Konten dari Pengguna

Menghadapi ‘Normal Baru’ Saat Berkunjung ke Taman Nasional dan Wisata Alam

Harley B Sastha

Harley B Sasthaverified-green

Book Author, Travel Writer, Mountaineer, IG-Twitter: harleysastha, Youtube: Harley Sastha

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Harley B Sastha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belajar tentang tumbuhan di TN Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Foto: Dany Prabowo
zoom-in-whitePerbesar
Belajar tentang tumbuhan di TN Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Foto: Dany Prabowo

“Sesuai protokol Covid-19, harus tetap ada physical distancing, pembatasan jumlah wisatawan. Akan kita dorong seperti itu nantinya, apabila dalam waktu dekat ada tanda-tanda indikasi relaksasi. Contohnya, seperti di Wuhan, China, begitu ada relaksasi, kan muncul lagi epicentrum-epicentrum baru, hingga sampai ketemu vaksinnya,” kata Wiratno, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE)

Ilustrasi Dokumentasi Kementerian LHK
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Dokumentasi Kementerian LHK

Setidaknya sudah 53 hari Taman Nasional (TN) dan Taman Wisata Alam (TWA) di Indonesia, ditutup sementara sejak 24 Maret 2020, dari semua jenis kunjungan, guna mencegah penyebaran virus corona.

Sementara, selama masa itu juga, orang-orang melakukan berbagai kegiatan di rumah: bekerja, belajar dan ibadah dari rumah. Pembatasan perilaku sosial sehari-hari. Seperti: sosial distancing atau physical distancing, larangan berkerumun, jaga jarak, pemakaian masker, penggunaan hand sanitizer, wajib cuci tangan dan lainnya.

Berkemah di Bukit 1000 Bintang TN Gunung Ciremai. Foto: Tim Jelajah 54 TN Indonesia

Setelah hampir delapan pekan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan, alam terbuka, termasuk dialam kawasan konservasi seperti taman nasional dan taman wisata alam, bisa jadi merupakan tempat yang paling dirindukan oleh orang-orang. Tempat ideal untuk melepas penat dan kebosanan

“Yang paling dirindukan adalah tidur di hotel berbintang seribu, rindu banget sampe nyesek,” begitu komentar Beedeti dalam akun media sosial Gunung Indonesia, mengungkapkan kerinduannya akan mendaki gunung.

Seorang teman melalui pesan WhatsApp mengatakan, kalau dirinya sudah kangen banget jalan-jalan ke alam terbuka. Dia tidak sendiri, banyak yang merasakan hal sama, kangen dan rindu untuk jalan-jalan dan bertualang di alam terbuka.

Dampak Terhadap Ekosistem

Sekelompok Rusa di TN Baluran yang diambil baru-baru ini. Foto: Muhammad Taufik.

Disisi lain, bagaimana dampaknya terhadap ekosistem di kawasan-kawasan tersebut. Beberapa sumber menginformasikan, sebagian satwa-satwa telah mengambil alih beberapa wilayah sepi yang ditinggalkan orang-orang sementara waktu. Mereka bahkan hingga masuk ke kota-kota.

Dikutip dari Harpersbazaar Inggris, pada 3 April 2020, dua ekor burung merak dilaporkan sedang berjalan menyusuri jalan di kota Ronda, Spanyol, pada saat pemberlakukan lockdown nasional.

Halaman sebuah perumahan di Harold Hill, London Timur, Inggris, pada 4 April, saat lockdown nasional diberlakukan, didatangi sekawasan rusa bera untuk merumput.

Pemberlakukan lockdown di Afrika Selatan, telah membuat satwa-satwa liar beradaptasi dengan kehidupan tanpa manusia yang sedang menjalani masa karantina dan isolasi diri, selama masa pandemi virus corona.

Singa-singa tidur siang di jalan di Taman Nasional Kruger, Afrika Selatan. Foto: Taman Nasional Kruger

Melalui akun twitter resminya Taman Nasional Kruger, Afrika Selatan, mengunggah foto singa-singa yang sedang tidur siang di tengah jalan taman nasional. Mereka bahkan diceritakan tidak terganggu dengan kehadiran sang penjaga taman nasional, Richadd Sowry.

“Inilah pemandangan yang sebelumnya tidak pernah dilihat pengunjung Taman Nasional Kruger,” tulis akun tersebut. “Sore ini, singa-singa berbaring di jalan raya dekat Orpen Rest Camp.”

