Mengompol: Pengertian, Penyebab, hingga Cara Mengatasinya

Kumpulan artikel yang membahas informasi seputar kesehatan.
Konten dari Pengguna
19 Mei 2022 20:55
·
waktu baca 5 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Artikel Kesehatan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Mengompol: Pengertian, Penyebab, hingga Cara Mengatasinya (236894)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi orang dewasa yang tidak mampu menahan kencing. Foto: Pexels
ADVERTISEMENT
Dalam dunia medis, ngompol dikenal dengan istilah enuresis. Kondisi ini bisa terjadi ketika seseorang tidur atau bahkan ketika mereka terjaga. Tak hanya pada anak-anak, enuresis juga bisa dialami oleh orang dewasa.
ADVERTISEMENT
Pada anak di bawah usia 5 tahun, kebiasaan mengompol adalah hal yang normal terjadi. Hal ini lantaran anak-anak di usia tersebut belum terlatih untuk menahan pipis. Jadi, wajar jika mereka mudah mengompol atau mengalami enuresis.
Apabila kebiasaan mengompol tetap berlanjut hingga anak berusia di atas 5 tahun, kondisi ini disebut enuresis primer. Namun, pada kasus tertentu, mengompol bisa terjadi pada orang dewasa yang sebenarnya mampu menahan dan mengontrol buang air kecilnya dengan baik. Kondisi enuresis ini dinamakan dengan enuresis sekunder.
Agar lebih memahami fenomena satu ini, simak apa itu mengompol, penyebab, hingga cara mengatasinya di dalam pembahasan berikut ini.
Mengompol: Pengertian, Penyebab, hingga Cara Mengatasinya (236895)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi orang dewasa yang mengalami kelainan saluran kencing. Foto: Pexels

Apa yang Dimaksud dengan Mengompol?

Mengutip buku milik Willy F. Maramis dalam buku Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa Edisi 2, mengompol atau enuresis adalah kondisi ketika seseorang tidak dapat menahan keluarnya air kencing.
ADVERTISEMENT
Kejadian mengompol umumnya menurun dalam satu keluarga. Bila orang tua memiliki riwayat mengompol, anaknya pun memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami gangguan yang sama.
Pada anak-anak, mengompol merupakan salah satu tahap perkembangan standar. Namun, jika terjadi pada orang dewasa, hal ini bisa menjadi gejala sebuah penyakit. Mengompol bisa juga disebabkan karena ada penyakit yang melatarbelakanginya.
Untuk menentukan diagnosis mengompol, dokter akan melakukan wawancara medis. Hal tersebut diperlukan untuk mengetahui:
  • Riwayat saat dalam kandungan dan kelahiran, apakah cukup bulan atau prematur;
  • Riwayat latihan buang air besar dan kecil (toilet training);
  • Riwayat konstipasi;
  • Ada tidaknya rasa gatal di sekitar anus (mengindikasikan cacingan);
  • Ada tidaknya riwayat kelainan bentuk tulang belakang (berhubungan dengan susunan saraf);
  • Riwayat buang air kecil tidak lancar;
  • Riwayat mengompol dalam keluarga;
  • Stres psikis;
  • Rutinitas buang air kecil untuk menilai kapasitas kandung kemih dan frekuensi buang air besar untuk menilai ada tidaknya konstipasi;
  • Kebiasaan konsumsi minuman yang mengandung kafein.
ADVERTISEMENT
Selain wawancara medis, diperlukan juga pemeriksaan penunjang berupa:
  • Urinalisis yang bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya tanda-tanda infeksi saluran kemih;
  • USG atau sinar X untuk mengevaluasi kondisi ginjal;
  • MRI diperlukan pada kasus tertentu, apabila terdapat kecurigaan kelainan bentuk tulang belakang.
Mengompol: Pengertian, Penyebab, hingga Cara Mengatasinya (236896)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mengompol saat tidur. Foto: Pixabay

Bagaimana Cara agar Tidak Mengompol Lagi?

Cara agar tidak mengompol lagi bisa dilakukan secara alami maupun tindakan medis. Dirangkum dari buku Keperawatan Dasar 2 untuk Pendidikan Vokasi karya Musrifatul Uliyah dan Aziz Alimul Hidayat, cara alaminya sebagai berikut.

1. Bangunkan Diri di Malam Hari

Menyetel alarm di tengah malam dapat membantu mencegah fenomena mengompol. Bangunlah sekali atau dua kali setiap malam untuk mengosongkan kandung kemih dan pastikan tidak ada yang tersisa.

