lain yang menyatakan bahwa manusia telah ada jauh sebelum itu (seperti penemuan di Jebel Irhoud, Homo Sapiens telah mendiami bumi sejak 315.000 tahun). Bagian yang perlu digaris bawahi; beberapa sifat-sifat Tuhan tidak muncul begitu saja sejak Homo Sapiens ada.
Eksistensinya tetap logis dan empiris ketika direplikasi kepada temuan-temuan yang lebih kuno milik manusia purba. Artinya, beberapa konsep ketuhanan telah eksis sebagai bagian yang dibawa oleh manusia purba kepada manusia modern sebab berbagai kesamaan pada kedua entitas mempertahankan relevansinya.
Konsep ketuhanan yang dimaksud adalah “Tuhan sebagai pelindung”. Konsep ini datang lebih dini daripada Tuhan sebagai pencipta. Manusia sebagai makhluk yang tidak memiliki kaki untuk berlari secepat cheetah, mata setajam elang, cengkraman kaki dan tangan yang tidak sekuat monyet, dan kulitnya yang terbakar oleh matahari dihadapkan pada ketakutan-ketakutan lingkungan yang berlebihan.
Sistem sensori manusia diciptakan terlalu sensitif dan kita menjadi mudah mencurigai apa pun – lebih beruntung mencurigai angin di semak-semak sebagai predator dibandingkan mengira predator sebagai angin. Detektor yang terlalu aktif membentuk manusia suka mengira apa saja dalam pikirannya, dan dari sinilah muncul kecurigaan adanya kekuatan-kekuatan yang melebihi entitas manusia sebagai pelindung mereka. Konsep awalnya lebih dikenal sebagai mana, numina, atau dewa.
Kecurigaan tersebut semakin terendus ketika manusia dihadapkan pada kondisi lain yang lebih berat, seperti banjir, gunung meletus, penyakit, keberuntungan, dan pola acak alam lainnya. Sensor pada manusia secara intuitif akan menafsirkannya sebagai tindakan dari entitas yang tidak terlihat dan lebih kuat. Maka sekarang, kita perlu menciptakan hubungan yang dekat dengan entitas itu untuk mendapatkan keselamatan.
Beberapa benda di sekitar yang dianggap unik mulai mengalami konsekrasi atau sakralisasi. Benda-benda tertentu diberikan makna memiliki kekuatan atau agensi lain yang melekat pada dirinya sendiri. Ritual-ritual yang berbeda dari kehidupan sehari-hari diciptakan guna memperkuat dan mempertahankan sakralnya benda tersebut disertai narasi-narasi yang dibingkai sedemikian rupa.
Tuhan Sang Pelindung Lebih Awal daripada Tuhan Sang Pencipta
Sebenarnya sejauh ini kita telah berhasil menjawab 3 pertanyaan di awal: Tuhan telah ada dan diyakini sejak manusia itu ada dengan Tuhan yang hadir pertama kali adalah Tuhan sebagai pelindung, dan Tuhan yang paling logis dicerna oleh pikiran manusia adalah Tuhan tak terlihat yang memiliki kuasa yang lebih besar daripada manusia. Hanya saja, baik Anda maupun Saya tidak akan puas mendapati deskripsi ini terlalu singkat untuk sebuah konsep yang sangat kompleks.
Saya ingin mencoba menjawab lebih lanjut mengapa Tuhan yang lebih awal dikenal manusia adalah Tuhan sebagai pelindung ketimbang Tuhan sebagai pencipta. Ketika manusia masih berada pada tahap berburu dan meramu, kesempatan untuk berpikir tentang penciptaan sangat terbatas dan belum dibutuhkan. Manusia dipenuhi ketakutan setiap saat: siang hari dengan kelaparannya dan malam dengan berbagai predator yang mengintai.
Pikiran manusia didesak untuk menciptakan cara paling mutakhir demi keselamatan dirinya serta orang sekitarnya. Pengetahuan tentang dari mana ia berasal akan terjawab ketika manusia mengamati proses kelahiran bayinya atau hewan yang tanpa sengaja ia temukan sedang melahirkan. Pengetahuan itu sudah cukup dan faktanya sudah ‘jenuh’ bila diartikan dengan sains modern.
