Pendakian Gunung Sebagai Pilar Ekowisata Berkelanjutan

Faiz merupakan mahasiswa Ilmu Ekonomi UGM yang adaptif dan kreatif, senang mencoba hal baru dan tertarik pada dunia investasi dan tentu saja ekonomi dan politik. Diluar itu Faiz juga senang dengan aktivitas alam seperti mendaki ataupun hiking.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Muhammad Faiz Muflih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mendaki gunung atau hiking adalah salah satu aktivitas populer yang menawarkan berbagai macam pengalaman seperti merasakan dan melihat keindahan alam secara langsung, kesunyian, dan ketenangan dengan berjalan menanjak sampai ber kilo-kilo jauhnya. Pengalaman ini akan menjadi sangat berharga dan sangat berkesan bagi sebagian besar orang terutama orang yang kesehariannya diisi dengan aktivitas monoton seperti bekerja, kuliah dan aktivitas lainnya yang memaksa diri untuk terus melakukan hal yang sama setiap harinya.
Kemudian, apa itu ekowisata keberlanjutan? Istilah tersebut berkembang secara bertahap pada akhir 1970-an sampai 1980-an sebagai bentuk respons atas dampak negatif dari pariwisata massal. Ekowisata menekankan keberlanjutan lingkungan dan sosial yang bertujuan untuk tidak hanya menjaga tempat wisata dari para pengunjung namun juga melibatkan pengunjung sebagai bagian dari penjaganya, sekaligus menciptakan nilai ekonomi dan sosial yang adil bagi masyarakat sekitar lokasi wisata.
Terlihat masih banyak kerusakan di daerah Taman Nasional atau wilayah wisata alam, entah itu pencemaran seperti banyaknya sampah atau bahkan sampai pemicu dari kebakaran hutan. Ditemukan juga pendaki-pendaki "nakal" yang mendaki gunung melalui jalur-jalur ilegal yang tidak hanya membahayakan pendaki itu sendiri dan juga ekosistem yang ada di wilayah gunung. Dari sini hadir pertanyaan,
mengapa aktivitas yang begitu menyatu dengan alam justru sering menjadi penyebab kerusakan alam itu sendiri?
Berdasarkan pengalaman pribadi penulis, tidak jarang ditemukan pendaki yang masih belum memiliki kesadaran terhadap lingkungan yang cukup merupakan pendaki yang berasal dari kota-kota besar. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengkonfirmasi hal tersebut dan mencari apa yang menyebabkan hal tersebut. Namun asumsi awal penyebabnya adalah kurangnya sense of belonging dari para pendaki sehingga pendaki merasa aman dan akan ada pihak yang akan bertanggung jawab atas kecerobohan atau kelalaian yang mereka perbuat.
Beberapa tahun terakhir, terlihat perubahan drastis dalam jumlah pendaki gunung. Ini adalah kabar baik untuk keberlangsungan bisnis wisata alam mengingat begitu banyak keanekaragaman dan keindahan alam di Indonesia yang mampu menjadi daya tarik tersendiri dan memiliki potensi besar dalam berkontribusi pada peningkatan ekonomi lokal hingga negara. Tetapi ada hal yang perlu di garisbawahi, edukasi tentang etika dalam mendaki, pentingnya menjaga kestabilan ekosistem dan kesadaran dalam menjaganya harus ditekankan. Selain itu manajemen dan pengelelolaan area wisata juga harus dibuat sedemikian sehingga dapat menciptakan "ekosistem" yang mendukung untuk para pengunjung agar tidak mencemari area wisata.
Mengingat banyaknya kasus yang ditimbulkan dari minimnya edukasi dan kesadaran baik dari pengunjung maupun pengelola, maka kita memerlukan pembaruan konsep pada wisata pendakian gunung itu sendiri. Seperti diadakannya trip pendakian yang tidak hanya bisa menikmati alam secara langsung tetapi peserta juga diajarkan bagaimana tata cara dan etika pendakian itu sendiri. Tentu diperlukan sinergitas antara pendaki dengan pengelola dan pemasaran yang luas nan jitu agar konsep ini bisa diterima dan menarik khalayak luas, namun apabila konsep ini diterima dan menjamur di berbagai komunitas dan gunung-gunung di Indonesia, maka akan bisa berdampak positif terhadap keberlangsungan alam dan wisata pendakian itu sendiri.
Setelah pengembangan konsep tersebut sudah membuahkan hasil dengan meningkatnya kesadaran pengunjung terhadap lingkungan, maka dari situ akan diikuti dengan integrasi antara pengelola wisata dengan pihak pengelola sampah, UMKM, homestay, basecamp, porter, guide dan usaha lainnya di sekitar area wisata. Dengan adanya integrasi seperti ini, tidak hanya dapat meningkatkan ekonomi lokal namun juga keberlangsungan wisata alam pendakian itu sendiri karena terdapat support system yang saling melengkapi setiap kebutuhannya. Dengan begitu, pendakian gunung sebagai pilar ekowisata berkelanjutan bukan lagi sebuah angan-angan.
Mendaki gunung bukan hanya soal lari dari rutinitas tetapi juga momentum untuk membangun kesadaran bersama dalam menjaga bumi pertiwi. Apabila pendakian gunung dilakukan dengan prinsip-prinsip ekowisata yang mengutamakan pelestarian, edukasi dan pemberdayaan masyarakat lokal, maka akan memiliki nilai yang jauh lebih besar dari sekedar mencapai puncak atau jalan-jalan. Sudah seharusnya semua pihak, baik dari pendaki, pengelola, warga lokal, komunitas dan pemerintah berkolaborasi untuk menciptakan sebuah sistem wisata pendakian yang bertanggung jawab dan berdampak luas. Dengan begitu, kita tidak hanya menjaga alam bumi pertiwi hari ini namun juga mewariskannya dalam keadaan lestari untuk generasi mendatang.