Menurut juru bicara Taman Nasional Kruger, Isaac Phaala, lalu lintas di jalan ini biasanya mendorong singat masuk ke semak-semak. “Singa-singa hanya menempati tempat-tempat yang biasanya mereka hindari ketika ada turis,” kata kepada CNN. "Orang-orang harus ingat bahwa TNK masih merupakan wilayah yang sebagian besar liar dan tak ada manusia. Satwa liar lebih aktif di sini."

kumparan post embed

Bagaimana dengan di Indonesia? Tenaga Pengaman Hutan Lainnya Balai TN Gunung Halimun Salak, Anda Jhony, menceritakan, Bumi Perkemahan Pusat Suaka Satwa Elang Jawa, Loji, dikejutkan dengan kemunculan jejak Macan Tutul Jawa (Phantera pardus) atau Kumbang di samping pos registrasi dan landak yang masuk dapur.

“Satwa nokturnal, kini jadi lebih aktif. Hampir tiap pagi di jembatan gantung selalu ada beberapa titik kotoran musang. Saat pagi hari, kicauan burun terasa lebih ramai dari biasanya,” kata Jhony melalui pesan WhatsApp.

Sekelompok Kerbau Liar, baru-baru ini sedang Merumput di TN Baluran. Foto: Muhaammad Taufik.

Walau ditutup sementara waktu, para staff dan polisi hutan tetap bertugas di lapangan. Mereka terus memastikan keamanan dan kelestarian kawasan. Termasuk monitoring keberadaan dan kondisi para satwa.

Kepala Resort Bama TN Baluran, Muhammad Taufik, melalui pesan WhatsApp, punya cerita menarik selama penutupan taman nasional di masa pandemi virus corona. Menurutnya, satwa terlihat lebih ekspresif.

Rusa-rusa dan kerbau, terlihat lebih santai saat melintasi jalan yang menuju pantai Bama. Ajag pun kini berani mengejar mangsanya, Rusa, diwaktu pagi hari.

Menurutnya, seekor Rusa sampai lari menuju pos Bama, karena dikejar tiga ekor Ajag. Setelah Rusa tersebut tewas, serombongan Ajag lainnya yang berjumlah 14 ekor, datang untuk memakannya.

Baru-baru pada pagi hari, tiga ekor Ajag terlihat sedang mengurung seekor Rusa di TN Baluran, Foto: Muhammad Taufik

Menariknya, hal tersebut sebenarnya sangat jarang terjadi. Karena, biasanya Ajag akan mencari dan menyerang mangsanya pada malam hari.

Demikian juga dengan monyet ekor panjang yang biasanya banyak berkeliaran di pantai Bama. Selama ini, mereka terbiasa dengan kehadiran penjunjung yang memberinya makan. Kini, jumlah mereka disana semakin berkurang.

"Monyet-monyet tersebut lebih banyak masuk ke dalam hutan. Mereka mulai kembali pada kebiasaannya, mencari makanannya sendiri," kata Taufik.

Berkurangnya Polusi Udara

Terhentinya sementara berbagai aktifitas yang dilakukan manusia di luar rumah, ternyata berdampak terhadap kondisi lingkungan. Polusi udara yang berkurang cukup drastis.

Polusi udara di China menurun karena virus corona. Foto: Dok. NASA

Berdasarkan citra satelit NASA, jumlah polusi udara di langit China berkurang drastis. Data yang dikumpulkan dari satelit Sentinel-5 ESA, menunjukkan penurunan nitrogen dioksida yang signifikan. Gas yang sebagian besar dihasilkan mobil, truk, pembangkit listrik dan sejumlah pabrik itu lenyap saat dilihat pada 20-25 Februari 2020.

"Ini pertama kalinya saya melihat penurunan drastis di area seluas itu untuk satu waktu tertentu," kata Fei Liu, peneliti kualitas udara di Goddard Space Flight Center NASA, seperti dikutip Science Alert, Senin (2/3).

Hal yang sama juga terjadi di Itali. Berdasarkan citra satelit ESA's Sentinel-5P, konsentrasi nitrogen dioksida di Italia yang diproduksi oleh mobil dan pembangkit listrik mengalami penurunan drastis sejak 1 Januari hingga 12 Maret 2020.

"Saya rasa (pengurangan karbon) akibat sebagian besar mobil diesel tidak berjalan," kata Emanuele Massetti, seorang ahli ekonomi perubahan iklim di Georgia Tech University seperti dilansir Global News.

