Tulisan Arab Allah serta Tata Cara Memajangnya di Dinding

·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi seorang Muslim, menulis kaligrafi Allah dalam bahasa Arab bukanlah hal yang asing lagi, terutama bagi anak-anak. Selain itu, lafaz Allah juga sering ditempel di dinding. Namun bagaimanakah tulisan Arab Allah dengan benar dan tata cara memajangnya di dinding dengan benar?
Apa Arti dari Kata Allah?
Allah merupakan penyebutan atau nama dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena itulah kata Allah tidak pernah digunakan untuk menunjuk benda lain atau makhluk lain.
Pada artikel ini, Berita Update akan menjelaskan arti dari kata Allah. Namun perlu diingat, pembahasan mengenai arti kata Allah ini merupakan tinjauan secara bahasa, bukan membahas asal zat Allah.
Kata Allah tidak pernah digunakan dalam bentuk jamak sebab Islam mengajarkan keesaan mutlak Tuhan. Dikutip dari laman Konsultasi Syariah, pendapat dari berbagai ulama mengatakan bahwa kata Allah (الله) merupakan kata murtajal atau kata jamid, yaitu kata yang tidak mempunyai kata asal.
Misalnya seperti kata ‘jalan’, kita tidak menyebutkan bahwa kata jalan berasal dari kata ‘jal’ dan ‘lan’. Sedangkan contoh kata yang memiliki asal, misalnya ‘perbuatan’, yang terdiri dari kata dasar 'buat'.
Dengan demikian, karena kata Allah tidak mempunyai asal-usul, maka kamu tidak bisa menghilangkan huruf alif dan lam yang ada di depan kata Allah [الله].
Menurut pendapat Ibnul Arabi (w. 543), Abul Qasim as-Suhaili (w. 581), ar-Razi (w. 606), nama Allah tidak mempunyai kata asal, sebab jika terdapat kata dasar berarti ini merupakan kata turunan. Sedangkan, nama Allah itu qadiim atau ada sejak awal dan sesuatu yang qadiim tidak mempunyai asal.
Berdasarkan Al Quran, Allah bisa dikenali melalui 99 sifat-sifatnya atau Asmaul Husna. Lantas apa saja sifat-sifat Allah? Simak jawabannya di bawah ini
Asmaul Husna
Ar Rahman: Yang Maha Pengasih
Ar Rahiim: Yang Maha Penyayang
Al Malik: Yang Maha Merajai (bisa diartikan Raja dari semua Raja)
Al Quddus: Yang Maha Suci
As Salaam: Yang Maha Memberi Kesejahteraan
Al Mu'min: Yang Maha Memberi Keamanan
Al Muhaimin: Yang Maha Mengatur
Al 'Aziiz: Yang Maha Perkasa
Al Jabbar: Yang Memiliki (Mutlak) Kegagahan
Al Mutakabbir: Yang Maha Megah, yang memiliki kebesaran
Al Khaliq: Yang Maha Pencipta
Al Baari': Yang Maha Melepaskan (membuat, membentuk, menyeimbangkan)
Al Mushawwir: Yang Maha Membentuk Rupa (makhluk-Nya)
Al Ghaffaar: Yang Maha Pengampun
Al Qahhaar: Yang Maha Menundukkan/Menaklukkan Segala Sesuatu
Al Wahhaab: Yang Maha Pemberi Karunia
Ar Razzaaq: Yang Maha Pemberi Rezeki
Al Fattaah: Yang Maha Pembuka Rahmat
Al 'Aliim: Yang Maha Mengetahui
Al Qaabidh: Yang Maha Menyempitkan
Al Baasith: Yang Maha Melapangkan
Al Khaafidh: Yang Maha Merendahkan
Ar Raafi': Yang Maha Meninggikan
Al Mu'izz: Yang Maha Memuliakan
Al Mudzil: Yang Maha Menghinakan
Al Samii': Yang Maha Mendengar
Al Bashiir: Yang Maha Melihat
Al Hakam: Yang Maha Menetapkan
Al 'Adl: Yang Maha Adil
Al Lathiif: Yang Maha Lembut
Al Khabiir: Yang Maha Mengenal
Al Haliim: Yang Maha Penyantun
Al 'Azhiim: Yang Maha Agung
Al Ghafuur: Yang Maha Memberi Pengampunan
As Syakuur: Yang Maha Pembalas Budi (menghargai)
Al 'Aliy: Yang Maha Tinggi
Al Kabiir: Yang Maha Besar
Al Hafizh: Yang Maha Memelihara
Al Muqiit: Yang Maha Pemberi Kecukupan
Al Hasiib: Yang Maha Membuat Perhitungan
Al Jaliil: Yang Maha Luhur
Al Kariim: Yang Maha Pemurah
Ar Raqiib: Yang Maha Mengawasi
Al Mujiib: Yang Maha Mengabulkan
Al Waasi': Yang Maha Luas
Al Hakim: Yang Maha Bijaksana
Al Waduud: Yang Maha Mengasihi
Al Majiid: Yang Maha Mulia
Al Baa'its: Yang Maha Membangkitkan
As Syahiid: Yang Maha Menyaksikan
Al Haqq: Yang Maha Benar
Al Wakiil: Yang Maha Memelihara
Al Qawiyyu: Yang Maha Kuat
Al Matiin: Yang Maha Kokoh
Al Waliyy: Yang Maha Melindungi
Al Hamiid: Yang Maha Terpuji
Al Muhshii: Yang Maha Mengalkulasi
Al Mubdi': Yang Maha Memulai
Al Mu'iid: Yang Maha Mengembalikan Kehidupan
