Konten dari Pengguna

SBN Ritel Memikat Investor Muda untuk Bantu Pemulihan Ekonomi Terdampak COVID-19

Deni Ridwan

Deni Ridwanverified-green

Direktur Surat Utang Negara Kemenkeu

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Deni Ridwan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi milenial belajar investasi. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi milenial belajar investasi. Foto: Shutterstock

Pandemi COVID-19 adalah bencana non-alam yang belum terjadi sebelumnya, dilihat dari kecepatan penjalaran dan dampaknya terhadap umat manusia. Pemerintah telah mengambil langkah-langkah darurat yang diperlukan untuk mengatasi penyebaran virus serta dampaknya terhadap perekonomian. Di tengah kondisi pembatasan sosial skala besar, melambatnya aktivitas ekonomi, serta tekanan ekonomi yang dialami masyarakat luas, banyak pihak menyangsikan keberhasilan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) ritel di era pandemi.

Tahun 2020 mencatat penerbitan SBN ritel justru berhasil menorehkan prestasi yang membanggakan. Penerbitan SBN ritel sepanjang tahun 2020 lalu berhasil memecahkan rekor, baik dari sisi nominal penerbitan maupun jumlah investor.

Pemerintah telah menerbitkan 7 SBN Ritel, terdiri dari 3 Surat Utang Negara (SUN) Ritel (konvensional) dan 4 SBSN (Syariah), dengan total penerbitan sebesar Rp 76,81 triliun. Dari 7 seri yang diterbitkan, 5 di antaranya diterbitkan pada masa pandemi, yaitu ORI017, ORI018, SR013, ST007, dan instrumen baru SWR001.

Tantangan utama yang dihadapi adalah terbatasnya kegiatan marketing akibat kebijakan pencegahan penularan virus COVID-19. Salah satunya adanya kebijakan untuk membatasi mobilitas dan interaksi secara fisik dengan publik. Strategi marketing dengan pendekatan berbeda harus dilakukan untuk siasati keadaan. Kegiatan marketing melalui online platform seperti webinar dan media sosial menjadi andalan utama. Namun yang menjadi tulang punggung adalah sistem penjualan SBN ritel secara elektronik atau yang dikenal sebaga e-SBN.

Investasi pengembangan sistem penjualan online yang mulai diperkenalkan pada tahun 2018 terbukti manfaat dan efektivitasnya di masa pandemi. Sistem e-SBN menawarkan kenyamanan dan kemudahan untuk berinvestasi dari gawai tanpa harus keluar dari rumah.

Berkat kemudahan dan kenyamanan bertransaksi tersebut, total investor SBN Ritel tahun 2020 melejit mencapai jumlah 166.928 investor. Proporsi investor baru sebanyak 43,6 persen atau 72.844 investor. Melanjutkan tren sejak diperkenalkan e-SBN, generasi milenial mendominasi dengan proporsi 39 persen, disusul oleh generasi baby boomers sejumlah 26 persen.

Menarik untuk dicatat, meningkatnya jumlah investor muda generasi Z (kelahiran tahun 2000-an) yang notabene merupakan usia pelajar. Fenomena meningkatnya kesadaran generasi muda untuk berinvestasi tersebut layak diapresiasi tinggi.

Penawaran Surat Utang Ritel seri SBR003. Foto: Ema Fitriyani/kumparan

Konsistensi Pemerintah untuk menerbitkan SBN ritel secara reguler memiliki beberapa tujuan. Pertama, tujuan jangka pendek adalah sebagai bagian dari upaya pemenuhan target pembiayaan APBN. Penerbitan SBN ritel selama tahun 2020 telah mencapai 6 persen dari total penerbitan SBN dalam mata uang rupiah. Ke depan diharapkan porsi SBN ritel tersebut semakin meningkat.

Kedua, memberikan alternatif investasi yang aman dan menguntungkan bagi masyarakat. Sebagai instrumen yang diterbitkan oleh pemerintah, pembayaran imbal hasil dan pokok dijamin dalam undang-undang sehingga tidak ada risiko gagal bayar. SBN ritel ditawarkan dengan tingkat imbal hasil yang kompetitif dibanding investasi lain, serta insentif pajak yang menarik.

Selain itu, pada tahun 2020, jumlah seri SBN ritel yang dapat diperdagangkan (tradable) diperbanyak. Dengan fitur tersebut, masyarakat bisa menginvestasikan dana-nya, namun jika sewaktu-waktu dibutuhkan bisa segera dijual di pasar sekunder. Dengan demikian, risiko likuiditas bagi para investor bisa diminimalisir.

Ketiga, tujuan jangka panjang penerbitan SBN ritel adalah peningkatan kesadaran dan budaya berinvestasi masyarakat Indonesia. Hal ini sangat strategis dalam rangka mewujudkan kemandirian bangsa untuk pembiayaan pembangunan. Salah satu kendala dalam pembiayaan pembangunan adalah masih dangkal dan kurang likuid-nya pasar keuangan di dalam negeri.

Oleh karena itu, aliran dana masuk dari investor asing masih dibutuhkan. Sepanjang tahun 2020, telah terjadi penurunan persentase investor asing (non-resident) di pasar SBN domestik. Kepemilikan investor asing turun dari 38,6 persen di Desember 2019 menjadi 25,2 persen di Desember 2020. Ke depan, diharapkan peran investor domestik semakin meningkat, baik dari investor institusi seperti perusahaan asuransi dan dana pensiun, maupun investor ritel.

Tahun 2021 masih diwarnai ketidakpastian. Program vaksinasi virus COVID-19 diharapkan menjadi game changer untuk penanganan pandemi dan mempercepat pemulihan perekonomian. Dukungan untuk program kesehatan, sudah menjadi komitmen bersama dan pendanaannya telah tertuang dalam APBN 2021. Untuk memenuhi sebagian kebutuhan pembiayaan APBN, pemerintah kembali menawarkan SBN ritel seri ORI019 mulai tanggal 25 Januari hingga 18 Februari 2021 (informasi lengkap di laman www.kemenkeu.go.id/ori).

Keberhasilan penerbitan SBN ritel perdana di awal tahun ini bisa menjadi barometer optimisme pencapaian target pembiayaan APBN, sekaligus dukungan dan kepercayaan masyarakat untuk bersama-sama mengatasi dampak COVID-19. ORI bukan saja diartikan sebagai obligasi negara ritel, tetapi Optimisme Republik Indonesia untuk pemulihan ekonomi nasional.

*) Penulis adalah Direktur Surat Utang Negara pada Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan