Angka Nol di Uang Rupiah Sebaiknya Dipangkas 4 Digit

Nilai mata uang Indonesia termasuk salah satu yang paling tinggi di antara negara lain. Untuk itu, dengan adanya redenominasi bisa menyederhanakan sistem akuntansi dan pembayaran.
Redenominasi atau penyederhanaan denominasi rupiah yakni jumlah digit rupiah menjadi lebih sederhana sehingga akan terjadi peningkatan efisiensi di sektor keuangan dan sektor riil.
[Baca Juga: Apa Untungnya Redenominasi Rupiah?]
Sebagai gambaran saja, rupiah saat ini menduduki peringkat kedua di ASEAN dengan jumlah digit mata uang terbanyak, setelah dong Vietnam, dengan nilai denominasi terbesar Rp 100.000. Sementara denominasi terbesar Vietnam yakni 500.000 dong.

[Baca Juga: Memahami Redenominasi Rupiah]
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Samual menyarankan agar Indonesia bisa melakukan redenominasi dengan memangkas empat digit nilai rupiah. Sebab, hal ini akan mempengaruhi laju inflasi yang akan semakin stabil dan rendah.
"Menurut saya sekarang saat yang tepat untuk redenominasi, inflasi kita juga sudah rendah dan stabil. Jadi bisa sekalian dipangkas aja 4 angka," ujar David kepada kumparan (kumparan.com), Rabu (31/5).
[Baca Juga: Indonesia Bisa Tiru Turki yang Sukses Lakukan Redenominasi]

Menurutnya, saat ini di beberapa restoran sudah banyak yang memangkas pecahan rupiah di daftar menu.
"Harga kopi misalnya Rp 160.000, mereka sudah banyak tuh yang nulisnya Rp 16," jelasnya.
Meski demikian, ia menyarankan agar pemerintah dan Bank Indonesia bisa lebih mengawasi hal-hal teknis yang kadang luput dari perhatian, seperti pembulatan angka ke atas.
"Misalnya harga kopi Rp 167.500, mereka nulisnya Rp 16,75 atau biasanya tulisan 75 nya itu ditulis kecil, 16 nya aja yang ditulisnya besar. Nanti mereka biasanya buletin jadi Rp 17, dianggap beda dikit, justru ini yang harus diperhatikan. Padahal bedanya cukup banyak kan Rp 2.500 sebenarnya, jangan malah inflasi lagi," pungkasnya.
