Konten dari Pengguna

Bagaimana Atheis dalam Sastra?

Dina Amalia

Dina Amalia

Mahasiswi Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dina Amalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam "Atheis," konflik antara modernisme dan tradisionalisme bukan hanya latar belakang, tetapi merupakan inti dari perjalanan karakter utama, Hasan. Tradisionalisme, yang diwakili oleh keyakinan agama yang kuat dan norma-norma sosial yang ketat, bertentangan dengan modernisme yang membawa pemikiran rasional, ateisme, dan ideologi Marxis. Ketegangan antara kedua ideologi ini menciptakan dinamika yang kompleks dan menantang bagi Hasan dalam mencari jati diri dan tempatnya di dunia yang sedang berubah.

Novel ini menggambarkan benturan antara nilai-nilai tradisional yang dipegang teguh oleh masyarakat dan pandangan hidup modern yang mulai menyebar. Dalam novel "Atheis" karya Achdiat Karta Mihardja, benturan antara modernisme dan tradisionalisme merupakan tema sentral yang menggaris bawahi perjalanan karakter dan konflik dalam cerita. Berikut adalah analisis teks mengenai bagaimana modernisme dan tradisionalisme saling berinteraksi dan berbenturan dalam novel "Atheis" ini.

Tradisionalisme dalam novel "Atheis" diwakili oleh nilai-nilai dan norma-norma agama serta budaya yang telah ada dalam masyarakat Indonesia pada masa itu yang disiratkan melalui narasi-narasi mencakup:

Tradisionalisme dalam "Atheis"

1. Keyakinan Agama yang Kuat:

  • Hasan, sebagai tokoh utama, dibesarkan dalam keluarga Muslim yang taat. Agama adalah pusat kehidupan sehari-hari dan memberikan struktur moral serta etika yang kuat.

Kutipan 1 Ayah dan ibuku tergolong orang yang sangat saleh dan alim. Sudah sedari kecil jalan hidup ditempuhnya dengan tasbih dan mukena. Iman Islamnya sangat tebal. Tidak ada yang lebih nikmat, dilihatnya dari pada orang yang sedang bersembahyang, seperti tidak ada pula yang lebih nikmat bagi penggemar film daripada menontoh film bagus. (Atheis:11)

Kalimat-kalimat ini secara keseluruhan menggambarkan orang tua yang sangat taat beragama, yang kehidupan dan kebahagiaannya berpusat pada praktik dan pengamatan ibadah. Dari kecil, mereka telah menjalani hidup yang diwarnai oleh ibadah dan kesalehan. Kekuatan iman mereka yang tebal dan rasa nikmat yang mereka peroleh dari melihat orang lain bersembahyang menunjukkan betapa mendalam dan pentingnya agama dalam kehidupan mereka. Perbandingan dengan kenikmatan penggemar film menonton film bagus membantu pembaca memahami betapa besar nilai dan kebahagiaan yang mereka temukan dalam kegiatan keagamaan.

Kutipan 2 Berat nian penderitaan kedua orang tuaku itu, sebagai sepasang suami-istri yang masih muda. Dan kalau bukan keluarga yang alim, mungkinlah mereka itu akan tersesat mencari pelipur lara di daerah yang tidak baik. Tapi oleh karena memang sudah dididik dari mulai kecil di dalam suasana keagamaan, maka penderitaan mereka itu semata-mata dipandang sebagai suatu percobaan Tuhan yang berat sekali, yang harus diatasinya dengan segala ketawakalan hati. Karena itulah mereka menjadi lebih alim lagi. Entahlah, benar juga rupanya kata pepatah Belanda “in de nood leert men bidden”. Dan rupanya saja pada orang yang sudah gemar bersembahyang seperti pada ayah dan ibuku, "nood” itu menambah mereka makin rajin bersembahyang. (Atheis:15)

Kutipan 3 Pada usia lima tahun aku sudah dididik dalam agama. Aku sudah mulai diajari mengaji dan sembahyang. (Atheis:15)

Kutipan 4 Sejak aku menganut ilmu mistik seperti ayah dan ibu itu, makin rajinlah aku melakukan ibadat. Sekarang ditambah lagi dengan kewajiban-kewajiban yang berat yang diperintahkan oleh ajaran mistik yang baru kuanuti itu. (Atheis:22)

