Pengertian dan Arti Kidung Wahyu Kolosebo

·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Arti Kidung Wahyu Kolosebo adalah Pesan Tuhan yang berisi petunjuk bagi manusia ketika menghadap Tuhan yang Maha Esa, yakni Allah SWT.
Kidung Wahyu Kolosebo merupakan salah satu syair lagu sastra yang berisi tentang ajaran baik. Syair ini kerap digunakan oleh Sunan Kalijaga selama berdakwah dan mengajak masyarakat untuk memeluk agama Islam.
Baca Juga: Syair Adalah Karya Sastra yang Penuh Makna, Benarkah?
Mungkin kamu baru pertama kali mendengar istilah atau kalimat Kidung Wahyu Kolosebo ini dan sedang mencari tahu arti dan penciptanya. Untuk mengetahuinya simak penjelasan berikut yang membahas tentang arti dan pencipta Kidung Wahyu Kolosebo.
Apa Arti dari Kidung Wahyu Kolosebo?
Dikutip dari buku Pendidikan Religiusitas untuk Perguruan Tinggi, karya B.A. Rukiyanto (2021: 138), arti kidung Wahyu Kolosebo ialah tembang petunjuk saat menghadap-Nya (Tuhan). Jika diartikan berdasarkan asal katanya, kidung berarti puisi, lagu, nyanyian, atau syair.
Baca Juga: 16 Contoh Syair, Pengertian, dan Ciri-cirinya
Sedangkan wahyu adalah pesan dari langit yang disampaikan oleh Tuhan ke hamba-Nya. Kemudian kolo atau kala berarti waktu atau ketika, dan sebo adalah menghadap.
Jika digabungkan, arti Kidung Wahyu Kolosebo adalah syair yang berisi pesan atau petunjuk waktu atau ketika menghadap (Tuhan). Berdasarkan asal kata tersebut, pengertian Kidung Wahyu Kolosebo ialah syair yang berisi pesan atau wahyu Tuhan yang dapat dijadikan petunjuk bagi manusia ketika mereka akan kembali menghadap Tuhan.
Siapa yang Menciptakan Lagu Kidung Wahyu Kolosebo?
Syair Kidung Wahyu Kolosebo diciptakan oleh seorang remaja bernama Sri Narendra Kalaseba. Ia merupakan sosok yang aktif sebagai pegiat dan pelestari seni budaya nusantara di masa kehidupan Wali Songo.
Berdasarkan teori ini, maka Sunan Kalijaga dikenal sebagai sosok yang menembangkan atau melantunkan syair tersebut bukan sebagai penciptanya. Sunan Kalijaga melantunkan syair Kidung Wahyu Kolosebo saat berdakwah menyebarkan ajaran Islam.
Sunan Kalijaga sendiri merupakan salah seorang tokoh Wali Songo yang namanya sangat terkenal di kalangan umat Islam. Beliau sangat lihai dalam berdakwah mengenalkan agama Islam ke masyarakat, khsusnya masyarakat Jawa.
Metode dakwahnya sangat beragam, misalnya, melalui pertunjukan wayang kulit, syair kidung Wahyu Kolosebo, baju takwa, lagu Lir-ilir, gundul-gundul pacul, suluk linglung, kidung rumekso ing wengi, grebeg maulud, hingga Serat Dewa Ruci.
Terlepas dari teori penciptaan kidung Wahyu Kolosebo, syair tersebut memang berisi hal-hal baik yang bisa mengingatkan manusia tentang makna hidup dan pesan-pesan kehidupan yang bisa dijadikan pedoman agar manusia senantiasa berbuat baik.
Apa Arti Rumekso Ingsun Laku Nisto Ngoyo Woro?
