Harmoni Tegangan Hidup: Melodi Kehidupan yang Menggugah

Odemus Bei Witono
Direktur Perkumpulan Strada, Pengamat Pendidikan, dan Mahasiswa Doktoral Filsafat di STF Driyarkara, Jakarta.
Konten dari Pengguna
10 Maret 2024 9:55 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Odemus Bei Witono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dokumen pribadi: Wisma Cengkih Cihideung Bogor, tempat yang asri untuk retret.
zoom-in-whitePerbesar
Dokumen pribadi: Wisma Cengkih Cihideung Bogor, tempat yang asri untuk retret.
ADVERTISEMENT
Harmoni tegangan hidup merupakan melodi kehidupan yang menggugah. Tema ini, menjadi bahan pemenungan yang menarik dalam melihat keseluruhan hidup manusia yang menyejarah. Mengapa? Karena kehidupan manusia suka atau tidak suka kerap diliputi oleh ketegangan hidup yang harus tetap dijalani.
ADVERTISEMENT
Pada awal Maret 2024 lalu, penulis melanjutkan perjalanan retret ke tahap kedua di Wisma Cengkih Bogor, setelah sebelumnya menjalani tahap pertama yang berlangsung di lereng Gunung Tangkuban Perahu. Retret tahap kedua ini menawarkan sebuah materi yang sangat menarik, yaitu kemampuan menghadapi dan menghidupi ketegangan dengan cara yang tepat.
Sebagai prolog awal, pikiran saya terpaut pada kisah perang Meksiko-Amerika Serikat dan perbudakan. Waktu perang, seorang tokoh bernama Henry David Thoreau (1817-1862) memilih untuk masuk penjara daripada membayar pajak yang menurut dia akan digunakan untuk memperluas wilayah yang mempraktikkan perbudakan.
Temannya yang sekaligus penentang perbudakan, Ralph Waldo Emerson (1803-1882), mendengar tentang keputusan kontroversial Thoreau tersebut. Ketika Emerson mengunjungi Thoreau di penjara, dia bertanya dengan lembut, "Henry, mengapa kamu berada di sini di penjara?" Thoreau memberikan jawaban klasik yang mencerminkan kesetiaan dan komitmen penuh, "Waldo, mengapa kamu tidak di sini?"
ADVERTISEMENT
Keputusan Thoreau untuk rela hidup di dalam penjara sebagai bentuk protes terhadap perbudakan di Meksiko menggambarkan cara radikal mengatasi ketegangan. Bagi Thoreau, pilihan itu dianggap sebagai yang terbaik, walaupun harus menanggung konsekuensi masuk penjara. Tindakan ini bukan hanya sekadar mengatasi ketegangan, tetapi juga merupakan suara tegas dan nyata menentang perbudakan manusia.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa menghidupi ketegangan dengan cara yang tepat kadang-kadang memerlukan langkah-langkah radikal dan komitmen yang kuat terhadap nilai-nilai yang diyakini. Thoreau tidak hanya menghindari ketegangan dengan cara-cara konvensional, tetapi memilih untuk menghadapinya secara langsung dengan tindakan nyata yang membutuhkan pengorbanan pribadi.
Dalam konteks retret tahap kedua ini, kisah Thoreau menjadi inspirasi dan peringatan bahwa menghidupi ketegangan memerlukan keberanian untuk memilih jalur yang sesuai dengan nilai-nilai yang diyakini. Perjalanan ini menjadi refleksi tentang bagaimana kita dapat belajar dari tokoh-tokoh inspiratif seperti Thoreau untuk menghadapi ketegangan hidup dengan bijaksana dan teguh pada prinsip-prinsip yang dianut.
Ilustrasi ketegangan dalam senar gitar, dipetik menghasilkan suara merdu, sumber: Pexels.
Hidup dalam tegangan merupakan fenomena yang menggambarkan kompleksitas dan tantangan yang dihadapi manusia sepanjang perjalanan personal historis. Analogi senar gitar yang distem dengan presisi untuk menghasilkan harmoni indah menjadi perumpamaan yang menarik, menggambarkan betapa pentingnya menghadapi ketegangan hidup dengan bijaksana dan penuh kesadaran.
