Ancaman Tersembunyi di Balik Sekolah Rakyat 24/7

Doktor lulusan di Macquarie University, Australia. Pendiri PREDIKT (www.predikt.id), Ketua Umum Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia 2021 - 2027
·waktu baca 16 menit
Tulisan dari Avianto Amri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apa Itu Sekolah Rakyat?
Sekolah Rakyat merupakan sebuah program nasional yang lahir dari komitmen pemerintah dalam mempercepat pengentasan kemiskinan melalui jalur pendidikan. Program ini mulai beroperasi pada tahun ajaran 2025/2026 sebagai tindak lanjut Instruksi Presiden No. 8 Tahun 2025 tentang percepatan penghapusan kemiskinan ekstrem. Tujuannya sederhana namun strategis: membuka akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang selama ini terhalang oleh keterbatasan biaya maupun fasilitas.
Berbeda dari sekolah reguler, Sekolah Rakyat dirancang dengan model pendidikan berasrama (boarding school). Peserta didik tidak hanya mengikuti pembelajaran formal di kelas, tetapi juga tinggal penuh di asrama, terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler, dan memperoleh pembinaan karakter sepanjang hari. Dengan pola 24 jam sehari, 7 hari seminggu, Sekolah Rakyat diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih terarah, mendukung perkembangan akademik sekaligus sosial-emosional, dan pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup mereka di masa depan.
Hingga Agustus 2025, pemerintah mencatat sudah ada 100 Sekolah Rakyat yang beroperasi, sementara 65 lainnya sedang dalam tahap persiapan. Jumlah ini akan terus bertambah seiring dengan target pembangunan yang dibagi dalam beberapa gelombang, mengingat Sekolah Rakyat merupakan salah satu proyek prioritas nasional dalam agenda pembangunan manusia.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak Sekolah Rakyat berdiri dengan memanfaatkan bangunan pemerintah hasil alih fungsi, seperti balai-balai milik Kementerian Sosial, asrama haji, fasilitas pemda, bahkan gedung perguruan tinggi yang sudah tidak terpakai. Strategi ini dilakukan untuk mempercepat implementasi dan menekan biaya pembangunan, tetapi menghadirkan tantangan besar dari sisi keamanan dan kesiapsiagaan bencana.
Bangunan-bangunan tersebut pada umumnya tidak sejak awal dirancang sebagai sekolah berasrama. Artinya, berbagai aspek krusial—mulai dari jalur evakuasi darurat, sistem proteksi kebakaran, standar keamanan struktur bangunan, hingga kapasitas ruang asrama untuk menampung ratusan peserta didik—sering kali tidak sesuai dengan kebutuhan sekolah yang beroperasi 24/7. Kondisi ini membuat Sekolah Rakyat berada dalam posisi rawan, terutama ketika menghadapi potensi bencana besar seperti gempa bumi, kebakaran, atau banjir bandang yang dapat terjadi sewaktu-waktu, termasuk pada malam hari ketika peserta didik sedang beristirahat.
Kerangka regulasi yang ada sebenarnya telah memberi dasar kuat untuk mewujudkan semua satuan pendidikan (termasuk sekolah) untuk menjadi aman bencana. Perka BNPB No. 4 Tahun 2012 tentang Sekolah/Madrasah Aman dari Bencana menetapkan prinsip madrasah/ sekolah aman bencana, sementara Permendikbud No. 33 Tahun 2019 memperkuatnya melalui program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang wajib diinternalisasi ke satuan pendidikan. Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 2021 tentang Bangunan Gedung, juga menegaskan pentingnya standar teknis keselamatan dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF) sebelum sebuah bangunan digunakan.
Artinya bila regulasi ini diterapkan secara konsisten ke dalam pembangunan dan operasional Sekolah Rakyat 24/7, banyak risiko dapat dicegah sejak awal. Kesenjangan yang terjadi lebih pada implementasi dan pengawasan, bukan ketiadaan aturan.
