Konten dari Pengguna

6 Jenis Cedera Olahraga beserta Penyebab dan Cara Mencegahnya

Artikel Kesehatan

Artikel Kesehatan

Kumpulan artikel yang membahas informasi seputar kesehatan.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Artikel Kesehatan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi olahraga. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi olahraga. Foto: Pixabay

Olahraga terbukti banyak manfaat terhadap kesehatan. Namun, kegiatan tersebut tetap dapat menimbulkan efek buruk terhadap kesehatan, termasuk cedera. Ada banyak jenis cedera olahraga yang dapat dialami oleh siapa saja, terlebih para atlet.

Bagi atlet, cedera adalah masalah yang serius selama proses latihan dan bertanding karena berdampak terhadap gangguan pada aktivitas olahraga dan latihan. Cedera olahraga yang dialami seorang atlet tidak hanya akan mempengaruhi performanya di lapangan, tetapi juga akan mempengaruhi prestasinya.

Atlet pun dapat kehilangan kesempatan untuk mengikuti kompetisi akibat cedera olahraga yang dialaminya. Pasalnya, atlet tersebut akan kehilangan waktunya berlatih atau bertanding sekitar 3-6 bulan akibat cedera.

Maka dari itu, cedera olahraga ini termasuk ke dalam masalah kesehatan serius yang membutuhkan penanganan yang tepat dan tuntas karena dapat terjadi berulang, menimbulkan kecacatan, dan bahkan kematian.

Cedera olahraga ini dapat terjadi pada hampir semua bagian tubuh, tapi umumnya melibatkan otot, tulang, dan jaringan. Artikel di bawah ini akan membahas lebih lengkap mengenai jenis-jenis cedera olahraga beserta penyebab dan cara mencegahnya.

Jenis Cedera Olahraga dan Penyebabnya

Ilustrasi olahraga. Foto: Pixabay

Menurut Bhardwaj dalam buku Cedera Olahraga karya Yusni, cedera olahraga adalah suatu bentuk terjadinya kerusakan pada jaringan, baik yang timbul secara langsung maupun tidak langsung, akibat dari frekuensi dan atau intensitas olahraga yang tidak sesuai, sehingga membutuhkan penanganan medis.

Cedera olahraga dapat terjadi pada semua kelompok usia dan berbagai jenis cabang olahraga (olahragawan, atlet, dan siapa pun yang melakukan olahraga). Cedera olahraga yang timbul dapat bersifat ringan sampai berat tergantung dari daerah ataupun bentuk cedera yang dialami.

Cedera olahraga dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Kondisi ini timbul sebagai akibat dari aktivitas olahraga yang dilakukan tanpa memperhatikan teknik yang benar dan tingkat kemampuan fisik seseorang.

Dikutip dari buku Implementasi Ilmu Keolahragaan dalam Perkembangan Olahraga Disabilitas Indonesia karya Arimbi, Poppy Elisano Arfanda, Lita Puspita, dan Wahyana Mujari Wahid dan beberapa sumber lainnya, cedera olahraga yang paling sering terjadi, di antaranya:

Ilustrasi olahraga. Foto: Pixabay

1. Cedera lutut

Sebuah studi kesehatan dan penelitian dari Harmet et al menyebutkan bahwa lutut merupakan lokasi cedera olahraga paling umum yang dapat menimpa siapa saja, terlebih para atlet. Jenis cedera lutut akibat olahraga yang paling umum adalah sprain atau keseleo.

Sprain adalah cedera akibat terjadinya sobekan pada ligmen atau jaringan ikat lutut. Robekan yang terjadi pada sebagian atau seluruh ligamen dapat mengakibatkan rasa nyeri, bengkak, memar, hingga kehilangan fungsinya.

Dalam olahraga, sprain bisa disebabkan oleh trauma langsung pada sendi, seperti tackle. Sprain juga dapat terjadi secara tidak langsung, yakni akibat gerakan memutar atau jatuh tanpa adanya pukulan atau tabrakan dengan lawan main.