Berdasarkan pada kutipan-kutipan di atas menunjukkan bahwa keyakinan pada agama merupakan salah satu bentuk tradisionalisme yang digambarkan dalam novel ini. Hasan sebagai tokoh utama juga digambarkan sebagai seseorang yang taat pada agama. Hal ini dikarenakan saat kecil Hasan sudah menerima didikan agama yakni mengaji dan sembahyang serta diperkuat ketika Hasan ikut menganut ilmu mistik seperti ayah dan ibunya. Norma atau nilai-nilai keyakinan agama yang kuat inilah yang menjadikan sisi tradisionalisme kuat dalam novel ini.

Ilustrasi Konflik yang dirasakan tokoh. Sumber: Pexels.com
  • Tradisi agama ini mencakup ritual, ajaran moral, dan hukum yang mengatur kehidupan individu dan masyarakat. Ketaatan pada nilai-nilai agama adalah hal yang dianggap penting dan berperan besar dalam identitas Hasan.

Kutipan 1 "Anak yang nakal, yang tidak mau bersembahyang akan masuk neraka," begitu selalu kata ibu. "Di neraka, anak yang nakal itu akan direbus dalam kancah timah yang bergolak-golak. Tidak ada yang bisa menolongnya, ibu-bapaknya pun tidak bisa." (Atheis:16-16)

Nilai tradisionalisme juga tidak bisa terlepas dari ritual, ajaran moral, dan hukum yang mengatur kehidupan individu di masyarakat. Dalam novel ini ketaatan pada nilai agama dianggap hal yang penting dan berperan besar. Berdasarkan kutipan di atas identitas Hasan diperkuat sebagai seseorang yang taat akan ajaran moral dan hukum-hukum yang berlaku pada tradisi agama. Maka dari itu pengaruh tradisional masih mempengaruhi tokoh utama.

2. Norma Sosial dan Keluarga:

  • Dalam hal ini asyarakat tradisional menekankan pentingnya norma sosial, seperti penghormatan terhadap orang tua, peran gender yang jelas, dan kewajiban sosial. Hasan merasa terikat oleh ekspektasi dan tanggung jawab yang diharapkan oleh keluarga.

Kutipan 1 Belum pernah aku menonton" bersama-sama dengan seorang perempuan, atau diajak oleh seorang perempuan. Apalagi oleh seorang perempuan asing yang baru saja kukenal seperti Kartini itu. Apa kata orang nanti? Dan memang aku pun tidak suka menonton. Didikan keagamaanku tidak sesuai dengan sifat-sifat keriahan dan keduniawian macam menonton bioskop itu. Maka jawabku pun tegas, "Ah, tidak!" (Atheis:41)

Tentunya tradisionalisme menekankan pentingnya norma sosial seperti penghormatan terhadap orang tua maupun peran gender yang jelas. Berdasarkan kutipan di atas Hasan masih menjalankan norma sosial dimana ia merasa kurang nyaman di saat berada dalam posisi berduaan dengan seorang perempuan yang baru saja dikenal. Didikan keagamaan membuat Hasan teringat bahwa sifat-sifat keindahan dan keduniawian itu tidak dibenarkan. Ketidakpatuhan terhadap norma-norma ini sering kali dianggap sebagai pelanggaran dan dapat menyebabkan konflik.

Modernisme dalam "Atheis"

Modernisme diwakili oleh ideologi dan pemikiran yang berkembang dalam konteks perubahan keyakinan dan ketaatan. Dalam novel ini, modernisme meliputi:

1. Pemikiran Rasional dan Skeptisisme:

  • Hasan mulai terpengaruh oleh ideologi Marxisme dan ateisme, yang mengedepankan pendekatan rasional dan skeptis terhadap keyakinan agama. Rasionalisme dan skeptisisme ini menantang dogma agama dan norma-norma yang tradisionalisme.