Di sisi lain, Asta Cita yang menjadi arah pemerintahan saat ini juga memperkuat urgensi agenda ini. Misi untuk membangun SDM unggul berbasis sains, teknologi, dan pendidikan menuntut sekolah yang aman, inovatif, dan memanfaatkan sistem peringatan dini berbasis teknologi. Sementara itu, misi untuk menyelaraskan kehidupan harmonis dengan lingkungan menegaskan bahwa pembangunan pendidikan tidak boleh mengabaikan daya dukung alam dan risiko bencana. Dengan demikian, penguatan Sekolah Rakyat aman bencana bukan hanya respons teknis, tetapi bagian dari pencapaian Indonesia Emas 2045.
Situasi yang Dihadapi Sekolah Rakyat
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan risiko bencana tertinggi di dunia, berada di pertemuan tiga lempeng tektonik besar dan memiliki kondisi geografis yang rawan hidrometeorologi. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB, 2024) mencatat lebih dari 3.400 kejadian bencana dalam satu tahun, dengan mayoritas berupa bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem. Di sektor pendidikan, ancaman ini sangat signifikan: 57% satuan pendidikan di Indonesia berada dalam paparan risiko multi-bencana, termasuk gempa bumi (78%), banjir (38%), dan longsor (9%). Angka ini menggambarkan bahwa lebih dari separuh sekolah di Indonesia memiliki kerentanan tinggi yang sewaktu-waktu dapat mengganggu keselamatan warga sekolah dan keberlangsungan pembelajaran.
Dalam konteks Sekolah Rakyat yang berasrama dan beroperasi 24/7, risiko ini menjadi berlipat ganda. Berbeda dengan sekolah reguler yang aktivitasnya terbatas di siang hari, Sekolah Rakyat harus memastikan keselamatan peserta didik selama 24 jam penuh, termasuk pada malam hari ketika mereka sedang tidur. Hal ini menghadirkan tantangan besar dalam tiga aspek utama: sarana-prasarana, manajemen PRB, dan literasi warga sekolah.
1. Ketidaksiapan Sarana dan Prasarana
Sebagian besar Sekolah Rakyat berdiri di atas bangunan alih fungsi, misalnya balai pelatihan, asrama haji, atau fasilitas pemerintah daerah. Bangunan-bangunan tersebut tidak sejak awal dirancang untuk menampung ratusan peserta didik dengan kebutuhan boarding school, sehingga banyak standar minimum keselamatan bencana yang perlu diperhatikan, antara lain:
Jalur evakuasi darurat yang terbatas, berpotensi menimbulkan bottle-neck saat evakuasi massal.
Sistem proteksi kebakaran otomatis seperti alarm asap, sprinkler, dan hidran yang tidak operasional dan jarang dipantau.
Titik evakuasi vertikal (atap/lantai atas yang aman) yang tidak disiapkan untuk mengantisipasi banjir bandang.
Akses inklusif bagi penyandang disabilitas yang sering terabaikan.
Sehingga, asrama yang padat justru bisa menjadi perangkap berbahaya bila bencana datang mendadak—gempa besar di malam hari, korsleting yang memicu kebakaran, atau banjir bandang yang merendam lantai dasar.
2. Manajemen Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang Lemah
Selain sarana fisik, aspek manajemen dan kesiapsiagaan di Sekolah Rakyat juga masih menghadapi tantangan besar:
Belum semua Sekolah Rakyat memiliki Tim Siaga Bencana yang bertugas penuh 24 jam dengan sistem shift.
Latihan evakuasi belum dilakukan atau masih terbatas pada siang hari, padahal risiko besar justru muncul pada malam hari ketika peserta didik sedang tidur.
Rasio pengasuh dan petugas siaga malam hari relatif rendah dibanding jumlah peserta didik yang mencapai ratusan, sehingga evakuasi massal berisiko chaos dan lambat.
Tanpa perencanaan manajemen yang matang, bencana yang datang tiba-tiba dapat menimbulkan kepanikan massal dan memperbesar potensi jatuhnya korban.