ADVERTISEMENT
Ketegangan hidup, seperti senar gitar yang ditarik dengan kencang, seringkali muncul dalam berbagai bentuk dan konteks. Manusia dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit, dilema moral, dan situasi yang memerlukan pengambilan keputusan. Dalam realitas, kehidupan manusia penuh dengan kontras antara baik dan buruk, antara pilihan yang baik atau lebih baik, bahkan di antara opsi yang sama-sama baik namun memerlukan pemilihan yang sulit.
Salah satu ketegangan hidup yang nyata adalah bagaimana manusia berinteraksi dengan fenomena hedonisme, konsumerisme, dan sekularisme yang melibatkan teknologi modern. Negara-negara maju seperti Jepang, Finlandia, dan Singapura telah memberikan perhatian khusus pada kearifan lokal dan nilai budaya dalam menghadapi pengaruh negatif modernisme. Sikap saling menghormati, menjaga integritas, dan memperjuangkan hidup yang memiliki nilai menjadi landasan kuat untuk melawan dampak negatif tersebut.
ADVERTISEMENT
Diskresi hidup yang didasarkan pada nilai-nilai utama membuat manusia lebih mudah menentukan arah pilihan yang akan diambil. Contoh inspiratif datang dari sosok Mother Teresa dari Calcutta, yang meskipun dihadapkan pada kekeringan rohani yang panjang dan tawaran hidup mewah, memilih hidup sederhana dan mendedikasikan dirinya untuk melayani orang miskin dan terpinggirkan. Kesetiaan pada nilai-nilai yang dianggap lebih tinggi menjadi pilihan utama, meskipun menghadapi tekanan dan ketegangan hidup.
Menghadapi ketegangan hidup bukanlah tugas yang mudah. Diperlukan sikap mental prima dan pelatihan terus-menerus agar manusia mampu menghadapi berbagai ketegangan yang ada sepanjang perjalanan hidupnya. Bahkan, ketegangan hidup akan senantiasa ada, meskipun manusia mungkin menginginkan kedamaian dan kesejahteraan. Salah satu puncak ketegangan terbesar adalah ketika dihadapkan pada kematian, di mana manusia dihadapkan pada pilihan apakah akan merelakan jiwa saat dipanggil atau berusaha keras untuk memperpanjang hidup.
ADVERTISEMENT
Ketidakpastian, kegelisahan, dan kecemasan adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup manusia. Namun, seperti senar gitar yang ditarik dan diatur dengan cermat, manusia dapat memanfaatkan ketegangan hidup untuk menghasilkan harmoni dan keindahan dalam melodi kehidupan mereka. Dengan menyusun dan menyeimbangkan berbagai aspek kehidupan, manusia dapat menciptakan keseimbangan yang memungkinkan mereka meresapi setiap nuansa yang ada, sebagaimana gitar menghasilkan bunyi yang indah dari senar yang tegang.
Ilustrasi warna, ketegangan penuh warna menghasilkan sesuatu keindahan, sumber: Pexels.
Dengan pemberian akal budi, semoga manusia mampu mengembangkan kemampuan berdiskresi yang memungkinkan mereka menghadapi ketegangan hidup dengan bijaksana. Sehingga, setiap individu dapat menjadi pemain gitar yang menghasilkan bunyi yang indah atau pelukis warna dalam lukisan kehidupan ini, menciptakan harmoni yang memukau dengan beragam nuansa.
Meskipun perjalanan hidup penuh dengan tegangan atau tantangan dan perubahan, kemampuan untuk menggabungkan berbagai warna atau corak hidup dan pengalaman dapat membentuk sebuah lukisan indah. Yang penting, manusia diharapkan tetap berpegang pada jalan yang benar, menjalani kehidupan dengan integritas, bahkan ketika menghadapi liku-liku dan kejatuhan. Dengan demikian, setiap langkah yang diambil akan menjadi kontribusi berharga dalam mengukir cerita kehidupan yang penuh makna dan keindahan.
ADVERTISEMENT