Konten dari Pengguna

Putri Mahkota Swedia Juga Jadi Korban Pelaku Skandal Sex Nobel

Award News

Award News

oleh : pandangan Jogja

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Award News tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Putri Mahkota Swedia Juga Jadi Korban Pelaku Skandal Sex Nobel
zoom-in-whitePerbesar

Putri Mahkota Swedia, Victoria, diduga ikut menjadi korban pelecehan seksual Jean-Claude Arnault, suami dari salah seorang anggota Akademi Swedia yang dalam sebulan terakhir telah membuat runtuh lembaga pemberi penghargaan Nobel Sastra tersebut.

Surat kabar Swedia, Svenska Dagbladet, memuat berita mengejutkan itu beberapa hari lalu yang segera dikutip oleh media internasional seperti BBC, Telegraph, dan People. Pelecehan terjadi di sebuah acara resmi Akademi Swedia, lembaga bentukan Kerajaan Swedia, yang artinya berada di bawah kekuasaan ayah Victoria, Carl XVI Gustaf.

Saat itu tahun 2006. Victoria yang baru berusia 27 tahun sedang mengikuti acara Akademi tiba-tiba Arnault yang saat itu berusia 54 tahun mendekati Victoria dari belakang.

“Dia datang mengintai dari belakang dan saya melihat tangannya mendarat di leher Victoria dan terus meraba ke bawah. Rabaannya terus meluncur ke bawah,” kata Ebba Witt-Brattström, 64 tahun, seorang sarjana dalam literatur perbandingan.

Ajudan perempuan Victoria, seorang pembantu berseragam, kemudian melompat untuk menghentikan perbuatan Arnault.

“Dia langsung berusaha menghentikan Arnault. Dia meraihnya, dan ‘whop’, dia pergi. Putri Mahkota menjadi kaget. Saya kira dia tidak pernah mengalami pelecehan seperti itu. Dia hanya terlihat kaget dan seperti bilang 'apa?'"

Jean Arnault menjadi pusat dari segala krisis yang menimpa Akademi Swedia dalam sebulan terakhir. Pada bulan November tahun lalu, 18 wanita mengaku kepada koran terbesar di Swedia Dagens Nyheter, bahwa telah menjadi korban dari kejahatan seksual Arnault, dari pelecehan rabaan, kata-kata, hingga pemerkosaan.

Arnault sendiri telah menikah dengan Katarina Frostenson, salah satu anggota Akademi. Pasangannya itu terlibat beberapa kesalahan fatal, seperti pembocoran nama pemenang Hadiah Nobel Sastra dan pendanaan Akademi untuk lembaga yang mereka berdua kelola--sesuatu yang sangat dilarang dalam peraturan Akademi.

Menghadapi tuduhan yang berpotensi makin memperberat kesalahan kliennya, pengacara Arnault, Björn Hurtig, mengatakan kepada The Telegraph, “Klien saya sangat menyangkal tuduhan ini. Dia mengklaim bahwa desas-desus jahat ini melayani satu tujuan; untuk mengkambing hitamkan namanya dan merusaknya."

Margareta Thorgren, petugas pers di pengadilan Swedia, Royal Court mengatakan kepada Svenska Dagbladet: "Kami tidak dapat mengomentari informasi khusus itu." Namun dia juga mengatakan, bahwa bagaimana pengadilan mendukung gerakan #MeToo dan apa yang dilakukan Arnault jika terbukti benar, itu adalah sesuatu yang sangat “menakutkan.”

Dan jika memang terbukti benar, tuduhan baru ini akan makin membuat sulit Horace Engdahl, mantan suami Witt-Brattström yang menjabat sebagai ketua Akademi Swedia pada Desember 1996. Pasalnya, Engdahl menafikkan surat dari seorang wanita yang melaporkan berbagai pelecehan yang dilakukan oleh Jean Arnault.

Putri Mahkota Swedia Juga Jadi Korban Pelaku Skandal Sex Nobel (1)
zoom-in-whitePerbesar

(Putri Mahkota Swedia, Victoria, dan Pangeran Daniel di hari pernikahan mereka)

Titik Penting Perubahan

Beberapa hari sebelum pelecehan Arnaul terhadap Putri Mahkota Kerajaan Swedia, Victoria, terungkap ke publik, rilis pers Akademi Swedia salah satunya menyesalkan ketakacuhan Horca Engdahl terhadap surat keluhan pelecehan yang dilakukan Arnault di Forum Budaya yang dimpimpinnya dan didanai oleh Akademi Swedia.

“Akademi menyesalkan surat pada bulan Desember 1996 yang melaporkan kekerasan seksual di Forum Budaya Kulturplats namun tidak dilanjuti oleh Ketua Akademi saat itu,” kata rilis pers itu.

Pengakuan dari saksi-saksi pelecehan Arnault kepada Putri Mahkota Swedia menjadi tanda-tanda penting berakhirnya era Akademi Swedia yang menerima mandat Nobel sejak 1901. Perubahan peraturan Akademi yang sedang digodog oleh Raja Swedia pun sepertinya akan segera keluar.

Saat ini anggota Akademi dari total 18 orang tinggal menyisakan 10 orang. Padahal, sesuai peraturan lama, butuh 11 orang untuk mengangkat anggota baru.

Kepemimpinan Sara Danius, wanita pertama yang memimpin Akademi menjadi simbol dari perubahan Akademi Swedia secara menyeluruh. Tak hanya soal keanggotaan, namun juga elemen-elemen penting di dalam pengelolaan Akademi seperti keseteraan gender, selera, dan keterbukaan terhadap kritik. (Sarivita / YK-1)

Baca lebih lanjut tentang “Skandal Sex Nobel”:

Skandal Nobel Sastra: Satu Lagi Anggota Akademi Swedia Undur Diri

Akui Skandal Sex, Raja Carl XVI Gustaf Ubah Peraturan Keanggotaan Akademi Swedia

Hadiah Nobel Sastra 2018 Terancam Ditiadakan

Skandal Seks, Dinamit Penghancur Kredibilitas Nobel Sastra

Pulitzer Prize 2018 Kukuhkan Kekuatan Jurnalisme dalam Mengubah Dunia