3. Rendahnya Literasi dan Edukasi PRB
Faktor krusial lain adalah kesadaran dan pemahaman warga sekolah tentang peran mereka saat bencana terjadi. Sistem manajemen PRB, betapapun baiknya, hanya efektif bila seluruh warga sekolah tahu apa yang harus dilakukan.
Di banyak Sekolah Rakyat, peserta didik baru pertama kali merasakan pola hidup berasrama. Guru dan pengasuh pun belum semuanya terlatih menghadapi skenario darurat yang kompleks seperti evakuasi malam hari. Tanpa edukasi PRB yang menyeluruh, seluruh sistem bisa gagal ketika situasi genting benar-benar datang.
Karena itu, peran edukasi dan kampanye PRB menjadi genting:
Peserta didik harus dibekali keterampilan dasar menghadapi gempa, kebakaran, atau banjir saat tidur di asrama.
Buddy system harus diterapkan agar peserta didik saling menjaga, khususnya untuk anak kecil atau penyandang disabilitas.
Guru, pengasuh, dan peserta didik perlu terlatih dalam Pertolongan Pertama, penggunaan APAR, dan prosedur evakuasi malam hari.
Tanpa kesadaran kolektif ini, Sekolah Rakyat justru berisiko menjadi ruang rawan korban massal. Sebaliknya, bila edukasi PRB diperkuat sejak awal, sekolah ini bisa menjadi model sekolah tangguh bencana yang tidak hanya melindungi anak-anak, tetapi juga membentuk generasi disiplin dan siap menghadapi krisis.
Ancaman Nyata yang Tersembunyi
Kombinasi antara sarana yang tidak memadai dan manajemen yang belum siap menjadikan Sekolah Rakyat menghadapi ancaman tersembunyi. Misalnya:
Gempa bumi besar yang terjadi saat dini hari dapat meruntuhkan bagian bangunan lama, memutus listrik, dan membuat peserta didik terjebak di dalam asrama.
Kebakaran malam hari akibat korsleting dapat dengan cepat meluas di gedung berasrama tanpa sistem sprinkler, sementara pintu evakuasi terkunci atau sulit diakses.
Banjir bandang tiba-tiba dapat menenggelamkan lantai dasar, membuat ratusan peserta didik tidak sempat keluar dan harus menyelamatkan diri ke lantai atas yang belum tentu aman.
Risiko-risiko ini menggambarkan bahwa tanpa penguatan aspek PRB yang sesuai dengan karakter boarding school, Sekolah Rakyat justru bisa berubah dari instrumen pengentasan kemiskinan menjadi titik rawan bencana baru.
Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara cita-cita Sekolah Rakyat sebagai ruang belajar yang aman dan inklusif dengan kenyataan di lapangan. Untuk menjembatani kesenjangan ini, perlu ditinjau bagaimana kerangka Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) dapat diadaptasi secara khusus pada konteks sekolah berasrama 24/7.
Analisis Kerangka SPAB dan Pengalaman Indonesia
Pemerintah Indonesia melalui Permendikbud No. 33 Tahun 2019 telah menetapkan Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) sebagai pedoman nasional. SPAB dirancang untuk memastikan bahwa seluruh sekolah di Indonesia mampu melindungi warganya dari ancaman bencana dan menjamin keberlanjutan pendidikan. Kerangka SPAB terdiri atas tiga pilar utama:
1. Fasilitas Sekolah Aman
a. Menjamin bahwa bangunan sekolah dirancang dan dikelola sesuai standar keselamatan terhadap potensi bahaya (gempa, banjir, kebakaran), termasuk adanya Perizinan Bangunan Gedung (PBG) dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF) ketika gedung dialihfungsikan menjadi sekolah.
b. Mencakup lokasi yang aman, struktur bangunan tahan bencana, jalur evakuasi darurat, titik kumpul, perlengkapan darurat, dan akses inklusif.
2. Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan
a. Menekankan pada penyusunan kebijakan dan prosedur sekolah dalam menghadapi bencana, mulai dari pra, saat, dan pascabencana.
b. Termasuk pembentukan Tim Siaga Bencana Sekolah, rencana evakuasi, sistem peringatan dini, hingga rencana kesinambungan pembelajaran pasca bencana.
3. Pendidikan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dan Resiliensi
a. Integrasi materi PRB ke dalam kurikulum, ekstrakurikuler, dan budaya sekolah.
b. Mendorong peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan memahami peran mereka dalam kesiapsiagaan.
Pembelajaran Penting dari Implementasi SPAB
Sejak diluncurkan, program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) telah dijalankan di berbagai daerah dengan dukungan pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta mitra non-pemerintah. Berbagai pengalaman implementasi ini memberikan sejumlah pembelajaran penting yang relevan untuk Sekolah Rakyat 24/7:
Peran Kepala Sekolah dan Guru Sangat Menentukan. Keberlanjutan SPAB di sekolah sangat bergantung pada kepemimpinan kepala sekolah dan keterlibatan guru. Kepala sekolah berperan sebagai motor penggerak dalam memastikan PRB masuk ke dalam kebijakan sekolah, sementara guru menjadi ujung tombak yang menanamkan budaya kesiapsiagaan dalam aktivitas sehari-hari. Tanpa kepemimpinan yang konsisten, SPAB cenderung berjalan sebatas proyek jangka pendek.
Keterlibatan Anak Sangat Krusial. Anak-anak tidak boleh hanya diposisikan sebagai objek perlindungan, melainkan harus dilibatkan sebagai aktor utama dalam keseluruhan program. Perspektif anak dalam menghadapi bencana sering kali berbeda dari orang dewasa—misalnya bagaimana mereka merasakan rasa takut, bagaimana mereka saling membantu, atau bagaimana mereka menemukan jalur evakuasi. Melibatkan anak secara aktif memperkuat efektivitas SPAB sekaligus membangun generasi yang lebih tangguh.
Sarana dan Prasarana Darurat Menjadi Kunci. Implementasi SPAB menunjukkan bahwa kesiapan fisik sekolah merupakan faktor penentu. Jalur evakuasi, sistem peringatan dini, perlengkapan darurat seperti kotak Pertolongan Pertama (atau P3K), alat pemadam api ringan (APAR), dan penerangan darurat terbukti sangat membantu mengurangi risiko ketika bencana terjadi. Tanpa dukungan sarana-prasarana yang memadai, rencana kontinjensi sulit dijalankan dengan efektif.
Simulasi Rutin Wajib Dilakukan. Salah satu pembelajaran utama dari SPAB adalah pentingnya simulasi yang dilakukan secara rutin, minimal dua kali dalam setahun. Simulasi bukan hanya untuk menguji SOP, tetapi juga membangun refleks alami warga sekolah saat menghadapi bencana. Untuk konteks Sekolah Rakyat berasrama, latihan ini perlu ditingkatkan—setidaknya satu kali simulasi dilakukan pada malam hari, untuk mengantisipasi skenario bencana saat peserta didik sedang tidur dan kondisi jauh lebih menantang.
Kesenjangan pada Sekolah Rakyat 24/7
Meskipun kerangka SPAB sudah ada, ketika diterapkan pada Sekolah Rakyat yang menggunakan sistem asrama, terdapat sejumlah kesenjangan:
Fasilitas: SPAB menekankan keamanan bangunan sekolah reguler, namun belum ada standar teknis khusus untuk asrama 24/7 (proteksi kebakaran otomatis, evakuasi malam, titik evakuasi vertikal banjir).
Manajemen PRB: Tim Siaga Bencana di sekolah reguler beroperasi terbatas jam sekolah, sedangkan Sekolah Rakyat membutuhkan sistem siaga penuh sepanjang malam.
Pendidikan PRB: Materi PRB sudah ada, tetapi belum menyentuh aspek boarding school seperti manajemen asrama, buddy system, dan peran pengasuh malam hari.
Analisis ini menunjukkan bahwa SPAB dapat menjadi kerangka yang kuat, tetapi perlu penyesuaian khusus untuk konteks Sekolah Rakyat 24/7. Tanpa adaptasi, kerangka yang ada berisiko tidak memadai untuk menghadapi ancaman nyata yang dihadapi oleh sekolah berasrama.