Kutipan 1 Empat tahun Rusli hidup di Singapura. Dan selama empat tahun itu ia banyak belajar tentang soal-soal politik. Bukan hanya dengan jalan banyak membaca buku-buku politik saja, akan tetapi juga banyak bergaul dengan orang-orang pergerakan internasional. Pergaulan macam begitu mudah sekali dijalankan di suatu kota "internasional" seperti Singapura. Macam-macam aliran dan stelsel, serta ideologi-ideologi politik dipelajarinya dengan sungguh-sungguh, terutama sekali ideologi Marxisme. (Atheis:32)

Kutipan 2 Dan kalau dulu aku suka memberi uang kepada fakir miskin, apalagi kalau hari Jumat pulang dari mesjid, maka sekarang aku tidak merasa segan-segan lagi mengusir orang-orang minta-minta. Sebab, bukankah kata Marx, bahwa menolong orang-orang miskin 'itu reaksioner’, karena dengan perbuatan demikian itu kata Marx, kita memperlambat jatuhnya kapitalisme? Memperlambat, sebab kita menahan-nahan mendalamnya dan meluasnya kebencian orang terhadap susunan masyarakat sekarang yang harus dirombak menjadi masyarakat sosialis untuk kemudian meningkat lagi ke masyarakat komunis yang "serba sempurna" itu. (Atheis:136)

Dalam hal ini Hasan sebagai tokoh utama beberapa kali terpengaruh oleh ideologi marxisme akibat hasil buah perbincangannya dengan tokoh Rusli. Kutipan 1 menjelaskan bahwa Rusli memeluk ideologi marxisme akibat pergaulan yang ia terima ketika ia hidup di Singapura. Sementara kutipan dua menjelaskan bahwa Hasan kini mulai terpengaruh apa yang Rusli dapatkan di Singapura yaitu ideologi marxisme.

Berdasarkan kutipan tersebut juga disuratkan bahwa Hasan yang dulunya suka memberi uang kepada fakir miskin kini tidak merasa segan untuk mengusir orang-orang tersebut karena menurutnya menolong orang miskin itu reaksioner karena dapat memperlambat jatuhnya kapitalisme. Pemikiran berkembang seperti inilah yang mengubah norma-norma tradisional yang ada di dalam diri Hasan. Ini merupakan salah satu bentuk interaksi bagaimana proses tradisionalisme dan modernisme bersaing. Proses ini melibatkan evaluasi kritis terhadap ajaran agama dan penekanan pada pemikiran logis dan empiris.

2. Perubahan Sosial dan Kritis terhadap Kapitalisme:

  • Melalui pengaruh Marxisme, Hasan mulai memandang ketidakadilan sosial dan ekonomi yang ada dalam sistem kapitalis. Marxisme menawarkan kritik terhadap eksklusi kelas dan eksploitasi yang dianggap sebagai hasil dari sistem kapitalis.

Kutipan 1 "Barangkali bagi Saudara, cara hidupnya demikian itu agak menyolok mata, karena tidak biasa, tapi di balik semua itu tidak ada kejahatan apa-apa. Dan kalau dikatakan orang bahwa ia sudah jatuh, maka jatuhnya itu semata-mata dilantarankan oleh sesuatu stelsel yang buruk, yaitu stelsel kapitalisme. Jadi bukan karena memang dasar budinya jahat. Sekali-kali tidak. Itulah maka Kartini sekarang telah menjadi seorang wanita pejuang yang insyaf dan sadar untuk menentang stelsel itu. Ia mulai belajar politik. Ya, Bung, pengalamannya yang pahit itulah telah membikin dia menjadi seorang Srikandi yang berideologi tegas dan radikal. Mungkin dalam mata orang-orang yang kolot dan konservatif, ia seolah-olah seorang wanita yang sudah pecat imannya.... (Atheis:35-36)

Berdasarkan kutipan di atas menjelaskan bahwa pengaruh ideologi marxisme membuat Hasan tergoyahkan pemikirannya. Dengan narasi-narasi yang dilontarkan oleh Rusli berhasil membuat Hasan yang tadinya fokus pada ketaatan agama kini beralih menjadi seseorang yang kritis terhadap kapitalisme akibat pengaruh ideologi yang ia terima dapat dibuktikan melalui kutipan di atas.

3. Kebebasan Individu dan Eksperimen Intelektual:

  • Modernisme menekankan kebebasan individu untuk menentukan jalannya sendiri dan mengeksplorasi ide-ide baru. Hasan merasakan dorongan untuk mengejar pemikiran baru dan menemukan identitasnya di luar batas-batas tradisionalisme yang ada.

