Konten Media Partner

THR Surabaya Akan Tutup, Murid Khawatirkan Sang Guru Ludruk

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Novan Dwi Purwanto. Foto : Masruroh/Basra
zoom-in-whitePerbesar
Novan Dwi Purwanto. Foto : Masruroh/Basra

Novan Dwi Purwanto telah belajar kesenian tradisional seperti ketoprak, wayang orang, dan ludruk sejak kelas 6 sekolah dasar (SD). Kini di usianya yang menginjak 18 tahun, Novan masih bertahan sebagai salah satu murid dari sanggar ludruk Putra Taman Hira.

Novan sudah terlanjur mencintai kesenian ludruk. Seminggu dua kali, pemuda yang menetap di kawasan Kusuma Bangsa ini selalu datang untuk latihan ludruk di komplek kampung seni taman hiburan rakyat (THR).

Namun kini Novan dan teman-temannya tengah gundah. Pasalnya Novan dan seniman tradisional lainnya di komplek kampung seni THR terancam kehilangan tempat latihan dan pementasan. Sebabnya, Pemerintah Kota Surabaya sudah memerintahkan pengosongan komplek seni THR per 14 Juni mendatang.

"Sedih sekali, karena nantinya kami sudah tidak bisa main disini. Gamelannya saja sudah diangkuti," ujar anak kedua dari tiga bersaudara ini kepada Basra, (28/5).

Selain sedih karena harus kehilangan tempat berlatih yang legendaris, Novan juga memikirkan nasib sang guru, Sugeng Rogo Wiyono.

"Nanti pak Rogo akan tinggal dan tidur dimana, selama ini kan tinggalnya di sini (THR,red)," tukas lulusan SMK 45 ini.

embed from external kumparan

Bayangan sang guru akan terlantar tanpa tempat tinggal terus menghantui Novan. Novan juga menyatakan belum siap jika harus berpisah dengan sang guru ludruk kesayangannya.

Di mata Novan, Pak Rogo memiliki dedikasi yang luar biasa terhadap kesenian ludruk. Dengan penuh kesabaran, Pak Rogo membimbing ke 60 muridnya tanpa memungut biaya sepeser pun.

"Pak Rogo tidak pernah minta bayaran kepada saya maupun teman-teman lainnya. Kita disini belajar kesenian secara gratis, malah Pak Rogo selalu menyiapkan makanan dan minuman selama kita latihan," jelasnya.

Saat para seniman kesenian tradisional di komplek THR menggelar dua kali aksi di depan gedung DPRD Surabaya, Novan mengaku turut serta. Dan itu dilakukan tanpa paksaan ataupun ajakan siapapun.

"Memang saya yang pengen ikut ke dewan. Saya ingin pemerintah melihat nasib kami para seniman tradisional di sini," ujarnya.

Novan berharap masih bisa berlatih maupun pentas di komplek kampung seni THR. Dia mengaku kurang sreg jika harus latihan ataupun pentas di Balai Pemuda.

"Di sana dekorasi panggungnya tidak seperti di Pringgodani. Jadi lebih enak kalau main disini," tukasnya.

Ketertarikan Novan terhadap kesenian tradisional bermula dari ajakan sang bude yang tinggal di komplek kampung seni THR. Novan kemudian diperkenalkan dengan sanggar Putra Taman Hira. Melihat banyaknya anak-anak yang berlatih ludruk, Novan pun mulai tertarik.

"Saya lihat kok banyak anak-anak kecil main ludruk disini, belajar tari tradisional, akhirnya saya tertarik untuk bergabung," imbuhnya.

Saat pentas Novan sering berperan dalam segmen dagelan dan gontok-gontokan (perang-perangan,red). Jika harus berperan dalam sesi gontok-gontokan, Novan mengaku tak menemui kesulitan. Namun hal berbeda dia jumpai saat harus dagelan (melawak dalam bahasa Suroboyoan,red). Apalagi kini dia diminta Pak Rogo untuk membuat sendiri materi dagelannya.

"Sangat berat kalau dagelan itu karena harus bisa membuat penonton tertawa. Kalau kita sudah habis-habisan ndagel tapi penonton tidak tertawa kan jadi tengsin (malu)," jelasnya seraya tertawa.

kumparan post embed

Sementara itu, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menyebut pemindahan tempat latihan dan pementasan dari Gedung Pringgodani ke Balai Pemuda karena akan menata kawasan THR.

Selama ini THR lokasinya berada di belakang gedung Hi-Tech Mall, kondisinya pun tertutup sehingga membuat masyarakat kurang tertarik untuk datang. ''Untuk pentas (seniman) kita akan siapkan Balai Pemuda, dia bisa pentas di situ, nanti saya akan buat gedung kesenian di depan,'' kata Risma.

Selain ingin membuat THR lebih representatif, Pemkot Surabaya juga ingin menertibkan kawasan THR yang dinilai mulai beralih fungsi dari area perdagangan dan jasa menjadi pemukiman.

Wali Kota Risma menjelaskan, sesuai dengan tata ruang, kawasan THR ini diperuntukkan sebagai perdagangan dan jasa, bukan untuk pemukiman. Akan tetapi masyarakat yang tinggal dan bermukim kawasan itu memanfaatkannya sebagai tempat tinggal atau hunian tanpa hubungan hukum. Bahkan mereka juga menggunakan fasilitas dari pemerintah, seperti listrik, dan air secara gratis. Sehingga penggunaan lahan aset yang seharusnya digunakan untuk semestinya itu, telah beralih fungsi.

Dengan begitu masyarakat yang saat ini masih tinggal lokasi tersebut, diharapkan dapat beralih ke tempat lain. Risma mengungkap, melalui pendataan Pemkot, hampir 90 persen warga yang tinggal di kawasan THR bukan warga Surabaya. ''Pemerintah Kota Surabaya akan memfasilitasi warga Surabaya untuk masuk ke rumah susun,'' kata Risma. Sementara yang bukan warga Surabaya, pihaknya menyebut tidak bisa melakukan intervensi bantuan. (Reporter : Masruroh dan Windy Goestiana)