Rekomendasi Kebijakan: Sekolah Rakyat 24/7 Aman Bencana
Agar Sekolah Rakyat benar-benar menjadi wahana pendidikan yang aman, inklusif, dan tangguh bencana, penerapan tiga pilar SPAB harus diperkuat dan diadaptasi untuk konteks boarding school. Berikut rekomendasi yang perlu segera diambil:
1. Pilar Fasilitas Sekolah Aman. Menjamin sarana dan prasarana yang aman untuk keberlangsungan hidup peserta didik sepanjang 24 jam. Langkah konkrit yang perlu dilakukan:
Audit struktur dan non-struktur setiap gedung Sekolah Rakyat sebelum operasional → termasuk daya tahan gempa, risiko kebakaran, dan paparan banjir.
Wajibkan PBG dan SLF sebagai syarat penggunaan bangunan hasil alih fungsi.
Pengadaaan peralatan darurat termasuk pemasangan sistem proteksi kebakaran otomatis (misalnya alarm asap, sprinkler, dan hidran) yang mencakup seluruh lingkungan sekolah rakyat.
Sediakan jalur evakuasi darurat yang memadai, rambu evakuasi yang dapat dilihat di malam hari, serta penerangan darurat untuk evakuasi malam hari.
Bangun titik evakuasi vertikal untuk lokasi rawan banjir, dilengkapi akses aman bagi penyandang disabilitas.
2. Pilar Manajemen Bencana di Satuan Pendidikan. Mengembangkan tata kelola dan prosedur siaga yang sesuai dengan operasi 24/7. Langkah konkrit yang perlu dilakukan:
Bentuk Tim Siaga Bencana yang lingkup kerjanya mencakup siaga 24 jam (dengan sistem shift).
Susun SOP tanggap darurat dan rencana kontingensi, termasuk evakuasi multi-bencana (gempa dan kebakaran atau banjir bandang di malam hari).
Lakukan latihan evakuasi minimal 2 kali/tahun, termasuk simulasi malam hari dalam kondisi simulasi listrik padam.
Bangun sistem komunikasi darurat yang terhubung dengan BPBD, Damkar, PMI, fasilitas kesehatan terdekat, serta komunitas di sekitar sekolah rakyat.
3. Pilar Pendidikan Pencegahan dan PRB. Menginternalisasi budaya siaga bencana bagi seluruh warga sekolah. Langkah konkrit yang perlu dilakukan:
Integrasikan materi PRB ke dalam kurikulum Sekolah Rakyat, termasuk pelatihan praktis kesiapsiagaan di asrama.
Terapkan buddy system (peserta didik saling menjaga, khususnya bagi Anak Berkebutuhan Khusus dan anak-anak lebih muda) dalam setiap skenario evakuasi.
Latih seluruh tenaga kependidikan, pengasuh, dan peserta didik dalam pertolongan pertama, penggunaan APAR, dan prosedur evakuasi malam hari.
Kembangkan budaya siaga bencana di sekolah. Gunakan poster dan media ajar yang menarik untuk memahami tata cara evakuasi, simulasi bersama komunitas sekitar, hingga peringatan dini yang efektif dan mudah dimengerti.
Langkah Mendesak untuk Sekolah Rakyat
Untuk mencegah risiko langsung, pemerintah perlu segera mengambil langkah-langkah prioritas berikut:
Audit Risiko Bencana Multi Ancaman. Lakukan audit risiko bencana di seluruh Sekolah Rakyat menggunakan InaRISK untuk memetakan ancaman bahaya prioritas (misalnya gempa, banjir, kebakaran), lakukan audit mandiri dengan daftar tilik sederhana, serta menentukan prioritas intervensi.
Perbaikan dan Penguatan Sarana dan Prasarana. Segera lakukan perbaikan minimum pada bangunan eksisting, termasuk: penambahan jalur evakuasi, pengadaan peralatan darurat (misalnya APAR, kapak dan tali untuk pertolongan evakuasi, dan senter) pemasangan alat pemadam kebakaran dan alarm asap, penerangan darurat, serta penandaan jalur evakuasi yang efektif digunakan pada malam hari.
