Konten dari Pengguna

Wabah Hantavirus Diduga Menginfeksi Penumpang Kapal Pesiar, Ini Faktanya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi wabah Hantavirus. Foto: wutzkohphoto/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi wabah Hantavirus. Foto: wutzkohphoto/Shutterstock

Kabar tentang wabah Hantavirus tengah menjadi sorotan setelah muncul laporan kasus di sebuah kapal pesiar milik Oceanwide Expeditions. Kapal tersebut diketahui sedang berlayar di lepas pantai Tanjung Verde, Afrika.

Mengutip kumparanSains, dugaan ini mencuat setelah tiga penumpang dilaporkan meninggal dunia dan beberapa lainnya jatuh sakit. Meski demikian, otoritas setempat masih melakukan penyelidikan untuk memastikan sumber penularan virus tersebut.

Sementara itu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa dua kasus telah terkonfirmasi positif Hantavirus berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium. Sedangkan, kasus lainnya masih dalam tahap dugaan.

Lantas, apa sebenarnya wabah Hantavirus itu? Simak penjelasan lengkapnya dalam artikel berikut.

Apa Itu Wabah Hantavirus?

Ilustrasi wabah Hantavirus. Foto: faniadiana24/Shutterstock

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), wabah Hantavirus dapat berkembang menjadi kondisi serius dan berpotensi mengancam jiwa. Virus ini dapat menginfeksi manusia di berbagai belahan dunia melalui perantara hewan pengerat, terutama tikus. Penularan umumnya terjadi akibat kontak dengan urin, feses, air liur, cakaran, atau gigitan tikus yang terinfeksi.

Kemudian, dalam dokumen Frequently Asked Questions (FAQ) Hantavirus terbitan Kementerian Kesehatan RI, virus ini pertama kali diidentifikasi pada rodensia di dekat Sungai Hantan, Korea Selatan, pada tahun 1978. Temuan tersebut diduga berkaitan dengan lebih dari 3.000 kasus demam berdarah yang terjadi pada pasukan PBB pasca Perang Korea.

Pada 1981, genus Hantavirus kemudian resmi diperkenalkan dalam famili Bunyaviridae. Beberapa tahun setelahnya, tepatnya pada 1993, wabah Hantavirus kembali terdeteksi di wilayah barat Amerika Serikat. Kejadian ini memicu gangguan pernapasan berat yang kemudian dikenal sebagai Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS).

Baca Juga: Etika Batuk dan Bersin di Tempat Umum untuk Mencegah Penyebaran Virus

Gejala Hantavirus

Ilustrasi virus. Foto: Lightspring/Shutterstock

Hantavirus dapat menyebabkan dua jenis penyakit, yaitu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Disadur dari situs CDC, berikut beberapa gejalanya:

1. Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS)

HPS merupakan penyakit serius yang menyerang paru-paru dan berpotensi fatal. Gejalanya muncul dalam rentang 1 hingga 8 minggu setelah seseorang terpapar hewan pengerat yang terinfeksi.

Adapun gejala yang dapat muncul meliputi:

  • Lemas atau kelelahan

  • Demam

  • Nyeri otot, terutama bagian pada paha, pinggul, punggung, dan bahu

  • Sakit kepala

  • Pusing

  • Mengigil

  • Masalah pencernaan, seperti mual, muntah, diare, dan sakit perut

  • Batuk

  • Sesak napas

  • Rasa tertekan di dada karena paru-paru terisi cairan

Kondisi ini tergolong berbahaya karena dapat menyebabkan kematian. Sekitar 38 persen penderita yang telah mengalami gejala pernapasan dilaporkan meninggal dunia.

2. Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS)

HFRS merupakan penyakit serius yang menyerang ginjal dan berpotensi fatal. Gejala biasanys muncul dalam 1 hingga 2 minggu setelah terpapar virus, meski pada beberapa kasus dapat berkembang hingga 8 minggu. Berikut beberapa gejala yang muncul:

  • Sakit kepala hebat

  • Nyeri punggung dan perut

  • Demam dan menggigil

  • Mual

  • Penglihatan kabur

  • Wajah memerah

  • Mata merah atau meradang

  • Ruam pada kulit

  • Tekanan darah rendah

  • Syok (aliran darah sangat buruk)

  • Pendarahan internal atau kebocoran pada pembuluh darah

  • Gagal ginjal akut yang bisa menyebabkan penumpukan cairan

(NSF)