Ramadan Berlalu? Apa yang Sudah Kita Perbaiki?

Mahasiswa Universitas Pamulang Prodi Sastra Indonesia
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Bagus Nur Alim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ramadan menjadi momen bagi umat Islam untuk memperbaiki diri dan instropeksi. Ramadan adalah waktu di mana amal ibadah akan dilipatganda. Sebagaimana Rasulullah bersabda, ”Barangsiapa yang mendekatkan diri pada bulan Ramadan dengan suatu kebaikan (amalan sunnah), maka pahalanya seperti orang yang menunaikan suatu amalan fardu di bulan lain. Dan barangsiapa yang menunaikan suatu amalan fardu di bulan Ramadan, maka pahalanya seperti orang yang menunaikan 70 amalan fardu di bulan lain.” (HR. Ibnu Khuzaimah & Baihaqi)
Dari hadis tersebut kita dapat melihat bahwa begitu utama bulan Ramadan apabila dilalui dengan berbagai amalan yang baik. Maka tidak heran jika Ramadan dijadikan bulan yang berkah dengan berbondong-bondong mengejar kebaikan di dalamnya. Terdapat banyak keutamaan dalam bulan Ramadan, diantaranya Rasulullah bersabda, “Sedekah yang paling utama adalah sedekah pada bulan Ramadan.” (HR. Tirmidzi).

Tidak sampai di sana, kemuliaan bulan Ramadan juga dicantumkan dalam Al-Qadr ayat 3, “Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” Ayat tersebut menjelaskan bahwa malam lailatul qadr sebagai salah satu malam di akhir Ramadan memiliki kedudukan yang istimewa. Semua diniatkan hanya untuk Allah karena semuanya akan kembali kepada Allah SWT.
Namun di tengah ambisi dan semangat ini, apa yang telah kita perbaiki dan akan menjadi konsisten sampai bulan-bulan berikutnya? Apakah Ramadan hanya menyisakan rindu semata? Atau justru meninggalkan jejak yang baik.
Tidak jarang dari kita yang melalui Ramdan dengan formal dan ibadah menjadi rutinitas tanpa makna. Kita melaksanakan sahur, puasa, tarawih, dan selesai. Padahal, puasa di sini bukan sebuah kewajiban semata yang harus digugurkan, melainkan juga sebagai ajang latihan batin. Sebagaimana Al-Baqarah ayat 183,“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Ayat tersebut mengindikasikan bahwa puasa adalah latihan untuk menjadi kaum yang bertakwa. Maka tidak salah apabila puasa menjadi ajang latihan dan proses untuk menjadi lebih baik. Mulai dari menahan sabar, mengontrol amarah, dan menjaga hawa nafsu.
Sebenarnya Ramadan menjadi momentum kontemplasi yang efektif. Dengan berbagai kesunyian di dalamnya, justru dapat meningkatkan kesadaran yang membuat kita dekat dengan Allah. Seperti pada dini hari ketika sahur, menjelang magrib, dan ketika i’tikaf di masjid.
Dengan kesadaran itu, kita justru semakin menyadari bahwa Allah begitu dekat. Sebagaimana Allah berfirman dalam Qaf ayat 16, “Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat leher.” Ayat tersebut menjelaskan bahwa eksistensi Allah begitu dekat, bahkan lebih dekat dari urat leher. Untuk membuktikannya, hanya dibutuhkan sebuah kesadaran akan hal tersebut.
Dalam kesunyian juga dapat menjadi ajang kita untuk ber-khalwat atau mendekatkan diri kepada Allah. Hal ini dilakukan dengan cara menghindari keramaian, sunyi, demi mencapai keheningan batin. Dengan keheningan batin, hati akan penuh dengan kehadiran Allah. Sekali lagi, ini bukan keheningan kosong, melainkan ruang suci untuk kontemplasi, penyucian diri, dan pemusatan cinta kepada Allah SWT.
Kesunyian justru memiliki hikmah di baliknya. Sebagaimana Rasulullah yang ber-khalwat di Gua Hira sehingga turun ayat pertama. Sebagaimana juga yang dilakukan oleh Rabiah al-Adawiyah yang menemukan mahabbah atau kecintaan terhadap Allah dalam kesunyian. Jadi, sebelum Ramadan berlalu, apa yang dapat kita perbaiki? Jangan sampai Ramadan berlalu, tanpa jejak kebaikan di dalamnya.