2. Lakukan Buang Air Kecil secara Teratur

Jadikan buang air kecil secara teratur sebagai bagian dari rutinitas. Pada siang hari, tetapkan jadwal kapan akan buang air kecil dan patuhi jadwal tersebut. Pastikan juga untuk buang air kecil sebelum tidur di malam hari.
ADVERTISEMENT

3. Perhatikan Asupan Makanan

Ternyata ada beberapa makanan yang direkomendasikan untuk mencegah fenomena ngompol. Lantas, makanan apa yang bisa mencegah ngompol? Berikut makanan yang bisa dijadikan sebagai obat tradisonal ngompol:
  • Wijen hitam dan bubuk biji seledri yang dicampurkan dalam secangkir susu bisa menghangatkan tubuh di malam hari, sehingga mampu mengurangi intensitas buang air kecil.
  • Madu sangat efektif untuk mencegah kebiasaan mengompol pada anak-anak maupun orang dewasa. Campurkan satu sendok teh madu dalam segelas susu atau air putih dan minumlah menjelang waktu tidur.
  • Buah pisang juga bisa mengurangi kebiasaan mengompol.
  • Kayu manis menjadi salah satu makanan yang dinilai efektif untuk mengatasi kebiasaan mengompol. Kandungan bahan aktif di dalamnya dipercaya mampu mengurangi intensitas buang air kecil di malam hari.
ADVERTISEMENT

4. Kurangi Penyebab Iritasi Kandung Kemih

Kafein, alkohol, pemanis buatan, dan minuman manis dapat mengiritasi kandung kemih dan menyebabkan lebih sering buang air kecil. Sebagai upaya mengatasi kondisi mengompol, kurangilah konsumsi pemicu iritasi kemih ini.
Kondisi enuresis yang tak kunjung membaik atau sudah menetap sejak masa kanak-kanak adalah kondisi yang memerlukan pemeriksaan lanjut oleh dokter. Setelah dokter menentukan diagnosisnya, dokter akan mengatasi secara cepat fenomena mengompol ini. Adapun caranya sebagai berikut:

5. Pemberian Obat-obatan

Penggunaan obat-obatan untuk mengatasi enuresis umumnya disesuaikan dengan faktor penyebabnya. Misalnya, jika enuresis disebabkan oleh infeksi, kondisi ini perlu diobati dengan antibiotik.
Sementara itu, jika enuresis disebabkan oleh gangguan prostat, dokter perlu meresepkan obat-obatan untuk mengatasi gangguan prostat tersebut.
Selain itu, dokter juga akan memberikan obat-obatan seperti desmopressin dan imipramine. Namun, obat-obatan tersebut biasanya tidak dianjurkan untuk digunakan pada anak-anak di bawah usia 6 tahun.
ADVERTISEMENT

6. Terapi Listrik

Pada kasus tertentu, enuresis juga dapat ditangani dengan terapi listrik. Terapi ini berfungsi untuk memperkuat otot-otot kandung kemih dan memperbaiki gangguan saraf yang membuat seseorang sering mengompol. Terapi ini umumnya dapat dilakukan sebagai bagian dari fisioterapi.

7. Operasi

Tindakan operasi umumnya dilakukan pada kasus enuresis yang sudah menetap lama atau tidak membaik dengan penanganan lainnya. Selain itu, operasi juga bisa dilakukan untuk menangani enuresis akibat kondisi tertentu, seperti kandung kemih turun, kanker prostat, atau kanker kandung kemih.
Mengompol: Pengertian, Penyebab, hingga Cara Mengatasinya (236897)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi penyakit saluran kencing yang membuat seseorang mengalami fenomena ngompol. Foto: Pixabay

Kenapa Sudah Besar Tapi Masih Ngompol?

Tak cuma pada anak-anak, enuresis juga dapat terjadi pada orang dewasa. Hal ini bisa terjadi karena enuresis primer memang sudah dialami sejak mereka masih di usia kanak-kanak.
Namun, selain karena enuresis primer, enuresis pada orang dewasa terkadang juga bisa disebabkan oleh kondisi tertentu, seperti:
ADVERTISEMENT
  • Produksi urine berlebihan;
  • Inkontinensia urine;
  • Penyakit tertentu, seperti infeksi saluran kemih dan diabetes;
  • Gangguan hormon, misalnya diabetes insipidus atau kelainan pada hormon antidiuretik yang berperan dalam pengaturan proses buang air kecil.
Lantas, pada orang dewasa yang masih mengompol, pertanda apa? Menurut situs Emedicine Medscape, mengompol di usia dewasa juga menandakan adanya kondisi medis tertentu, seperti:
  • Kanker kandung kemih;
  • Penyakit pada prostat, seperti kanker prostat atau pembesaran kelenjar prostat jinak (BPH);
  • Kelainan saraf dan otak, misalnya cedera saraf tulang belakang, epilepsi, multiple sclerosis, atau penyakit Parkinson;
  • Sembelit berkepanjangan;
  • Gangguan saraf kemih atau neurogenic bladder;
  • Sleep apnea;
  • Penurunan organ panggul;
  • Penyumbatan pada saluran kemih.
Selain itu, enuresis juga bisa terjadi akibat efek samping obat-obatan tertentu seperti obat golongan diuretik, obat penenang, dan antihistamin.
ADVERTISEMENT
(VIO)
Apa yang dimaksud dengan mengompol?
chevron-down
Kenapa sudah besar tapi masih ngompol?
chevron-down
Apakah orang dewasa bisa ngompol?
chevron-down
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020