2. Cedera engkel

Merujuk buku Pembelajaran PJOK Anak Sekolah Dasar oleh Dr. Samsul Azhar, M.Pd., dkk, cedera engkel terjadi karena ikatan ligamen, yakni urat yang mengikat tulang, mengalami suatu peregangan yang sangat parah, seperti putus atau robek dan dislokasi pada tulang.

Peregangan tersebut biasanya dapat terjadi sangat keras, sehingga membuat otot ligamen menjadi terkilir. Adapun beberapa kejadian dalam olahraga yang dapat menyebabkan seseorang mengalami cedera engkel, yaitu:

  • Jatuh hingga pergelangan kaki terpelintir.

  • Tidak mendarat dengan sempurna setelah melompat atau berputar.

  • Berolahraga di permukaan yang tidak rata.

  • Kaki terinjak oleh orang lain saat berlari, hingga menyebabkan kaki berputar atau berguling ke samping.

3. Cedera otot

Cedera otot atau biasa disebut juga dengan otot tertarik (kram) adalah saat di mana otot-otot serta tendon tertarik secara berlebihan akibat tekanan besar yang disebabkan oleh aktivitas fisik berulang.

Umumnya, cedera otot ketika berolahraga dapat terjadi karena kurang pemanasan sebelum melakukan aktivitas fisik, badan dalam kondisi tidak fit, kelelahan dan keletihan, mengangkat benda berat dalam posisi yang tidak tepat, tergelincir, atau kehilangan pijakan usai melompat.

Ilustrasi olahraga. Foto: Pixabay

4. Cedera Hamstring

Cedera hamstring umumnya dialami oleh atlet yang melakukan olahraga berat seperti pelari, sprinter, pemain sepak bola atau basket. Ini merupakan cedera yang terjadi pada ligamen atau kapsul sendi dalam bentuk regangan berputar atau robek.

Seseorang yang sedang berolahraga kemudian mengalami cedera hamstring biasanya melakukan teknik latihan yang salah, gerakan berputar, olahraga di area yang tidak rata, pendaratan atau jatuh pada posisi yang tidak tepat.

5. Cedera Tulang Belakang

Menurut Corke dalam Buku Modul Daftar Penyakit Kepaniteraan Klinik : SMF Neurologi oleh Imran dan Ika Marlia, terdapat beberapa klasifikasi dari cedera tulang belakang atau medulla spinalis, yakni:

  • Hiperfleksi: Dapat terjadi akibat pukulan di bagian belakang kepala atau deselerasi kuat. Pasien umumnya stabil dan jarang berhubungan dengan cedera neurologis.

  • Hiperfleksi-rotasi: Gangguan yang terjadi secara kompleks pada ligamen posterior, meskipun serviks pada akar saraf tulang belakang umum stabil.

  • Spondilosis vertikal: Umumnya terjadi akibat perubahan struktur dan kerusakan jaringan pada tulang belakang dan tulang leher.

  • Hiperekstensi: Biasanya terjadi akibat pukulan pada bagian depan kepala atau cedera whiplash.

  • Ekstensi-rotasi: Umumnya dijumpai pada cedera menyelam karena sering kali menyerang kolumna anterior dan posterior.

6. Cedera kepala ringan

Cedera kepala ringan ketika sedang olahraga biasanya dapat terjadi karena adanya benturan atau pukulan langsung di kepala. Hal ini dapat menyebabkan seseorang kehilangan fungsi otak untuk sementara.

Pencegahan Cedera Olahraga

Ilustrasi olahraga. Foto: Pixabay

Tujuan dari melakukan pencegahan cedera olahraga adalah agar tubuh bisa merasakan manfaat dari berolahraga. Mengutip buku Cedera Olahraga oleh Yusni, berikut ini langkah-langkah untuk mencegah cedera ketika olahraga:

1. Pencegahan primer

Pencegahan primer ini bertujuan untuk mencegah terjadinya cedera olahraga. Bentuk dari tindakan pencegahan primer tehadap cedera olahraga, adalah:

  • Memberi tubuh nutrisi yang baik dan seimbang;

  • Teknik latihan yang baik;

  • Program periodisasi latihan sesuai dengan komponen fisik dasar atlet;

  • Memeriksa kondisi fisik dan kesehatan olahragawan/atlet secara berkala;

  • Menggunakan pakaian olahraga yang ergonomis;

  • Pastikan kondisi tempat latihan atau olahraga baik dan nyaman;

  • Mengkonsumsi cairan yang cukup.

