Konten dari Pengguna
Menggunakan Akal budi Untuk Menerangi Hati
4 Mei 2025 14:18 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Menggunakan Akal budi Untuk Menerangi Hati
Al-Ghazali: Pemikir brilian yang harmonikan akal & wahyu. Kritik filsafat Yunani, tekankan hati yang suci. Relevan di era modern!Muhammad Faishol Al Hamimy
Tulisan dari Muhammad Faishol Al Hamimy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Di sebuah era ketika akal dijunjung tinggi namun jiwa dibiarkan haus akan makna, di tengah gemerlap kejayaan peradaban Islam, terjadi pertarungan sengit antara rasionalitas yang ingin menguasai segalanya dan wahyu yang menuntut ketundukan. Di panggung inilah muncul seorang pemikir brilian—bukan sebagai penentang akal, melainkan sebagai penjaga keseimbangan. Dialah Abu Hamid Al-Ghazali, seolah mengingatkan kita agar tetap menggunakan akalm, tetapi jangan korbankan wahyu di bawah logika
ADVERTISEMENT
Abad ke-11 M, Baghdad berdiri sebagai mercusuar peradaban Islam. Di sana, warisan filsafat Yunani—karya Aristoteles dan Plato—yang telah diterjemahkan sejak masa keemasan Abbasiyah, memicu perdebatan sengit. Akal diagungkan sebagai hakim tertinggi, bahkan untuk menyingkap rahasia ketuhanan. Namun, Al-Ghazali gelisah. Ia melihat bahaya mengintai: para filsuf Muslim terbuai oleh konsep alam yang qadim (kekal), seolah-olah alam tidak memiliki permulaan. Mereka meragukan kebangkitan jasmani, menyangkal mukjizat, dan terjebak dalam logika sebab-akibat ala Aristoteles yang membatasi kuasa Tuhan.
Bagi Al-Ghazali, ini bukan sekadar kesalahan logika—ini pengingkaran terhadap hakikat iman. Dengan keberanian luar biasa, Al-Ghazali menulis Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Para Filsuf), sebuah kritik tajam terhadap filsafat Yunani. Karyanya bagai petir yang membelah kegelapan, mengungkap kontradiksi dalam pemikiran para filosof.
ADVERTISEMENT
Namun, Al-Ghazali bukanlah pembunuh akal. Kenyataannya dia adalah ahli logikaa. Dalam Mi’yar al-‘Ilm, ia merumuskan kaidah berpikir yang presisi. Namun, ia mengingatkan bahwa akal ibarat pelita di kegelapan—ia berguna, tetapi takkan pernah mencapai matahari kebenaran tanpa bimbingan wahyu.
Di puncak kejayaannya, Al-Ghazali memilih mengasingkan diri. Ia meninggalkan Baghdad, mengembara selama sepuluh tahun sebagai pencari cahaya Ilahi—bukan melalui deduksi logika, melainkan dengan penyucian hati. Dari pengembaraan itu, lahirlah Ihya Ulumuddin, mahakarya yang menyatukan syariat, akal, dan sufisme.
Sembilan abad berlalu, pertanyaannya masih relevan: Apa jadinya jika akal menjadi tiran yang meminggirkan wahyu? Atau, jika agama membelenggu akal dalam sangkar dogma? Al-Ghazali bak menawarkan jalan tengah: Akal adalah mercusuar, wahyu adalah bintang penuntun.
ADVERTISEMENT
Di era ketika sains sering dianggap sebagai satu-satunya kebenaran, sementara fundamentalisme agama menolak kemajuan, pemikiran Al-Ghazali menjadi penyeimbang. Ia mengajarkan: Sains tanpa spiritualitas adalah kesombongan. Agama tanpa akal adalah kebutaan.
Ia mengkritik ilmuwan yang piawai membedah tubuh tapi lupa menyembuhkan hati, atau ahli geometri yang menghitung luas bumi tetapi lupa mengukur kesombongannya sendiri. Hakim yang bingung akan uang suap, lupa untuk menghakimi diri sendiri.
Al-Ghazali tidak meninggalkan kita dalam kegelapan intelektual maupun spiritual. Dalam karyanya, ia membangun sebuah sintesis cerdas antara akal, wahyu, dan hati. Ia mengajak kita untuk menggunakan akal secara maksimal dalam memahami realitas dan hukum alam, namun menegaskan bahwa ketika akal mencapai batasnya, wahyu harus tetap menjadi pegangan utama. Pada saat yang sama, Ghazali menekankan pentingnya pensucian hati—karena hanya hati yang bersih yang mampu merasakan kehadiran Ilahi secara mendalam. Di tengah dunia modern yang sering terpecah antara kemajuan teknologi dan kekosongan spiritualitas, Ghazali seolah berbisik, “Kau boleh menjelajahi dasar bumi, tetapi jangan lupa—jiwamu adalah lahan kosong yang menanti benih iman.”
ADVERTISEMENT
Pada akhirnya, Al-Ghazali tidak sekadar melayangkan kritik terhadap para pemikir filsafat, melainkan juga mengundang kita untuk merenungkan secara mendalam peran manusia dalam lanskap pengetahuan dan keimanan. Ia mendorong kita untuk mengevaluasi ulang: apakah keraguan terhadap agama muncul dari pencarian yang tulus atau hanya merupakan manifestasi dari keangkuhan intelektual? Apakah sikap menjauh dari sains benar-benar didasarkan pada keyakinan religius, atau justru karena enggan untuk berpikir kritis? Ketika kita terjebak dalam ekstremisme—mengagungkan akal semata atau menggantungkan segalanya pada wahyu—bukankah kita sedang mengulang kekeliruan yang telah disorot oleh Ghazali berabad-abad silam? Melalui pemikiran dan keteladanannya, Ghazali menyerukan agar manusia menjadi pribadi paripurna: menggunakan akalnya untuk berpikir, hatinya untuk beriman, dan tangannya untuk mewujudkan keadilan dalam kehidupan nyata
ADVERTISEMENT

