Konten dari Pengguna

Hypersomnia, Penyebab dan Pencegahannya

Eriko Indrawan

Eriko Indrawan

Mahasiswa UIN Jakarta Prodi Psikologi

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Eriko Indrawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://www.freepik.com/free-photo/man-sleeping-bed-morning_3395786.htm#query=sleep&position=26&from_view=search&track=sph
zoom-in-whitePerbesar
https://www.freepik.com/free-photo/man-sleeping-bed-morning_3395786.htm#query=sleep&position=26&from_view=search&track=sph

Pernahkah anda berada dalam kondisi di mana kamu sering tertidur disiang hari meskipun tidur cukup selama 8 jam semalam? Jika demikian, hati-hati! Mungkin anda mengalami hypersomnia, Eits, jangan self-diagnose dirimu dulu, ya. Lihat ringkasan hypersomnia di bawah ini! Sebelum membahas lebih jauh mengenai gejala dan bahaya hypersomnia, anda harus memahami terlebih dahulu pengertian dari hypersomnia.

Apa itu Hypersomnia?

Hypersomnia adalah gangguan tidur di mana penderitanya sering tertidur atau mengantuk disiang hari meskipun sudah tidur selama 8 jam di malam hari. Seseorang dengan hypersomnia dapat tertidur kapan saja, di mana saja, bahkan di tempat kerja atau saat berkendara. Lantas apa saja gejala hypersomnia? Gejala hypersomnia yang paling umum adalah tidur berlebihan. Sedangkan gejala khusus hypersomnia, yaitu:

  • Lemas

  • Kehilangan nafsu makan

  • Sulit dalam mengingat hal yang sederhana

  • Sulit dalam berpikir atau berbicara

  • Gangguan emosi atau iritabilitas

Hypersomnia dibagi 2 kategori yaitu hypersomnia primer dan hypersomnia sekunder. Hypersomnia primer adalah hypersomnia yang dapat terjadi dengan sendirinya. Hypersomnia primer disebabkan oleh aktivitas sistem saraf pusat yang mengatur waktu bangun dan tidur. Hypersomnia sekunder adalah hypersomnia yang disebabkan oleh kondisi medis tertentu.

Gejala utama hypersomnia primer dan hypersomnia sekunder

Gejala utama hypersomnia primer adalah rasa kantuk disiang hari, padahal kamu sudah cukup tidur di malam hari. Sedangkan gejala hypersomnia sekunder biasanya disebabkan oleh kelelahan akibat berkurangnya waktu tidur, konsumsi obat-obatan tertentu, alkohol, dsb. Dalam catatannya, kejadian hypersomnia primer lebih jarang dibandingkan hypersomnia sekunder.

Rasa kantuk berlebihan sebagai gejala umum dari hypersomnia, nyatanya dapat terkena tanpa sebab. Rasa kantuk yang kamu alami tanpa sebab itu dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan atau faktor keturunan. Meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan bahwa hypersomnia pun dapat dipengaruhi oleh penyakit genetik langka, seperti Myotonic Dystrophy, Prader-Willi syndrome, dan Norrie Disease.

Hypersomnia kemungkinan memiliki kaitan dengan gangguan sistem saraf pusat yang cenderung sulit dikenal seperti tumor otak, gangguan pada hipotalamus dan batang otak. Sementara itu, penyakit yang biasa terkena pada usia tua, seperti Alzheimer dan Parkinson pun juga memiliki keterkaitan dengan hypersomnia karena gejala yang timbul identik sama, yaitu rasa kantuk yang berlebih.

Faktor yang berisiko mengidap hypersomnia?

Faktanya, pria lebih mungkin menderita dari pada wanita. Ada beberapa faktor yang bisa membuat kamu berisiko mengalami hypersomnia, berikut beberapa faktornya:

  1. Waktu tidur yang berkurang

  2. Mengalami depresi

  3. Mempunyai riwayat penyakit ginjal, retless leg syndrome, hipotiroid, dan multiple sclerosis

  4. Faktor genetik, yang mana terdapat keluarga atau kerabat dekat yang mengalami hypersomnia

  5. Mengonsumsi obat-obatan terlarang

  6. Mengalami sleep apnea

  7. Obesitas

  8. Riwayat cedera pada sistem saraf, terutama trauma kepala

  9. Mengalami epilepsi

  10. Mengonsumsi obat penenang atau antihistamia

Yang penulis dapat dari artikel yang dikeluarkan Hellosehat yang berjudul Selalu Mengantuk di Siang Hari? Mungkin Anda Mengidap Hypersomnia mengatakan bahwa;

Bagaimana cara mendiagnosis hypersomnia?

Jika anda sudah mengetahui beberapa faktor penyebab hypersomnia, anda tahu cara mendiagnosis hypersomnia dengan benar. Menurut American Sleep Association, sekitar 40% penduduk mengalami rasa kantuk yang berlebihan. Jadi, gejala hypersomnia biasa terjadi. Namun, beberapa tes dan alat masih diperlukan untuk mendeteksi hypersomnia, terutama hypersomnia primer. Ayo simak penjelasan di bawah ini!

  1. Menggunakan polysomnogram untuk memantau aktivitas otak, gerakan mata, detak jantung, kadar oksigen, dan pernapasan saat tidur

  2. Pemantauan tidur dan bangun untuk melacak pola tidur

  3. Tes fisik untuk mengontrol perhatian

  4. Penilaian jenis tidur yang dialami oleh seseorang pada siang hari dengan multiple sleep latency test

  5. Penilaian rasa ngantuk menggunakan Epworth Sleepiness Scale

Bagaimana cara untuk mengatasi hypersomnia?

Salah satu cara terpenting untuk mengobati hypersomnia adalah dengan melakukan perubahan gaya hidup. Contohnya bisa dengan membuat jadwal tidur yang teratur dan menerapkan model sleep hygiene untuk memprioritaskan aktivitas agar waktu tidur kamu tidak berkurang.

Orang yang menderita hypersomnia juga disarankan untuk berhenti merokok, minum alkohol dan mengurangi makan berlebihan untuk menjaga metabolisme dan meningkatkan energi.

Beberapa penderita hypersomnia dapat sembuh dengan melakukan perubahan gaya hidup sehat dan teratur. Namun, jika kamu telah mencoba mengubah gaya hidup dan ini tidak membantu, kamu disarankan untuk mengonsumsi obat-obatan tertentu yang sesuai.

Nah, setelah menyimak penjelasan di atas, kamu diharapkan dapat memahami tentang apa itu hypersomnia, gejalanya, dan cara mengatasinya. Setelah memahami hypersomnia, dan kemudian kamu merasakan adanya gejala hypersomnia dalam diri kamu, segeralah pergi berkonsultasi kepada tenaga medis profesional untuk mendapat diagnosis yang tepat. Tetap semangat ya, guys!