Al Muhyii: Yang Maha Menghidupkan
Al Mumiitu: Yang Maha Mematikan
Al Hayyu: Yang Maha Hidup
Al Qayyuum: Yang Maha Mandiri
Al Waajid: Yang Maha Penemu
Al Maajid: Yang Maha Mulia
Al Wahid: Yang Maha Tunggal
Al Ahad: Yang Maha Esa
As Shamad: Yang Maha Dibutuhkan
Al Qaadir: Yang Maha Menentukan
Al Muqtadir: Yang Maha Berkuasa
Al Muqaddim: Yang Maha Mendahulukan
Al Mu'akkhir: Yang Maha Mengakhirkan
Al Awwal: Yang Maha Awal
Al Aakhir: Yang Maha Akhir
Az Zhaahir: Yang Maha Nyata
Al Baathin: Yang Maha Ghaib
Al Waali: Yang Maha Memerintah
Al Muta'aalii: Yang Maha Tinggi
Al Barru: Yang Maha Penderma (maha pemberi kebajikan)
At Tawwaab: Yang Maha Penerima Taubat
Al Muntaqim: Yang Maha Pemberi Balasan
Al Afuww: Yang Maha Pemaaf
Ar Ra'uuf: Yang Maha Pengasuh
Malikul Mulk: Yang Maha Penguasa Kerajaan
Dzul Jalaali Wal Ikraam: Yang Maha Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan
Al Muqsith: Yang Maha Pemberi Keadilan
Al Jamii': Yang Maha Mengumpulkan
Al Ghaniyy: Yang Maha Kaya
Al Mughnii: Yang Maha Pemberi Kekayaan
Al Maani: Yang Maha Mencegah
Ad Dhaar: Yang Maha Penimpa Kemudharatan
An Nafii': Yang Maha Memberi Manfaat
An Nuur: Yang Maha Bercahaya
Al Haadii: Yang Maha Pemberi Petunjuk
Al Badii': Yang Maha Pencipta Tiada Bandingannya
Al Baaqii: Yang Maha Kekal
Al Waarits: Yang Maha Pewaris
Ar Rasyiid: Yang Maha Pandai
As Shabuur: Yang Maha Sabar
Bagaimana Tulisan Arab Allah SWT?
Tak terhitung berapa kali umat Muslim mengucapkan lafaz Allah. Allah merupakan Tuhan yang menciptakan langit dan bumi serta seluruh isinya. Hanya kepada Allah lah, Tuhan yang patut disembah.
Walaupun hanya sekedar satu kata, namun lafaz Allah sering disebut sebagai ‘lafzhul jalalah’ (keagunangan) memiliki berbagai makna. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam al-Qurtubi yang menjelaskan makna lafaz Allah sebagai sebuah nama yang sangat agung dan suci, nama bagi sebuah entitas (keberwujudan) yang hakiki, nama yang memiliki seluruh sifat ilahiyah (ketuhanan), yang tunggal memiliki wujud yang hakiki, tiada Tuhan melainkan hanya Dia serta satu-satunya nama yang berhak disembah.
Berikut penulisan lazaf Allah dalam bahasa Arab yaitu sebagai berikut:
الله سبحانه و تعالى
Adapun asal usul lafaz Allah yang dijelaskan oleh Imam Baqa’ al-Ukbari dalam karyanya yang berjudul at Tibyan fi i'rab al-Qur'an (2005), Asal kata ‘الله adalah al-ilah (الإلاه) kemudian huruf hamzah di depan dibuang, kemudian lam pertama disukun dan dimasukkan ke lam kedua, lalu dibaca tebal (tafkhim) jika sebelumnya bukan kasrah, dan dibaca tipis (tarqiq) jika sebelumnya kasrah.
Memajang Tulisan Allah di Kanan Apa Kiri?
Banyak sekali umat Muslim yang memajang lafaz Allah di dinding rumahnya. Namun masih banyak umat Muslim yang salah dalam memajangnya, yakni kesalahan dalam memajang lafaz Allah dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam secara sejajar.
Penempatan tersebut adalah hal yang keliru, pasalnya dalam pemajangan tersebut, kedudukan Allah sama dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sebagaimana yang kita ketahui, Nabi Muhammad adalah seorang umat yang Allah utus untuk menyebarkan agama Islam. Lantas bagaimana tata cara memajangnya dengan tepat?
Dijelaskan dari sebuah hadist dari Ibnu ‘Abbas bahwa seseorang berkata pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengucapkan “Masya Allahu wa syi’ta" (atas kehendak Allah dan kehendakmu) di mana kata "dan" memiliki arti menyajajarkan antara Allah dan makhluk, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padanya,
Apakah engkau ingin menjadikanku dan Allah itu semisal (sejajar), cukuplah katakan masya Allahu wahdah (artinya: atas kehendak Allah saja).” (HR. Ahmad 1: 214)
Maka dari itu, untuk memajang dengan benar yakni dengan urutan lafaz Allah di atas lafaz Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan sejajar.
Demikian pejelasan tetang tulisan Allah dalam bahasa Arab serta tata cara memajangnya di dinding. Semoga infromasi di atas bermanfaat. (MZM & ZHR)
