Konten dari Pengguna

Di Usia 20-an, Kenapa Kita Merasa Harus Sudah Punya Segalanya?

Aulia Talitha Irhab

Aulia Talitha Irhab

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aulia Talitha Irhab tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi quarter life crisis (Sumber: Unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi quarter life crisis (Sumber: Unsplash)

Tekanan untuk sukses, melihat pencapaian orang lain, dan ketidakpastian masa depan bisa membuat usia 20-an terasa lebih berat dari yang dibayangkan.

Usia 20-an sering dianggap sebagai masa ketika seseorang mulai menemukan arah hidup. Setelah lulus kuliah, kita diharapkan mulai bekerja, punya penghasilan sendiri, membangun karier, bahkan mulai memikirkan hubungan dan masa depan. Namun, kenyataannya tidak semua orang langsung tahu apa yang ingin mereka lakukan.

Ada yang masih bingung memilih pekerjaan, ada yang merasa salah jurusan, ada yang belum menemukan bidang yang cocok, dan ada juga yang sebenarnya sudah bekerja tetapi masih bertanya-tanya apakah jalan yang dipilih sudah benar.

Di tengah berbagai pertanyaan tersebut, muncul satu kondisi yang cukup sering dibicarakan anak muda, yaitu quarter-life crisis.

Istilah ini menggambarkan fase ketika seseorang mulai merasa bingung, cemas, atau ragu terhadap arah hidupnya. Bukan hanya soal pekerjaan, tetapi juga tentang hubungan, kondisi finansial, pencapaian, sampai pertanyaan sederhana seperti, “Sebenarnya gue mau ke mana?”

Ketika Teman Sebaya Terlihat Lebih Dulu Berhasil

Salah satu hal yang membuat fase ini semakin terasa berat adalah kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.

Memasuki usia 20-an, kita mulai melihat teman-teman sebaya mengambil jalan yang berbeda. Ada yang sudah mendapatkan pekerjaan, melanjutkan pendidikan, membuka bisnis, menikah, atau memiliki pencapaian tertentu.

Sementara itu, mungkin kita masih berada di tempat yang sama dan belum tahu langkah berikutnya.

Perasaan tertinggal kemudian muncul. Padahal, setiap orang memiliki kondisi dan perjalanan yang berbeda. Masalahnya, media sosial membuat pencapaian orang lain semakin mudah terlihat.

Kita bisa melihat kabar baik orang lain hampir setiap hari, sementara proses panjang dan kegagalan yang mereka alami biasanya tidak ikut ditampilkan. Akhirnya, kehidupan orang lain terlihat lebih maju dibandingkan kehidupan sendiri.

Dari sini, muncul tekanan untuk segera mengejar sesuatu hanya karena merasa tidak ingin tertinggal.

Tekanan untuk Segera Menentukan Masa Depan

Selain perbandingan sosial, tekanan juga bisa datang dari lingkungan sekitar.

Pertanyaan tentang pekerjaan, penghasilan, pasangan, atau rencana masa depan terkadang muncul ketika kita sendiri belum memiliki jawabannya. Di satu sisi, pertanyaan tersebut mungkin merupakan bentuk perhatian. Namun, jika terus muncul, seseorang bisa merasa bahwa dirinya harus segera memiliki kehidupan yang jelas.

Padahal, usia 20-an juga merupakan masa ketika seseorang masih banyak mencoba dan belajar.

Tidak semua keputusan harus langsung menjadi keputusan seumur hidup. Pekerjaan pertama belum tentu menjadi pekerjaan terakhir. Jurusan kuliah tidak selalu menentukan karier seseorang. Begitu juga dengan rencana hidup yang dibuat saat berusia 20 tahun, bisa saja berubah beberapa tahun kemudian.

Sayangnya, perubahan sering dianggap sebagai tanda bahwa kita tidak konsisten. Padahal, berubah pikiran setelah mendapatkan pengalaman baru merupakan hal yang wajar.

Ketidakpastian Justru Bisa Menjadi Bagian dari Proses

Salah satu hal yang membuat quarter-life crisis terasa melelahkan adalah keinginan untuk mendapatkan kepastian.

Kita ingin tahu pekerjaan apa yang cocok, kapan akan sukses, apakah pilihan yang dibuat sudah benar, dan seperti apa kehidupan beberapa tahun ke depan.

Masalahnya, tidak semua jawaban bisa ditemukan sekarang.

Ada hal-hal yang baru bisa dipahami setelah kita menjalaninya. Pilihan yang awalnya terlihat salah pun mungkin justru memberikan pengalaman yang dibutuhkan untuk menentukan langkah berikutnya.

Karena itu, merasa bingung tidak selalu berarti sedang gagal. Bisa jadi, kita sedang berada dalam proses mengenal diri sendiri dan menentukan apa yang sebenarnya penting.

Tidak Harus Langsung Punya Semua Jawaban

Menghadapi quarter-life crisis bukan berarti harus segera menemukan tujuan hidup yang besar.

Langkahnya bisa dimulai dari hal yang lebih sederhana. Misalnya, menentukan apa yang ingin dicoba dalam beberapa bulan ke depan, bukan memikirkan seluruh kehidupan sampai sepuluh tahun mendatang.

Kita juga bisa mulai membedakan antara sesuatu yang memang kita inginkan dan sesuatu yang kita kejar hanya karena melihat orang lain sudah memilikinya.

Kalau pekerjaan saat ini tidak sesuai harapan, misalnya, tidak berarti seluruh hidup sudah salah arah. Kita bisa mengevaluasi apa yang tidak cocok, mencari pengalaman lain, atau mempelajari kemampuan baru.

Hal yang sama berlaku untuk pencapaian lainnya. Tidak ada satu usia tertentu yang menentukan kapan seseorang harus sudah berhasil.

Berhenti Menganggap Hidup sebagai Perlombaan

Pada akhirnya, mungkin salah satu hal yang perlu dilakukan ketika mengalami quarter-life crisis adalah berhenti melihat kehidupan sebagai perlombaan.

Tidak ada garis waktu yang berlaku untuk semua orang. Ada orang yang menemukan kariernya di awal usia 20-an, ada yang baru menemukannya setelah beberapa kali berpindah pekerjaan. Ada yang langsung tahu apa yang diinginkan, sementara yang lain membutuhkan waktu lebih panjang untuk mengetahuinya.

Keduanya tetap valid.

Usia 20-an tidak harus menjadi masa ketika semua hal sudah selesai ditentukan. Bisa saja justru menjadi masa untuk mencoba, salah memilih, belajar, mengubah keputusan, dan memulai lagi.

Jadi, kalau saat ini masih merasa bingung dengan masa depan, mungkin kita tidak benar-benar tertinggal. Kita hanya sedang berjalan dengan waktu yang berbeda.

Dan mungkin, untuk sementara, tidak apa-apa kalau belum punya semua jawabannya.