Ilustrasi kebebasan dalam novel ini. Sumber: Pexels.com

Kutipan 1 "Juga manusia adalah sesuatu benda yang terdiri dari bermacam-macam unsur kimia, yang dengan sendirinya mengalami juga proses kimia. Dengan menggunakan ilmu kimia atau ilmu pisah kita akan bisa mengetahui semua bagian-bagian atau unsur-unsur yang menjadikan seorang manusia itu. Pada saat sekarang manusia belum sampai kepada pengetahuannya untuk mengetahui benar-benar, apakah sebetulnya nyawa itu. Kita baru bisa mengatakan, bahwa nyawa itu sangat halus. Dari unsur-unsur apa terjadinya nyawa itu? Tentu dari unsur-unsur yang sangat halus pula yang demikian halusnya, sehingga pada saat sekarang belum ada sesuatu alat bikinan manusia yang bisa memotretnya atau melihatnya seperti dengan sebuah mikroskop. Akan tetapi tidak mungkinkah bahwa sekali kelak manusia itu akan bisa juga membikin sesuatualat yang bisa digunakan untuk memeriksa dan mengetahui benarbenar tentang keadaan dan hakikat nyawa itu? Tahu akan unsur-unsurnya dan bagaimana proses kimianya dan sebagainya? Nah,tidak mungkinkah pula, bahwa manusia itu sekali kelak akan bisa menemui unsur-unsur yang belum ditemuinya di udara sekarang ini, unsur-unsur mana akan ternyata bisa kita ambil dan gunakan untuk membikin nyawa manusia?" (Atheis:66)

Dalam hal ini modernisasi juga menekankan kebebasan individu untuk menentukan jalannya sendiri dan mengeksplorasi ide-ide yang baru. Berdasarkan kutipan di atas banyak narasi atau kalimat-kalimat yang menyinggung mengenai unsur-unsur apa yang terjadi di dalam manusia, bagaimana unsur-unsur yang dapat menjadikan seseorang menjadi manusia. bagaimana unsur-unsur yang menyusun nyawa. Ide-ide atau pemikiran baru ini merupakan batas-batas luar dari nilai tradisional yang Hasan pelajari ketika kecil. Ini merupakan salah satu bentuk interaksi antara tradisional dan modernisme yang diterima oleh tokoh utama.

Konflik antara Modernisme dan Tradisionalisme

1. Konflik Internal Hasan:

  • Hasan mengalami konflik batin yang mendalam saat beralih dari keyakinan agamanya menuju pandangan dunia yang lebih sekuler dan rasional. Perubahannya mencerminkan ketegangan antara nilai-nilai lama dan ideologi baru yang sedang berkembang.

2. Ketegangan dengan Keluarga dan Masyarakat:

  • Ketika Hasan mulai mengadopsi pemikiran modern dan meninggalkan nilai-nilai tradisional, dia menghadapi ketegangan dan penolakan dari keluarganya serta masyarakat. Konflik ini menggambarkan bagaimana ide-ide baru dapat menantang struktur sosial yang sudah ada dan menimbulkan pergeseran dalam hubungan interpersonal.

3. Perubahan Sosial yang Lebih Luas:

  • Novel ini juga mencerminkan perubahan sosial yang lebih luas di Indonesia pada masa itu, di mana ide-ide modern mulai menggantikan nilai-nilai tradisional. Ketegangan antara modernisme dan tradisionalisme menjadi simbol dari pergeseran besar yang terjadi dalam masyarakat.

Dalam novel "Atheis," pertempuran antara modernisme dan tradisionalisme menggambarkan konflik internal dan sosial yang dialami oleh tokoh-tokoh dan masyarakat. Novel ini memperlihatkan bagaimana ideologi baru dapat mengguncang tatanan yang telah ada dan mempengaruhi pencarian identitas pribadi dan kolektif. Dengan menggambarkan ketegangan ini, Achdiat Karta Mihardja memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana perubahan ideologis dan sosial dapat mempengaruhi kehidupan individu dan masyarakat secara keseluruhan.