Festival Kawin Batu Simbol Kerukunan Warga Desa Girimukti Majalengka
ยทwaktu baca 2 menit

Ciremaitoday.com, Majalengka - Sebagai salah satu kabupaten kreatif di sektor seni pertunjukan, pegiat seni di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, tak ada habisnya memunculkan ide festival yang unik dan kreatif.
Seperti komunitas pegiat seni Kirik Nguyuh misalnya. Setiap bulan Desember, mereka menggelar Festival Budaya Kawin Batu. Event 'menjodohkan' batu ini bertujuan untuk merekatkan silahturahmi dan persatuan antarwarga.
Namun, festival Kawin Batu kali ini sedikit berbeda dengan nuansa sakral seperti tahun sebelumnya. Batu dari setiap daerah yang biasa dikawinkan kali ini Cobek ulekan yang dijadikan objek festival tahun ini.
"Kenapa coet (cobek ulekan) karena itu simbol keluarga ya. Jadi ulekannya itukan simbol Lingga atau kejantanan, sementara si cobeknya itu Yoni atau simbol feminisme. Nah itu jadi kenapa kita pilih Coet ya itu sebagai simbol perkawinan antara Yoni dan Lingga itukan," kata salah satu pegiat, Baron Famousa, Senin (13/12/2021).
Festival yang berlangsung di Sekretariat Kirik Nguyuh, Desa Girimukti, Kecamatan Kasokandel pada Sabtu (11/12/2021) lalu itu, menampilkan beberapa rangkaian acara seperti prosesi kawin batu, lomba ngulek sambel, dan pagelaran kesenian.
Adapun batu yang dijadikan pilihan untuk media festival itu, jelas dia, potensi desa jadi alasan pihaknya mengambil tema tersebut.
"Kebetulan kita punya Gunung Tilu yang sebagai potensi Desa Girimukti ini. Jelas kita lebih menggunakan batu karena kita punya potensinya itu. Jadi keterkaitannya juga lebih erat sama masyarakat sini," jelas dia.
Dalam festival yang sudah berlangsung sejak 5 tahun kebelakang ini, para peserta juga diwajibkan membawa cobek ulekan dan harus menyajikan sambel ciri khas dapur keluarga masing-masing.
"Mereka bawa Coet dari rumahnya masing-masing, dan harus membuat sambel khas dapur mereka juga. Jadi secara tidak langsung kita lebih saling mengenal sama tetangga kita itu. Jadi gotong-royong dan kerukunan itu terbangun di situ," ucapnya.
"Dan ini pun nggak hanya diikuti sama masyarakat sini aja, tetangga-tetangga Kecamatan kita juga ikut," lanjutnya.
Sementara itu, akibat pandemi COVID-19 festival Kawin Batu yang biasanya digelar di Gunung Tilu itu kini hanya digelar di sekretariat komunitas tersebut. "Gunung Tilu rehat sebagai panggung kami untuk menghormati sang penguasa pemberi pandemi," tandasnya.***
