Konten dari Pengguna

Tulisan Arab Allah serta Tata Cara Memajangnya di Dinding

Berita Update

Berita Update

·waktu baca 6 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilutrasi tulisan Arab Allah. Foto: freepik.com/pinnacleanimates
zoom-in-whitePerbesar
Ilutrasi tulisan Arab Allah. Foto: freepik.com/pinnacleanimates

Bagi seorang Muslim, menulis kaligrafi Allah dalam bahasa Arab bukanlah hal yang asing lagi, terutama bagi anak-anak. Selain itu, lafaz Allah juga sering ditempel di dinding. Namun bagaimanakah tulisan Arab Allah dengan benar dan tata cara memajangnya di dinding dengan benar?

Apa Arti dari Kata Allah?

Ilustrasi arti kata Allah. Foto: Pexels.com

Allah merupakan penyebutan atau nama dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena itulah kata Allah tidak pernah digunakan untuk menunjuk benda lain atau makhluk lain.

Pada artikel ini, Berita Update akan menjelaskan arti dari kata Allah. Namun perlu diingat, pembahasan mengenai arti kata Allah ini merupakan tinjauan secara bahasa, bukan membahas asal zat Allah.

Kata Allah tidak pernah digunakan dalam bentuk jamak sebab Islam mengajarkan keesaan mutlak Tuhan. Dikutip dari laman Konsultasi Syariah, pendapat dari berbagai ulama mengatakan bahwa kata Allah (الله) merupakan kata murtajal atau kata jamid, yaitu kata yang tidak mempunyai kata asal.

Misalnya seperti kata ‘jalan’, kita tidak menyebutkan bahwa kata jalan berasal dari kata ‘jal’ dan ‘lan’. Sedangkan contoh kata yang memiliki asal, misalnya ‘perbuatan’, yang terdiri dari kata dasar 'buat'.

Dengan demikian, karena kata Allah tidak mempunyai asal-usul, maka kamu tidak bisa menghilangkan huruf alif dan lam yang ada di depan kata Allah [الله].

Menurut pendapat Ibnul Arabi (w. 543), Abul Qasim as-Suhaili (w. 581), ar-Razi (w. 606), nama Allah tidak mempunyai kata asal, sebab jika terdapat kata dasar berarti ini merupakan kata turunan. Sedangkan, nama Allah itu qadiim atau ada sejak awal dan sesuatu yang qadiim tidak mempunyai asal.

Berdasarkan Al Quran, Allah bisa dikenali melalui 99 sifat-sifatnya atau Asmaul Husna. Lantas apa saja sifat-sifat Allah? Simak jawabannya di bawah ini

