Apa Itu Derivatif? Ini Pengertian, Manfaat, dan Jenisnya

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Derivatif adalah salah satu bentuk instrumen investasi yang diperdagangkan di bursa efek. Instrumen derivatif dapat berarti produk turunan dari efek utama, baik yang bersifat ekuitas atau utang.
Meski demikian, masih banyak yang bertanya-tanya apa itu derivatif? Untuk mengetahuinya, simak penjelasan lebih lanjut dalam penjabaran di bawah ini.
Apa Itu Derivatif?
Derivatif merupakan kontrak yang nilai atau peluang keuntungannya terkait dengan kinerja underlying assets atau aset lain yang mendasari.
Dalam buku Capital Market Top Secret, Ramuan Sukses Bisnis Pasar Modal Indonesia (2021) oleh Dr. Cita Yustisia Serfiyani, S.H, M.H, dkk, dalam arti yang lebih khusus, derivatif adalah kontrak finansial antara dua pihak atau lebih guna memenuhi janji untuk membeli antara menjual aset/komoditi yang dijadikan objek perdagangan pada waktu dan harga yang telah disepakati bersama.
Nilai di masa mendatang dan objek yang diperdagangkan sangat dipengaruhi instrumen induknya yang ada di spot market.
Adapun turunan dari instrumen yang mendasari, seperti suku bunga, nilai tukar, komoditas, ekuitas, dan indeks, baik yang diikuti dengan pergerakan atau tanpa pergerakan dana maupun instrumen.
Instrumen-instrumen derivatif sering digunakan oleh para pelaku pasar modal sebagai sarana untuk melakukan lindung nilai (hedging) atas portofolio yang mereka miliki.
Manfaat Derivatif
Derivatif memiliki manfaat untuk mengalihkan risiko dari pembeli produk turunan ke penjual sehingga menjadi alat manajemen risiko yang efektif.
Selain itu, derivatif juga meningkatkan likuiditas instrumen yang mendasarinya, melakukan fungsi ekonomi yang penting yaitu penemuan harga, serta berkontribusi besar untuk meningkatkan kedalaman pasar.
Baca Juga: 5 Cara Menghitung Dividen yang Bisa Diterapkan Para Investor
Jenis-jenis Derivatif
Dalam pasar derivatif, terdapat produk yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan atau risikonya.
Mengutip dari buku Manajemen keuangan Lanjutan, (Teori Case Study dan Problem Solving) (2022) oleh Olandari Mulyadi, S.E., M.M., dkk, jenis derivatif yang paling umum adalah kontrak berjangka (futures), kontrak forward, kontrak tukar (swap), dan kontrak opsi (option).
1. Kontrak Berjangka
Kontrak berjangka adalah perjanjian antara dua pihak untuk pembelian dan pengiriman aset pada harga disepakati di masa mendatang. Pedagang menggunakan kontrak berjangka untuk melindungi risiko atau berspekulasi pada harga aset yang mendasarinya.
2. Kontrak Tukar (Swap)
Kontrak tukar adalah jenis derivatif yang sering digunakan untuk menukar satu jenis arus kas dengan yang lain.
Misalnya seorang pedagang mungkin menggunakan swap suku bunga untuk beralih dari pinjaman suku bunga variabel ke pinjaman suku bunga tetap, atau sebaliknya.
3. Kontrak Forward
Kontrak forward mirip dengan kontrak berjangka, tetapi tidak diperdagangkan di bursa. Kontrak ini hanya diperdagangkan over-the-counter.
Ketika kontrak forward dibuat, pembeli dan penjual dapat menyesuaikan persyaratan, ukuran, dan proses penyelesaian.
4. Kontrak Opsi
Kontrak opsi adalah transaksi yang didasari suatu perjanjian yang membeli hak kepada pembeli untuk membeli (call option) atau menjual (put option) suatu aset tertentu dengan harga tertentu dalam periode perjanjian transaksi.
Terdapat 2 jenis kontrak opsi yakni:
Call option: transaksi yang didasari suatu kontrak untuk memiliki hak dan bukan kewajiban untuk membeli aset induk atau aset acuan dengan jumlah dan harga yang disepakati.
Put option: transaksi yang didasari kontrak untuk memiliki hak bukan kewajiban untuk menjual aset induk atau aset acuan dengan jumlah dan harga tertentu yang disepakati.
(SA)
