Tempe, Pangan Tradisional yang Mengandung Probiotik
·waktu baca 2 menit

Tempe selama ini dikenal sebagai sumber protein yang terjangkau dan mudah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Namun, di balik popularitasnya sebagai lauk sehari-hari, tempe juga merupakan salah satu pangan fermentasi yang mengandung mikroorganisme bermanfaat bagi tubuh.
Hal tersebut disampaikan Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia, Prof. Dra. Wellyzar Sjamsuridzal, M.Sc., Ph.D, dalam acara Press Conference Peluncuran Varian Yakult Rasa Terbaru di CGV Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Senin (25/5).
Tempe Tidak Hanya Kaya Protein
Menurut Prof. Wellyzar, tempe tidak hanya mengandung protein dan karbohidrat, tetapi juga mikroorganisme yang terbentuk selama proses fermentasi.
"Tempe juga merupakan makanan yang mengandung probiotik," ujarnya saat ditanya kumparanMOM.
Meski demikian, tempe umumnya dikonsumsi setelah dimasak sehingga sebagian besar mikroorganisme tersebut tidak lagi hidup. Namun, manfaatnya tidak serta-merta hilang.
Ia menjelaskan bahwa senyawa metabolit yang dihasilkan selama proses fermentasi tetap tersimpan di dalam tempe. Selain itu, sisa-sisa sel mikroorganisme yang sudah tidak aktif juga masih dapat memberikan manfaat bagi kesehatan.
"Tapi walaupun probiotiknya mati, walaupun bakterinya mati. Tetapi senyawa-senyawa metabolit yang dihasilkan si bakteri tentu sudah ada di tempenya. Jadi tetap saja kita bisa mendapat manfaat dari sisa-sisa sel-sel bakteri yang sudah tidak aktif. Itu tetap bisa meningkatkan sel imun kita,” tegasnya.
Indonesia Kaya Pangan Fermentasi
Selain tempe, Indonesia juga memiliki beragam pangan fermentasi tradisional lainnya seperti dadih, dangke, tape singkong, dan tape ketan.
Menurut Prof. Wellyzar, makanan-makanan tersebut mengandung mikroorganisme yang berperan dalam proses fermentasi dan menghasilkan berbagai senyawa yang bermanfaat bagi tubuh. Pada tape, misalnya, terdapat mikroorganisme Saccharomyces cerevisiae yang membantu proses fermentasi.
