Konten dari Pengguna

Mengenal 3 Taman Nasional di Sumatera yang Jadi Warisan Dunia UNESCO (Bagian 2)

Harley B Sastha

Harley B Sasthaverified-green

Book Author, Travel Writer, Mountaineer, IG-Twitter: harleysastha, Youtube: Harley Sastha

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Harley B Sastha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagian lanskap TN Gunung Leuser yang mengagumkan. Foto: Balai Besar TN Gunung Leuser/Instagram @bbtn_gn_leuser
zoom-in-whitePerbesar
Sebagian lanskap TN Gunung Leuser yang mengagumkan. Foto: Balai Besar TN Gunung Leuser/Instagram @bbtn_gn_leuser

Terletak di punggung bukit utama gugusan Pegunungan Bukit Barisan yang dikenal sebagai ‘Andes Sumatera’, tiga taman nasional (TN Gunung Leuser, TN Kerinci Seblat dan TN Bukit Barisan Selatan) yang membentuk Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatera atau Tropical Rainforest Heritage of Sumatera (TRHS), walaupun, masing-masing terpisah dan memiliki ruang hidup yang sangat berbeda, namun, semuanya mempunyai keanekaragaman hayati yang sangat tinggi dan luar biasa.

kumparan post embed

Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL)

Sejak mengenal namanya dan beberapa kali mengunjunginya, TNGL, menjadi salah satu taman nasional yang mempunyai arti tersendiri di hati saya. Termasuk, ketika melakukan pendakian selama 17 hari membelah belantara kawasan ini, dari Kedah hingga Aceh Barat Daya, beberapa tahun yang lalu. Sungguh, benar-benar kawasan taman yang luar biasa menakjubkan.

Bagi yang menyukai wisata petualangan, tentu nama TN Gunung Leuser memang sudah tidak asing lagi. Bahkan, menjadi salah satu destinasi pendakian gunung yang wajib masuk daftar list pendakian. Keunikan, kekhasan dan tantangan petualangan dengan hutan belantara nya menjadi salah satu faktor yang tidak dimiliki tempat lain.

Menyeberangi salah satu sungai di dalam TN Gunung Leuser. Foto: Harley Sastha (Expedisi Leuser 2015)

Kawasan pelestiaian alam tropis dan terbesar di muka bumi ini, memang memiliki berbagai keberagaman hayati dan menjadi surga para petualang. Mulai dari pesisir pantai hingga pegunungan tinggi. Tidak heran, jika memiliki banyak destinasi petualangan dan penelitian. Di antaranya: Tangkahan, Bukit Lawang, Kedah, Lawe Gurah, Batu Katak, Rantau Sialang, dan Danau Laot Bangko.

Mengantongi luas hingga 838.872 Ha, mulai dari provinsi Aceh (75%) hingga provinsi Sumatera Utara (25%), TNGL merupakan 1 dari 5 taman nasional pertama di Indonesia yang ditetapkan 6 Maret 1980.

kumparan post embed

Walaupun sejarah kawasan konservasi yang namanya diambil dari salah satu puncak yang ada di dalam kawasan–Gunung Leuser–sudah dimulai sejak masa Hindia Belanda, sekitar tahun 1920-an. Salah satu kawasan perlindungan flora dan fauna terbesar di Asia Tenggara. Keragaman ekosistemnya tersebar mulai dari tepi pantai hingga pegunungan yang diselimuti belantara hutan lebat khas hujan tropis sampai sub alpine, dengan titik tertingginya berada pada ketinggian lebih dari 3.400 mdpl.

Seorang peneliti sedang mendokumentasikan anggrek di TN Gunung Leuser. Foto: Harley Sastha (Expedisi Leuser 2015)

Setidaknya, TN Gunung Leuser, menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya lebih dari 4.000 jenis flora. Sebagian di antaranya merupakan jenis endemik dan langka. Rafflesia Atjehensis dan Rafflesia zippelni adalah dua di antara jenis rafflesia langka yang hidup di dalamnya. Tidak hanya itu, ribuan spesies fauna juga telah lama menjadikan kawasan penting dunia ini sebagai habitatnya.

Seperti: mamalia, burung, reptil, amfibi, ikan, dan invertebrata. Sekitar 65% dari 129 spesies mamalia di Sumatera, dapat ditemui dalam kawasan taman nasional ini. Untuk burung, diperkirakan jumlahnya tidak kurang dari 350 jenis yang menetap dari 380 lebih jenis burung.