Rumekso ingsun laku nisto ngoyo woro merupakan syair pembuka dari lagu Kidung Wahyu Kolosebo. Secara lebih lengkap, berikut syair dan arti Kidung Wahyu Kolosebo:
Rumekso ingsun laku nisto ngoyo woro
Kujaga diri dari perbuatan nista dan sesuka hati
Kelawan mekak howo, howo kang dur angkoro
Dengan mengendalikan hawa, hawa nafsu angkara
Senadyan setan gentayangan, tansah gawe rubeda
Meski setan bergentayangan, selalu membuat gangguan
Hinggo pupusing jaman
Sampai akhir zaman
Hameteg ingsun nyirep geni wiso murko
Sekuat tenaga saya memadamkan api, bisanya kemurkaan
Maper hardening ponco, saben ulesing netro
Mengendalikan panca (lima) indera dalam setiap kedipan mata
Linambaran sih kawelasan, ingkang paring kamulyan
Dilandari rasa welas asih Sang Pemberi Kemuliaan
Sang Hyang Jati Pengeran
Sang Maha Sejati Tuhan
Jiwanggo kalbu, samudro pepuntoning laku
Bertahta di kalbu, samudera pemandu perbuatan
Tumuju dateng Gusti, Dzat Kang Amurbo Dumadi
Menuju kepada Tuhan, Dzat yang tidak ada asalnya
Manunggaling kawulo Gusti, krenteg ati bakal dumadi
Menyatunya hamba dengan Tuhan, kehendak hati akan terjadi
Mukti ingsun, tanpo piranti
Saya jaya, tanpa syarat (alat)
Sumebyar ing sukmo madu sarining perwito
Menyebar ke jiwa madu sarinya perwita
Maneko warno prodo, mbangun projo sampurno
Aneka warna prada, membangun diri yang sempurna
Sengkolo tido mukso, kolobendu nyoto sirno
Kesialan pasti musnah, musibah matapetaka nyata hilang
Tyasing roso mardiko
Timbullah rasa merdeka atau bebas
Mugiyo den sedyo pusoko Kalimosodo
Semoga dengan ucapan pusaka kalimat syahadat
Yekti dadi mustiko, sajeroning jiwo rogo
Benar-benar jadi mustika di dalam jiwa raga
Bejo mulyo waskito, digdoyo bowo leksono
Beruntung mulia waskita, digdaya dan berwibawa
Byar manjing sigro-sigro
Byar terwujud gilang-gemilang
Ampuh sepuh wutuh, tan keno iso paneluh
Sakti tua utuh, tidak bisa disantet (diteluh)
Gagah bungah sumringah, ndadar ing wayah-wayah
Gagah riang gembira, merekah di sepanjang waktu
Satriyo toto sembodo, Wirotomo katon sewu kartiko
Kesatria tata sembara, wiratama seperti seribu bintang
Kataman wahyu … Kolosebo
Tertimpa (mendapatkan) wahyu kalaseba
Memuji ingsun kanthi suwito linuhung
Saya memuji dengan menghadap maha tinggi
Segoro gando arum, suhrep dupo kumelun
Laut berbau harum seperti dupa semerbak
Tinulah niat ingsun, hangidung sabdo kang luhur
Mengolah niat saya, mengidung (melantunkan) sabda (kata-kata) yang luhur
Titahing Sang Hyang Agung
Perintahnya Sang Maha Agung
Rembesing tresno, tondho luhing netro roso
Merembesnya kasih sayang, pertanda air mata rasa
Roso rasaning ati, kadyo tirto kang suci
Rasa perasaan hati, seperti air yang suci
Kawistoro jopo montro, kondang dadi pepadang
Diwujudkan japa mantra, hebat jadi penerang
Palilahing Sang Hyang Wenang
Ridhonya Sang Maha Berwenang
Nowo dewo jawoto, tali santiko bawono
Sembilan wujud dewa, tali kekuatan dunia (semesta)
Prasido sidhikoro, ing sasono asmoroloyo
Abadi memuji di singgasana surga
Sri Narendro Kolosebo, winisudo ing gegono
Sang Raja Kolosebo, diwisuda di angkasa
Datan gingsir … sewu warso
Tidak akan tenggelam (lengser) … seribu tahun
Itu dia penjelasan singkat tentang arti kidung Wahyu Kolosebo. Semoga informasi tadi dapat bermanfaat!
(HAI & ZHR)
