Syarat Supaya RI Berhasil Menyederhanakan Rupiah

kumparanNEWSverified-green

clock
google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Ilustrasi Uang Rupiah (Foto: Thinkstock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Uang Rupiah (Foto: Thinkstock)

Penyederhanaan angka rupiah atau redenominasi bisa dilakukan jika kondisi makro ekonomi membaik, salah satunya laju inflasi yang relatif stabil dan rendah. Tujuannya, agar masyarakat tidak membulatkan harga ke atas yang malah memicu tekanan inflasi.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Samual mengatakan, ada beberapa hal yang menjadi perhatian pemerintah maupun Bank Indonesia (BI) agar redenominasi bisa efektif nantinya.

[Baca Juga: BI Akan Pangkas 3 Angka Terakhir di Rupiah]

Menurutnya, masa transisi harus digunakan secara baik. Artinya pada periode ini para pemegang kebijakan bisa menyosialisasikan kepada masyarakat mengenai definisi dan manfaat redenominasi.

"Jadi memang harus dilakukan secara bertahap, enggak bisa langsung. Nah saat masa transisi ini yang bertahap, pemerintah dan BI bisa lebih gencar sosialisasi ke masyarakat, bahwa ini kebijakan yang positif," ujar David kepada kumparan (kumparan.com), Rabu (31/5).

[Baca Juga: Indonesia Bisa Tiru Turki yang Sukses Lakukan Redenominasi]

Ilustrasi gambar pecahan mata uang rupiah baru (Foto: Bank Indonesia)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gambar pecahan mata uang rupiah baru (Foto: Bank Indonesia)

Selanjutnya yang perlu diperhatikan yakni perbaikan sistem perbankan. Jika dilakukan redenominasi, secara otomatis sistem pencatatan di bank juga berbeda.

"Pencatatan di bank jadi beda kan, misalnya punya tabungan Rp 100 juta, dengan redenominasi maka pencatatan tabungan menjadi Rp 100 ribu," jelasnya.

Mesin ATM dan beberapa sistem lainnya yang berhubungan dengan transaksi keuangan juga perlu diperbaharui nantinya.

[Baca Juga: Apa Untungnya Redenominasi Rupiah?]

"Kalau uang baru, pasti di ATM juga ada uang baru. Lalu ATM nya juga kan perlu diperbaharui. Artinya hal-hal teknis yang mesti mengikuti kebijakan, bisa dimanfaatkan di masa transisi itu, sehingga ketika benar full dilakukan bisa ready," jelasnya.

Terakhir yang tak kalah penting adalah pengawasan dalam melakukan redenominasi. Sehingga nantinya tidak terjadi kekacauan di masyarakat yang dapat memicu tingginya inflasi.

"Pengawasan harus lebih ketat lagi. Jangan malah sudah redenominasi tapi nanti inflasinya malah makin tinggi. Ini yang perlu dijaga," pungkasnya.