Konten dari Pengguna

Pengertian dan Arti Kidung Wahyu Kolosebo

Berita Update

Berita Update

·waktu baca 5 menit

clock
comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi arti kidung Wahyu Kolosebo tentang pesan kehidupan. Sumber: Unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi arti kidung Wahyu Kolosebo tentang pesan kehidupan. Sumber: Unsplash.com

Arti Kidung Wahyu Kolosebo adalah Pesan Tuhan yang berisi petunjuk bagi manusia ketika menghadap Tuhan yang Maha Esa, yakni Allah SWT.

Kidung Wahyu Kolosebo merupakan salah satu syair lagu sastra yang berisi tentang ajaran baik. Syair ini kerap digunakan oleh Sunan Kalijaga selama berdakwah dan mengajak masyarakat untuk memeluk agama Islam.

Baca Juga: Syair Adalah Karya Sastra yang Penuh Makna, Benarkah?

Mungkin kamu baru pertama kali mendengar istilah atau kalimat Kidung Wahyu Kolosebo ini dan sedang mencari tahu arti dan penciptanya. Untuk mengetahuinya simak penjelasan berikut yang membahas tentang arti dan pencipta Kidung Wahyu Kolosebo.

Apa Arti dari Kidung Wahyu Kolosebo?

Ilustrasi arti kidung Wahyu Kolosebo tentang pesan kehidupan. Sumber: Unsplash

Dikutip dari buku Pendidikan Religiusitas untuk Perguruan Tinggi, karya B.A. Rukiyanto (2021: 138), arti kidung Wahyu Kolosebo ialah tembang petunjuk saat menghadap-Nya (Tuhan). Jika diartikan berdasarkan asal katanya, kidung berarti puisi, lagu, nyanyian, atau syair.

Baca Juga: 16 Contoh Syair, Pengertian, dan Ciri-cirinya

Sedangkan wahyu adalah pesan dari langit yang disampaikan oleh Tuhan ke hamba-Nya. Kemudian kolo atau kala berarti waktu atau ketika, dan sebo adalah menghadap.

Jika digabungkan, arti Kidung Wahyu Kolosebo adalah syair yang berisi pesan atau petunjuk waktu atau ketika menghadap (Tuhan). Berdasarkan asal kata tersebut, pengertian Kidung Wahyu Kolosebo ialah syair yang berisi pesan atau wahyu Tuhan yang dapat dijadikan petunjuk bagi manusia ketika mereka akan kembali menghadap Tuhan.

Siapa yang Menciptakan Lagu Kidung Wahyu Kolosebo?

Ilustrasi pencipta lagu Kidung Wahyu Kolosebo. Foto: Flickr

Syair Kidung Wahyu Kolosebo diciptakan oleh seorang remaja bernama Sri Narendra Kalaseba. Ia merupakan sosok yang aktif sebagai pegiat dan pelestari seni budaya nusantara di masa kehidupan Wali Songo.

Berdasarkan teori ini, maka Sunan Kalijaga dikenal sebagai sosok yang menembangkan atau melantunkan syair tersebut bukan sebagai penciptanya. Sunan Kalijaga melantunkan syair Kidung Wahyu Kolosebo saat berdakwah menyebarkan ajaran Islam.

Sunan Kalijaga sendiri merupakan salah seorang tokoh Wali Songo yang namanya sangat terkenal di kalangan umat Islam. Beliau sangat lihai dalam berdakwah mengenalkan agama Islam ke masyarakat, khsusnya masyarakat Jawa.

Metode dakwahnya sangat beragam, misalnya, melalui pertunjukan wayang kulit, syair kidung Wahyu Kolosebo, baju takwa, lagu Lir-ilir, gundul-gundul pacul, suluk linglung, kidung rumekso ing wengi, grebeg maulud, hingga Serat Dewa Ruci.

Terlepas dari teori penciptaan kidung Wahyu Kolosebo, syair tersebut memang berisi hal-hal baik yang bisa mengingatkan manusia tentang makna hidup dan pesan-pesan kehidupan yang bisa dijadikan pedoman agar manusia senantiasa berbuat baik.

Apa Arti Rumekso Ingsun Laku Nisto Ngoyo Woro?