Simulasi Evakuasi Malam Hari. Laksanakan simulasi malam hari di seluruh Sekolah Rakyat sebelum akhir tahun ajaran pertama. Simulasi harus menguji respons terhadap skenario gempa, kebakaran, dan banjir saat peserta didik tidur.
Tim Siaga Bencana 24/7 di Asrama. Tetapkan Tim Siaga Bencana termasuk saat malam hari dengan kemampuan melakukan respons tanggap darurat (Pertolongan pertama, penggunaan APAR, SOP evakuasi), sehingga selalu ada personel siap bertindak ketika bencana datang tiba-tiba. Libatkan peserta didik dan warga sekolah rakyat lainnya dalam Tim Siaga Bencana.
Edukasi PRB untuk Semua Warga Sekolah. Pastikan seluruh peserta didik, guru, dan pengasuh memahami peran mereka dalam keadaan darurat, termasuk penerapan buddy system agar peserta didik saling menjaga.
Kita tidak boleh menunggu bencana menjadi guru yang kejam. Sekolah Rakyat hadir dengan ambisi untuk menghapus kemiskinan, bukan melahirkan risiko baru. Karena itu, menjadikan setiap Sekolah Rakyat aman bencana bukanlah pilihan, melainkan keharusan mendesak. Hanya dengan langkah berani dan cepat, kita bisa memastikan anak-anak belajar dengan tenang, tidur dengan aman, dan tumbuh menjadi generasi yang tangguh menghadapi masa depan.
Ancaman Bencana yang Mengintai di Malam Hari di Asrama
Sekolah Rakyat berasrama menghadirkan lingkungan belajar yang berbeda dari sekolah reguler. Peserta didik tinggal penuh di lingkungan sekolah, tidur bersama ratusan peserta didik lain dalam satu kompleks asrama, dan menggantungkan keselamatan mereka sepenuhnya pada fasilitas dan manajemen sekolah. Kondisi ini menciptakan potensi risiko yang sangat tinggi, terutama ketika bencana datang di malam hari.
1. Gempa Bumi di Tengah Tidur
Gempa besar yang terjadi saat dini hari bisa menimbulkan kepanikan massal. Peserta didik yang masih mengantuk dan bingung berisiko terjebak dalam bangunan yang retak atau runtuh. Jika jalur evakuasi terbatas dan penerangan darurat tidak tersedia, proses evakuasi bisa berakhir fatal. Risiko semakin tinggi jika asrama adalah bangunan lama yang tidak didesain tahan gempa.
2. Kebakaran Malam Akibat Korsleting
Banyak bangunan eksisting yang dialihfungsikan menjadi asrama belum dilengkapi sistem proteksi kebakaran otomatis. Korsleting listrik atau penggunaan lilin pada malam hari dapat memicu kebakaran cepat menyebar, sementara anak-anak masih tidur dan pintu asrama terkunci. Dalam kondisi gelap, penuh asap, dan panik, evakuasi massal menjadi sangat sulit tanpa alarm asap, sprinkler, dan pintu darurat yang berfungsi baik.
3. Banjir Bandang yang Datang Tiba-Tiba
Banjir bandang sering kali datang tanpa peringatan jelas, terutama pada malam hari saat hujan deras di hulu sungai. Lantai dasar asrama bisa terendam hanya dalam hitungan menit, memutus akses keluar dan membuat anak-anak terperangkap. Tanpa titik evakuasi vertikal yang memadai, ratusan peserta didik bisa terjebak di lantai atas tanpa akses air bersih maupun jalur evakuasi aman.
Karakteristik Risiko Malam Hari
Ada tiga hal yang membuat malam hari jauh lebih berbahaya bagi asrama:
Kesiapan Fisik Rendah: Peserta didik dalam kondisi tidur, refleks lebih lambat, dan butuh waktu untuk menyadari bahaya.