Asmaul Husna

  1. Ar Rahman: Yang Maha Pengasih

  2. Ar Rahiim: Yang Maha Penyayang

  3. Al Malik: Yang Maha Merajai (bisa diartikan Raja dari semua Raja)

  4. Al Quddus: Yang Maha Suci

  5. As Salaam: Yang Maha Memberi Kesejahteraan

  6. Al Mu'min: Yang Maha Memberi Keamanan

  7. Al Muhaimin: Yang Maha Mengatur

  8. Al 'Aziiz: Yang Maha Perkasa

  9. Al Jabbar: Yang Memiliki (Mutlak) Kegagahan

  10. Al Mutakabbir: Yang Maha Megah, yang memiliki kebesaran

  11. Al Khaliq: Yang Maha Pencipta

  12. Al Baari': Yang Maha Melepaskan (membuat, membentuk, menyeimbangkan)

  13. Al Mushawwir: Yang Maha Membentuk Rupa (makhluk-Nya)

  14. Al Ghaffaar: Yang Maha Pengampun

  15. Al Qahhaar: Yang Maha Menundukkan/Menaklukkan Segala Sesuatu

  16. Al Wahhaab: Yang Maha Pemberi Karunia

  17. Ar Razzaaq: Yang Maha Pemberi Rezeki

  18. Al Fattaah: Yang Maha Pembuka Rahmat

  19. Al 'Aliim: Yang Maha Mengetahui

  20. Al Qaabidh: Yang Maha Menyempitkan

  21. Al Baasith: Yang Maha Melapangkan

  22. Al Khaafidh: Yang Maha Merendahkan

  23. Ar Raafi': Yang Maha Meninggikan

  24. Al Mu'izz: Yang Maha Memuliakan

  25. Al Mudzil: Yang Maha Menghinakan

  26. Al Samii': Yang Maha Mendengar

  27. Al Bashiir: Yang Maha Melihat

  28. Al Hakam: Yang Maha Menetapkan

  29. Al 'Adl: Yang Maha Adil

  30. Al Lathiif: Yang Maha Lembut

  31. Al Khabiir: Yang Maha Mengenal

  32. Al Haliim: Yang Maha Penyantun

  33. Al 'Azhiim: Yang Maha Agung

  34. Al Ghafuur: Yang Maha Memberi Pengampunan

  35. As Syakuur: Yang Maha Pembalas Budi (menghargai)

  36. Al 'Aliy: Yang Maha Tinggi

  37. Al Kabiir: Yang Maha Besar

  38. Al Hafizh: Yang Maha Memelihara

  39. Al Muqiit: Yang Maha Pemberi Kecukupan

  40. Al Hasiib: Yang Maha Membuat Perhitungan

  41. Al Jaliil: Yang Maha Luhur

  42. Al Kariim: Yang Maha Pemurah

  43. Ar Raqiib: Yang Maha Mengawasi

  44. Al Mujiib: Yang Maha Mengabulkan

  45. Al Waasi': Yang Maha Luas

  46. Al Hakim: Yang Maha Bijaksana

  47. Al Waduud: Yang Maha Mengasihi

  48. Al Majiid: Yang Maha Mulia

  49. Al Baa'its: Yang Maha Membangkitkan

  50. As Syahiid: Yang Maha Menyaksikan

  51. Al Haqq: Yang Maha Benar

  52. Al Wakiil: Yang Maha Memelihara

  53. Al Qawiyyu: Yang Maha Kuat

  54. Al Matiin: Yang Maha Kokoh

  55. Al Waliyy: Yang Maha Melindungi

  56. Al Hamiid: Yang Maha Terpuji

  57. Al Muhshii: Yang Maha Mengalkulasi

  58. Al Mubdi': Yang Maha Memulai

  59. Al Mu'iid: Yang Maha Mengembalikan Kehidupan

  60. Al Muhyii: Yang Maha Menghidupkan

  61. Al Mumiitu: Yang Maha Mematikan

  62. Al Hayyu: Yang Maha Hidup

  63. Al Qayyuum: Yang Maha Mandiri

  64. Al Waajid: Yang Maha Penemu

  65. Al Maajid: Yang Maha Mulia

  66. Al Wahid: Yang Maha Tunggal

  67. Al Ahad: Yang Maha Esa

  68. As Shamad: Yang Maha Dibutuhkan

  69. Al Qaadir: Yang Maha Menentukan

  70. Al Muqtadir: Yang Maha Berkuasa

  71. Al Muqaddim: Yang Maha Mendahulukan

  72. Al Mu'akkhir: Yang Maha Mengakhirkan

  73. Al Awwal: Yang Maha Awal

  74. Al Aakhir: Yang Maha Akhir

  75. Az Zhaahir: Yang Maha Nyata

  76. Al Baathin: Yang Maha Ghaib

  77. Al Waali: Yang Maha Memerintah

  78. Al Muta'aalii: Yang Maha Tinggi

  79. Al Barru: Yang Maha Penderma (maha pemberi kebajikan)

  80. At Tawwaab: Yang Maha Penerima Taubat

  81. Al Muntaqim: Yang Maha Pemberi Balasan

  82. Al Afuww: Yang Maha Pemaaf

  83. Ar Ra'uuf: Yang Maha Pengasuh