Ilustrasi syair Kidung Wahyu Kolosebo. Foto: Unsplash.com

Rumekso ingsun laku nisto ngoyo woro merupakan syair pembuka dari lagu Kidung Wahyu Kolosebo. Secara lebih lengkap, berikut syair dan arti Kidung Wahyu Kolosebo:

Rumekso ingsun laku nisto ngoyo woro

Kujaga diri dari perbuatan nista dan sesuka hati

Kelawan mekak howo, howo kang dur angkoro

Dengan mengendalikan hawa, hawa nafsu angkara

Senadyan setan gentayangan, tansah gawe rubeda

Meski setan bergentayangan, selalu membuat gangguan

Hinggo pupusing jaman

Sampai akhir zaman

Hameteg ingsun nyirep geni wiso murko

Sekuat tenaga saya memadamkan api, bisanya kemurkaan

Maper hardening ponco, saben ulesing netro

Mengendalikan panca (lima) indera dalam setiap kedipan mata

Linambaran sih kawelasan, ingkang paring kamulyan

Dilandari rasa welas asih Sang Pemberi Kemuliaan

Sang Hyang Jati Pengeran

Sang Maha Sejati Tuhan

Jiwanggo kalbu, samudro pepuntoning laku

Bertahta di kalbu, samudera pemandu perbuatan

Tumuju dateng Gusti, Dzat Kang Amurbo Dumadi

Menuju kepada Tuhan, Dzat yang tidak ada asalnya

Manunggaling kawulo Gusti, krenteg ati bakal dumadi

Menyatunya hamba dengan Tuhan, kehendak hati akan terjadi

Mukti ingsun, tanpo piranti

Saya jaya, tanpa syarat (alat)

Sumebyar ing sukmo madu sarining perwito

Menyebar ke jiwa madu sarinya perwita

Maneko warno prodo, mbangun projo sampurno

Aneka warna prada, membangun diri yang sempurna

Sengkolo tido mukso, kolobendu nyoto sirno

Kesialan pasti musnah, musibah matapetaka nyata hilang

Tyasing roso mardiko

Timbullah rasa merdeka atau bebas

Mugiyo den sedyo pusoko Kalimosodo

Semoga dengan ucapan pusaka kalimat syahadat

Yekti dadi mustiko, sajeroning jiwo rogo

Benar-benar jadi mustika di dalam jiwa raga

Bejo mulyo waskito, digdoyo bowo leksono

Beruntung mulia waskita, digdaya dan berwibawa

Byar manjing sigro-sigro

Byar terwujud gilang-gemilang

Ampuh sepuh wutuh, tan keno iso paneluh

Sakti tua utuh, tidak bisa disantet (diteluh)

Gagah bungah sumringah, ndadar ing wayah-wayah

Gagah riang gembira, merekah di sepanjang waktu

Satriyo toto sembodo, Wirotomo katon sewu kartiko

Kesatria tata sembara, wiratama seperti seribu bintang

Kataman wahyu … Kolosebo

Tertimpa (mendapatkan) wahyu kalaseba

Memuji ingsun kanthi suwito linuhung

Saya memuji dengan menghadap maha tinggi

Segoro gando arum, suhrep dupo kumelun

Laut berbau harum seperti dupa semerbak

Tinulah niat ingsun, hangidung sabdo kang luhur

Mengolah niat saya, mengidung (melantunkan) sabda (kata-kata) yang luhur

Titahing Sang Hyang Agung

Perintahnya Sang Maha Agung

Rembesing tresno, tondho luhing netro roso

Merembesnya kasih sayang, pertanda air mata rasa

Roso rasaning ati, kadyo tirto kang suci

Rasa perasaan hati, seperti air yang suci

Kawistoro jopo montro, kondang dadi pepadang

Diwujudkan japa mantra, hebat jadi penerang

Palilahing Sang Hyang Wenang

Ridhonya Sang Maha Berwenang

Nowo dewo jawoto, tali santiko bawono

Sembilan wujud dewa, tali kekuatan dunia (semesta)

Prasido sidhikoro, ing sasono asmoroloyo

Abadi memuji di singgasana surga

Sri Narendro Kolosebo, winisudo ing gegono

Sang Raja Kolosebo, diwisuda di angkasa

Datan gingsir … sewu warso

Tidak akan tenggelam (lengser) … seribu tahun

Itu dia penjelasan singkat tentang arti kidung Wahyu Kolosebo. Semoga informasi tadi dapat bermanfaat!

(HAI & ZHR)