Setelah manusia menemukan beberapa jenis hewan dan tumbuhan dapat didomestifikasi, beberapa kelompok manusia juga tersisihkan dari pertanian dan tidak mendapatkan beban kerja. Revolusi neolitik adalah titik awal munculnya orang-orang yang lebih banyak berpikir. Bersamaan dengan itu, manusia akhirnya memiliki waktu luang yang lebih banyak yang bisa digunakan untuk mengadakan ritual-ritual keagamaan.
Keragaman profesi lahir – kita juga menyambut profesi pemimpin agama untuk pertama kali. Pola serupa sangat relevan dengan masyarakat modern. Data yang dimuat di internet akan mengungkap bagaimana masyarakat di negara-negara dengan jam kerja padat punya praktik keagamaan dan berdoa yang jauh lebih sedikit dibandingkan sebaliknya. Sebuah temuan menarik lainnya yakni Tuhan sebagai pencipta punya ritual yang lebih kompleks dibandingkan Tuhan sebagai pelindung.
Sangat mungkin ini adalah sisa-sisa evolusi tatkala moyang kita hanya menciptakan ritual sederhana untuk melindunginya. Manusia yang datang kemudian dengan kemampuan kognisi yang lebih baik menciptakan ritual demi mempertahankan bagian sakral Tuhan dengan cara yang tidak lebih sederhana, lebih-lebih lagi ketika menyadari Tuhan itulah Yang Menciptakannya – sebagai sebuah pencapaian tertinggi manusia yang berhasil menjawab dari mana sebenarnya ia berasal.
Dapat kita asumsikan secara sah, manusia adalah makhluk paling kompleks yang ditemukan oleh manusia. Manusia juga hanya mampu memahami bahasa manusia, tidak mampu bercakap-cakap dengan hewan apalagi tumbuhan. Tuhan mendapatkan personifikasi sebatas pemahaman manusia. Tuhan digambarkan bisa marah, maka dengan itu manusia menciptakan ritual yang dianggap bisa membujuknya. Beberapa bagian ketuhanan dianggap terlalu luar biasa untuk digambarkan sebab keagungannya sehingga tidak dapat diartikan secara mudah.
Kemampuan Teleologis sejak Bayi dan Keberadaan Tuhan
Ritual-ritual yang diciptakan hingga diciptakannya istilah suci untuk eksistensi Tuhan memiliki tujuannya sendiri. Kemampuan berpikir dengan melihat segala sesuatu ada karena sebuah tujuan dikenal sebagai teleologis -bahkan bayi atau anak-anak yang otaknya tidak sematang orang dewasa telah lebih dulu melakukannya. Anak-anak akan mengatakan gunung untuk didaki atau awan untuk menurunkan hujan.
Pemahaman sederhana inilah yang menjadi jalan pintas mental guna memahami dunia. Ketika kecenderungan ini diterapkan pada skala yang lebih besar (seperti kosmik), kita secara alami akan bertanya: untuk apa kita dan alam semesta ini diciptakan? Kerangka pemikiran yang mencoba menjawab pertanyaan tersebut akhirnya membawa manusia pada konsep ketuhanan sebagai Pencipta.
Paul Bloom menjelaskan ini sebagai “analogi Tukang/Perajin” (Artisan Analogy). Otak kita secara alami menerapkan logika yang kita gunakan untuk benda-benda buatan manusia ke seluruh alam semesta. Kosmik yang sangat luar biasa dan rumit membuat manusia berpikir bahwa penciptanya adalah agen yang jauh lebih cerdas dan bertujuan.
Uniknya, ini adalah bukti keberadaan Tuhan sebagai bagian yang dibawa oleh manusia sejak pertama lahir. Coba saja kita tentang premis segala sesuatu diciptakan tanpa tujuan, atau menghilangkan eksistensi Tuhan sebagai pencipta dan memiliki tujuan-Nya, kita akan susah payah menghapus pemikiran ini karena keberadaannya yang alami.
Akhirnya, menjadi manusia ateis sama sekali tidaklah efektif bahkan sejak manusia itu ada lantaran terlalu banyak usaha yang dibutuhkan untuk menentang keberadaan Tuhan dibandingkan menerima keberadaan-Nya.