2. Pencegahan sekunder

Pencegahan sekunder bertujuan untuk mencegah efek lanjut dari cedera olahraga, seperti infeksi. Ini dilakukan dengan mendeteksi sedini mungkin penyebab cedera, seperti usia, pengalaman berkompetisi, kelelahan dan overtraining perlu diperhitungkan selama pelatihan dan kompetisi, serta faktor psikologis (kurangi atau kendalikan situasi-situasi yang berpotensi membuat stres bagi olahragawan).

3. Pencegahan Tersier

Pencegahan tersier adalah pencegahan yang dilakukan untuk menghindari komplikasi pasca cedera. Tindakan pencegahan tersier dapat berupa mengatur dan mengurangi ketidak seimbangan mekanis, artikular, otot, tendon dan ligamen pada olahragawan pasca cedera. Memberikan waktu pemulihan cedera yang cukup dan sesuai dengan derajat kerusakan organnya.

Ilustrasi olahraga. Foto: Pixabay

Masih mengutip buku Cedera Olahraga karya Yusni, beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya cedera olahraga pada anak, yakni sebagai berikut:

  1. Pemeriksaan komponen fisik dasar dan kesehatan sebelum memulai latihan olahraga;

  2. Perkuat struktur dan fungsi otot serta sendi dengan melakukan pemanasan, pendinginan dan peregangan yang cukup dan dengan teknik sesuai;

  3. Menyusun program latihan sesuai dengan umur dan kebutuhan anak;

  4. Berikan asupan makanan yang memiliki gizi yang baik dan seimbang;

  5. Pelihara cukup cairan selama latihan atau berolahraga;

  6. Atur latihan dan istirahat yang cukup;

  7. Hindari stress atau gangguan psikologis lainnya;

  8. Tingkatkan keahlian berolahraga sesuai dengan cabang olahraganya;

  9. Gunakan alat pelindung sesuai dengan kebutuhan berdasarkan cabang olahraga;

  10. Tingkatkan sistem pengawasan selama berlatih atau bertanding;

  11. Optimalkan fungsi pelatih selama latihan, bertanding dan pasca bertanding;

  12. Cegah waktu, frekuensi dan durasi latihan yang berlebihan;

  13. Perhatikan lingkungan seperti: suhu, kelembaban, udara, dan cuaca.

Baca Juga: Cara Melakukan Tolakan Lompat Tinggi Gaya Straddle

(NDA)

Frequently Asked Question Section

Apa saja jenis cedera yang bisa terjadi pada kehidupan sehari-hari?
chevron-down

Sebuah studi kesehatan dan penelitian dari Harmet et al menyebutkan bahwa lutut merupakan lokasi cedera olahraga paling umum yang dapat menimpa siapa saja, terlebih para atlet. Jenis cedera lutut akibat olahraga yang paling umum adalah sprain atau keseleo.

Apa saja jenis cedera pada saat bermain sepak bola?
chevron-down

Cedera hamstring umumnya dialami oleh atlet yang melakukan olahraga berat seperti pelari, sprinter, pemain sepak bola atau basket. Ini merupakan cedera yang terjadi pada ligamen atau kapsul sendi dalam bentuk regangan berputar atau robek.

Apa yang dimaksud dengan cedera dalam olahraga?
chevron-down

Cedera adalah masalah yang serius selama proses latihan dan bertanding karena berdampak terhadap gangguan pada aktivitas olahraga dan latihan. Cedera olahraga yang dialami seorang atlet tidak hanya akan mempengaruhi performanya di lapangan, tetapi juga akan mempengaruhi prestasinya.