Keterbatasan Personil: Pengasuh dan guru biasanya jumlahnya minimal di malam hari, sehingga rasio pengawasan tidak sebanding dengan jumlah peserta didik.
Keterbatasan Infrastruktur: Banyak asrama belum memiliki sistem penerangan darurat, alarm, maupun jalur evakuasi khusus untuk malam hari.
Kombinasi ketiga faktor ini menjadikan malam hari sebagai waktu paling rawan bagi sekolah berasrama. Dalam skenario terburuk, bencana dapat berubah menjadi tragedi massal hanya dalam hitungan menit.
Ancaman bencana di malam hari di lingkungan asrama menunjukkan bahwa Sekolah Rakyat 24/7 membutuhkan standar khusus di luar regulasi sekolah reguler. Tanpa intervensi kebijakan yang tepat, risiko tersembunyi ini dapat berujung pada kehilangan nyawa anak-anak yang seharusnya dilindungi.
Contoh Kasus Nyata
Ancaman bencana di lingkungan berasrama bukanlah sekadar berandai-andai, tetapi kenyataan yang sudah berulang kali menelan korban, baik di Indonesia maupun di berbagai negara lain. Dari kebakaran asrama yang menewaskan puluhan siswa, runtuhnya bangunan sekolah akibat gempa, hingga banjir bandang yang menjebak anak-anak di tempat mereka beristirahat—semua menjadi pengingat keras bahwa sekolah berasrama memiliki kerentanan khusus. Deretan kasus ini menunjukkan bahwa tanpa langkah pencegahan yang serius, Sekolah Rakyat 24/7 pun berisiko menghadapi tragedi serupa.
1. Kebakaran Asrama Sekolah Agama di Karawang (2022)
Di sebuah asrama pondok pesantren di Karawang, terjadi kebakaran sangat tragis yang menewaskan delapan pelajar berusia antara 7–13 tahun saat mereka tertidur. Kebakaran ini diakibatkan korsleting listrik, dan karena berlangsung di malam hari, proses evakuasi menjadi sangat sulit.
2. Kebakaran Malam di Asrama Sekolah Polisi Negara (SPN) Padang (2025)
Pada 25 Mei 2025, sebuah kebakaran besar melanda Blok E asrama SPN Polda Sumbar di Padang pada malam hari. Sekitar 10 unit hunian hangus terbakar, dengan luas area terdampak mencapai 1.500 meter persegi, sementara potensi dampaknya mencapai 3.000 meter persegi. Beruntung tidak ada korban jiwa, namun kerugian material diperkirakan mencapai miliaran rupiah.
3. Keruntuhan Asrama Akibat Gempa di Turki (2003)
Gempa dahsyat berkekuatan 6,4 Mw mengguncang Provinsi Bingöl, Turki pada dini hari tanggal 1 Mei 2003. Sebanyak 84 korban tewas terjadi ketika sebuah blok asrama sekolah runtuh, menewaskan banyak peserta didik di dalamnya. Kasus ini menunjukkan bahwa asrama sekolah, jika tidak tahan gempa dan tidak memiliki sistem evakuasi malam hari yang memadai, bisa menjadi salah satu struktur paling fatal saat bencana.
4. Banjir Bandang di Camp Mystic, Texas (2025)
Pada tanggal 4 Juli 2025, banjir bandang dahsyat melanda Camp Mystic — sebuah perkemahan musim panas untuk anak perempuan di Texas Hill Country. Gelombang deras air tiba-tiba menyapu tenda dan fasilitas camp, menewaskan setidaknya 51 orang, termasuk banyak anak, dan menyebabkan puluhan orang hilang. Banyak dari mereka terjebak karena datangnya banjir di malam hari, dengan sedikit kesempatan untuk evakuasi efektif.
Kasus ini menunjukkan bagaimana banjir bandang di fasilitas tempat anak-anak sedang tinggal dapat berakibat tragedi besar bila tidak ada mekanisme peringatan dini, tim siaga 24/7, dan perlengkapan darurat yang memadai.