Buat para peneliti, baik lokal maupun dunia, TNGL adalah surganya. Keberadaan Stasiun Riset Orangutan di Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara yang merupakan salah satu stasiun riset terbesar yang semakin mengukuhkan TNGL sebagai laboratorium alam yang sangat penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

instagram embed

Begitu agungnya suaka tropis TNGL, tidak heran jika menyandang 2 status Internasional dan 1 Asia Tenggara. Setahun setelah ditetapkan sebagai taman nasional, tepatnya pada 1981, TNGL ditetapkan sebagai Cagar Biosfer-kawasan ekosistem daratan atau pesisir yang diakui oleh Program Man and the Biosphere UNESCO (MAB-UNESCO) untuk mempromosikan keseimbangan hubungan antara manusia dengan alam.

Kemudian pada, 2004, bersama-sama dengan TN Kerinci Seblat dan TN Bukit Barisan Selatang, ditetapkan oleh UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia. Satu kesatuan terpadu Tropical Rainforest Heritage of Sumatera (TRHS). Setahun sebelumnya, pada 2003, TNGL juga sudah menyandang status sebagai ASEAN Heritage Parks – upaya untuk melestarikan daerah tertentu yang memiliki keanekaragaman hayati atau keunikan yang luar biasa di seluruh negara ASEAN.

Gajah Sumatera sedang mandi dan bermain air di sungai, Tangkahan, TN Gunung Leuser. Foto: Balai Besar TN Guunung Leuser/Instagaram: @bbtn_gn_leuser

Menariknya, TNGL, menjadi satu-satunya rumah di dunia, dimana 4 satwa eksotis–Harimau Sumatera, Orangutan Sumatera, Gajah Sumatera, Badak Sumatera–dan penting yang mendapat perhatian dunia, hidup bersama-sama dalam satu kawasan. Namun, keberadaan keempatnya saat ini semakin terdesak. Kebakaran hutan, jerat, perburuan dan penetrasi habitat aslinya, adalah sebagian hal yang terus mengancam keberadaan mereka. Dan perburuan dengan jerat itu menjadi ancaman yang cukup tinggi saat ini.

Masih masuknya TRHS dalam daftar critical dangerous IUCN, berbagai upaya terus dilakukan oleh Indonesia. Sebagai bagian dari TRHS, menurut Kepala Balai Besar TNGL Jefry Susyafrianto, pihaknya telah melakukan berbagai langkah. Empat di antaranya:

instagram embed
  • Menerapkan indikator Desired State of Conservation for Removal dalam Rencana Pengelolaan Jangka Panjang Balai Besar TNGL Periode 2021-2029 (peningkatan tutupan hutan menjadi 95%, memastikan adanya natalitas/kelahiran satwa prioritas sebesar 5%, penerbitan dokumen mitigasi dampak pembangunan/eksisting sarpras, identifikasi jalur batas sepanjang 800 km, penegakan hukum, kerja sama penguatan fungsi dengan pemda untuk pelestarian nilai penting di dalam dan di sekitar TNGL).

  • Pelaksanaan kegiatan pendukung pencapaian indikator pengelolaan berupa: patroli rutin, mendukung proses yustisi terhadap aktivitas tipihut, monitoring satwa prioritas, penanganan konflik satwa liar, pemeliharaan jalur batas, penanganan kebakaran hutan, pemulihan ekosistem dengan optimalisasi pola kemitraan konservasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (pelatihan, pembentukan masyarakat mitra polhut atau mmp, transfer pengetahuan dan keterampilan dengan mitra).

Destinasi wisata alam Tangkahan, TN Gunung Leuser. Foto: Ahtu Trihangga Balai Besar TN Gunung Leuser/Instagram: @bbtn_gn_leuser
  • Penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka akselerasi capaian indikator keberhasilan pengelolaan melalui: pengembangan analisis/penelitian data rekaman lapangan melalui operasional unit data dan informasi konservasi, pemantapan pengelolaan stasiun penelitian dan stasiun konservasi, penerapan hasil analisis dalam rencana & pelaksanaan kegiatan.

  • Pengembangan kerjasama dengan LSM (penguatan fungsi), Pemerintah Daerah (penguatan fungsi dan pembangunan strategis yang tidak dapat dielakan) dan masyarakat (kemitraan konservasi).