Konten dari Pengguna

Memangnya Semua Orang Harus Menikah? Ketika Ingin dan Takut Datang Bersamaan

Aulia Talitha Irhab

Aulia Talitha Irhab

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aulia Talitha Irhab tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Pernikahan (Sumber: Unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pernikahan (Sumber: Unsplash)

Tentang keinginan menikah yang kadang datang bersamaan dengan berbagai kekhawatiran.

Ada satu pertanyaan yang rasanya semakin sering muncul ketika seseorang sudah dianggap cukup umur: “Kapan nikah?

Kadang datang dari keluarga, teman, tetangga, bahkan orang yang sebenarnya nggak terlalu dekat. Ada yang bertanya sambil bercanda, ada juga yang benar-benar serius. Awalnya mungkin biasa saja. Tapi kalau terus ditanyakan, lama-lama rasanya seperti ada target hidup yang harus segera dicapai.

Apalagi ketika teman-teman sebaya mulai satu per satu menikah. Ada yang tiba-tiba dapat undangan dari teman kuliah, teman sekolah, atau bahkan orang yang dulu sering nongkrong bareng. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan hidup sendiri dengan hidup mereka.

“Dia sudah nikah, gue kapan?”

Padahal, menikah seharusnya bukan perlombaan. Nggak ada usia tertentu yang membuat seseorang otomatis lebih siap daripada orang lain. Ada yang memang ingin menikah di usia muda, ada yang baru ingin menikah setelah merasa mapan, dan ada juga yang belum tahu apakah pernikahan memang sesuatu yang mereka inginkan.

Yang menarik, sebenarnya banyak orang yang ingin menikah sekaligus takut menikah.

Kita bisa saja membayangkan punya pasangan, membangun rumah, dan menjalani hidup bersama seseorang. Tapi di saat yang sama, ada banyak hal yang membuat kita berpikir ulang. Bagaimana kalau ternyata salah memilih pasangan? Bagaimana kalau orang yang sekarang terlihat baik ternyata berubah setelah menikah? Bagaimana kalau ada perselingkuhan? Bagaimana kalau hubungan yang awalnya terasa aman justru berujung pada kekerasan dalam rumah tangga?

Belum lagi soal finansial.

Menikah bukan cuma tentang dua orang yang saling mencintai. Ada biaya hidup, tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari, pekerjaan, dan berbagai keputusan yang harus dipikirkan bersama. Belum lagi kalau nantinya punya anak.

Masalahnya, cocok saja ternyata belum cukup untuk membuat seseorang siap menikah.

Cocok dan saling mencintai memang penting. Tapi kehidupan setelah menikah juga membutuhkan kesiapan lain yang nggak kalah penting.

Karena ketika sudah punya anak, tanggung jawabnya bukan lagi hanya tentang dua orang dewasa yang memilih hidup bersama. Ada anak yang ikut menerima dampak dari keputusan tersebut. Anak nggak pernah bisa memilih dilahirkan dalam kondisi seperti apa, termasuk ketika orang tuanya belum siap secara finansial tetapi tetap merasa harus punya anak karena menganggap itu bagian wajib dari pernikahan.

Bukan berarti seseorang harus kaya dulu baru boleh menikah atau punya anak. Kehidupan memang nggak pernah benar-benar bisa diprediksi. Tapi menurut gue, memikirkan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan anak bukan sesuatu yang berlebihan.

Anak membutuhkan makanan, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, dan perhatian. Semua itu membutuhkan biaya dan tenaga yang nggak sedikit. Jadi kalau kondisi belum memungkinkan, menunda punya anak justru bisa menjadi bentuk tanggung jawab, bukan berarti seseorang tidak menyukai anak atau tidak ingin berkeluarga.

Dari situ, rasa takut terhadap pernikahan sebenarnya nggak selalu berarti seseorang punya trauma atau nggak percaya pada cinta. Kadang kita cuma mulai sadar bahwa menikah adalah keputusan besar yang konsekuensinya panjang.

Kita juga hidup di masa ketika berbagai cerita tentang rumah tangga jauh lebih mudah ditemukan. Perselingkuhan, perceraian, masalah ekonomi, sampai KDRT bisa muncul di media sosial hampir setiap hari. Kita melihat hubungan orang lain yang awalnya terlihat baik-baik saja, lalu ternyata menyimpan banyak masalah.

Wajar kalau akhirnya muncul pikiran, “Kalau gue menikah nanti, apakah gue bisa terhindar dari hal-hal seperti itu?

Jawabannya tentu nggak ada yang bisa menjamin.

Tapi justru karena nggak ada jaminan, keputusan menikah seharusnya nggak dibuat hanya karena umur sudah dianggap cukup atau karena orang-orang di sekitar mulai bertanya.

Sayangnya, tekanan untuk menikah kadang datang ketika seseorang bahkan masih sibuk memahami dirinya sendiri. Ada yang belum stabil secara finansial, masih ingin mengejar pendidikan atau karier, belum menemukan pasangan yang tepat, atau memang belum ingin menjalani kehidupan rumah tangga.

Tapi jawaban “belum” sering dianggap seperti masalah yang harus segera diselesaikan.

Padahal, belum mau menikah bukan berarti selamanya tidak mau menikah. Sama seperti ingin menikah bukan berarti harus segera melakukannya.

Mungkin yang perlu dipertanyakan bukan “Kenapa belum nikah?”, tetapi “Kalau nanti menikah, apakah keputusan itu benar-benar datang dari diri sendiri?”

Karena pada akhirnya, keluarga boleh punya harapan. Teman boleh bercanda. Lingkungan boleh punya standar tentang usia ideal menikah. Tapi orang-orang tersebut tidak akan ikut menjalani kehidupan setelah pernikahan itu terjadi.

Yang akan menjalaninya adalah kita.

Jadi kalau seseorang memang ingin menikah, silakan. Kalau belum siap, nggak perlu dipaksakan. Kalau masih takut, rasa takut itu juga nggak harus langsung dianggap sebagai tanda bahwa kita tidak cocok dengan pernikahan.

Mungkin justru rasa takut itu muncul karena kita memahami bahwa menikah bukan sekadar soal menemukan seseorang untuk dicintai. Ada kehidupan yang harus dibangun, masalah yang harus dihadapi, dan kalau nantinya punya anak, ada kehidupan lain yang ikut menjadi tanggung jawab kita.

Jadi, emangnya semua orang harus menikah?

Nggak tahu.

Tapi mungkin nggak semua orang harus punya jawaban yang sama. Yang penting, ketika akhirnya memilih untuk menikah, semoga alasannya bukan cuma karena sudah terlalu sering mendengar pertanyaan “kapan?”, melainkan karena memang sudah siap mengatakan “iya” pada kehidupan yang akan dijalani setelahnya.