  84. Malikul Mulk: Yang Maha Penguasa Kerajaan

  85. Dzul Jalaali Wal Ikraam: Yang Maha Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan

  86. Al Muqsith: Yang Maha Pemberi Keadilan

  87. Al Jamii': Yang Maha Mengumpulkan

  88. Al Ghaniyy: Yang Maha Kaya

  89. Al Mughnii: Yang Maha Pemberi Kekayaan

  90. Al Maani: Yang Maha Mencegah

  91. Ad Dhaar: Yang Maha Penimpa Kemudharatan

  92. An Nafii': Yang Maha Memberi Manfaat

  93. An Nuur: Yang Maha Bercahaya

  94. Al Haadii: Yang Maha Pemberi Petunjuk

  95. Al Badii': Yang Maha Pencipta Tiada Bandingannya

  96. Al Baaqii: Yang Maha Kekal

  97. Al Waarits: Yang Maha Pewaris

  98. Ar Rasyiid: Yang Maha Pandai

  99. As Shabuur: Yang Maha Sabar

Bagaimana Tulisan Arab Allah SWT?

Ilustrasi tulisan Allah SWT. Foto: Pexels.com

Tak terhitung berapa kali umat Muslim mengucapkan lafaz Allah. Allah merupakan Tuhan yang menciptakan langit dan bumi serta seluruh isinya. Hanya kepada Allah lah, Tuhan yang patut disembah.

Walaupun hanya sekedar satu kata, namun lafaz Allah sering disebut sebagai ‘lafzhul jalalah’ (keagunangan) memiliki berbagai makna. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam al-Qurtubi yang menjelaskan makna lafaz Allah sebagai sebuah nama yang sangat agung dan suci, nama bagi sebuah entitas (keberwujudan) yang hakiki, nama yang memiliki seluruh sifat ilahiyah (ketuhanan), yang tunggal memiliki wujud yang hakiki, tiada Tuhan melainkan hanya Dia serta satu-satunya nama yang berhak disembah.

Berikut penulisan lazaf Allah dalam bahasa Arab yaitu sebagai berikut:

الله سبحانه و تعالى

Adapun asal usul lafaz Allah yang dijelaskan oleh Imam Baqa’ al-Ukbari dalam karyanya yang berjudul at Tibyan fi i'rab al-Qur'an (2005), Asal kata ‘الله adalah al-ilah (الإلاه) kemudian huruf hamzah di depan dibuang, kemudian lam pertama disukun dan dimasukkan ke lam kedua, lalu dibaca tebal (tafkhim) jika sebelumnya bukan kasrah, dan dibaca tipis (tarqiq) jika sebelumnya kasrah.

Memajang Tulisan Allah di Kanan Apa Kiri?

Ilustrasi lafaz Allah. Foto: Pinterest

Banyak sekali umat Muslim yang memajang lafaz Allah di dinding rumahnya. Namun masih banyak umat Muslim yang salah dalam memajangnya, yakni kesalahan dalam memajang lafaz Allah dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam secara sejajar.

Penempatan tersebut adalah hal yang keliru, pasalnya dalam pemajangan tersebut, kedudukan Allah sama dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagaimana yang kita ketahui, Nabi Muhammad adalah seorang umat yang Allah utus untuk menyebarkan agama Islam. Lantas bagaimana tata cara memajangnya dengan tepat?

Dijelaskan dari sebuah hadist dari Ibnu ‘Abbas bahwa seseorang berkata pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengucapkan “Masya Allahu wa syi’ta" (atas kehendak Allah dan kehendakmu) di mana kata "dan" memiliki arti menyajajarkan antara Allah dan makhluk, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padanya,

Apakah engkau ingin menjadikanku dan Allah itu semisal (sejajar), cukuplah katakan masya Allahu wahdah (artinya: atas kehendak Allah saja).” (HR. Ahmad 1: 214)

Maka dari itu, untuk memajang dengan benar yakni dengan urutan lafaz Allah di atas lafaz Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan sejajar.

Demikian pejelasan tetang tulisan Allah dalam bahasa Arab serta tata cara memajangnya di dinding. Semoga infromasi di atas bermanfaat. (MZM & ZHR)