Pemandangan gunung Himalaya setelah India dilockdown Foto: Twitter: @MuhammadLila

Pertama kalinya juga dilaporkan, setelah 30 tahun panoram pegunungan Himalaya dapat terlihat jelas dari India, pada Jumat (3/4). Hal tersebut dipercaya karena berkurangnya polusi yang terjadi, karena permberlakuan protokol lockdown pada 25 Maret hingga 14 April.

kumparan post embed

Jadi, setelah hampir tiga minggu penerapan lockdown, warga India dapat melihat puncak Gunung Himalaya dari jarak 125 mil di distrik Jalandhar Punjab di India.

Warganet pun ramai mengunggah foto penampakan Pegunungan Himalaya yang diambil dari rumah mereka. Salah satunya adalah atlet kriket India, Harbhajan Singh, yang mengunggahnya di media sosial Twitter.

"Tidak pernah bisa membayangkan itu mungkin terjadi. Indikasi yang jelas tentang dampak pencemaran yang telah kita lakukan terhadap Ibu Pertiwi,'' tulis Singh.

X post embed

Hal yang sama juga terjadi di Indonesia. Walaupun tidak seketat lockdown di negara lain. Pemberlakuan PSBB di sebagian wilayah, cukup memberikan dampak besar terhadap lingkungan.

Seorang teman yang tinggal di Tebet, Jakarta Selatan, menceritakan, kini, setiap pagi dirinya dapat melihat Gunung Salak dan Gunung Gede Pangrango lebih bersih dari biasanya. Padahal, sebelumnya tidak pernah terjadi. Penampakan gunung-gunung tersebut, juga dilaporkan warganet.

Potret-potret keindahan langit Jakarta yang bersih karen berkurangnya polusi, beberapa kali muncul di lini masa media sosial, hingga foto yang menunjukkan penampakan Gunung Gede dan Gunung Salak dari Jakarta. Sebuah pemandangan yang langka.

instagram embed

“Gue jadi mikir, yang virus kayaknya bukan corona deh, tapi kita manusianya,” cuit akun @rifaiahmd. Pernyataan tersebut diamini oleh warganet lain yang sepakat bahwa keindangan itu bisa terlihat jika manusia tidak merusak alam dan tidak mencemarinya dengan polusi.”

kumparan post embed

Sosial Ekonomi Wisata Alam

Terhentinya sementara waktu berbagai destinasi wisata alam, juga berpengaruh pada kehidupan sosial ekonomi yang selama ini bergantung dengannya. Seperti penyedia jasa dan sarana wisata alam: informasi wisata, pramuwisata, transportasi, perjalanan wisata, kuliner dan cinderamata serta akomodasi, wisata minat khusus dan petualangan.

Beberapa warung makanan dan minuman yang selama ini bergantung dengan kunjungan wisatawan dilaporkan telah mengalami kebingungan. Khususnya, mereka yang hanya mengandalkan pemasukan dari hasil berjualan kebutuhan wisatawan.

Parman, pemilik salah satu basecamp pendakian TN Gunung Merbabu, jalur pendakian Selo, beberapa waktu menceritakan, sejak aktifitas pendakian ditutup, dirinya dan rekan-rekannya, sesama pemilik basecamp pendakian, praktis hanya mengandalkan dari hasil pertanian dari ladang yang mereka miliki di belakang rumah.

Basecamp Penakian Parman, Selo, TN Gunung Merbabu. Foto: Harley Sastha

Parman, merupakan salah satu pemilik basecamp tertua di Selo. Para pendaki selama bermalam di basecamp Parman dan basecamp-basecamp lainnya, memang tidak dipungut bayaran. Tetapi, para pendaki, biasanya melengkapi kebutuhan makanan dan minuman serta membeli atau menyewa peralatan pendakian di basecamp yang mereka tempati. Juga menyewa kendaraan antar jemput dari basecamp yang menyediakannya.

Hal yang sama juga dirasakan para pelaku wisata di sekitar TN Kerinci Seblat, di Kayu Aro, Sungai Penuh, Jambi. Salah seorang pemandu pendakian Gunung Kerinci, Endatno, mengatakan, kalau sekarang semua pelaku wisata disana sedang tiarap. Semua full kembali ke ladang. Karena, katanya, hanya itu yang bisa dilakukan untuk survive.

“Untuk para pelaku wisata disini, baik pemandu, porter, travel, homestay dan lainnya, sangat terasa sekali. Sekarang sudah collapse semua. Kami tidak menyangka akan terjadi seperti ini. Pada minggu pertama dan kedua, kami masih dapat bertahan dari sisa-sisa rejeki yang ada. Setelahnya, kami kembali ke ladang. Setidaknya dapat menutupi untuk harian. Ada juga yang jual sebagian harta miliknya, seperti jam tangan atau emas, untuk membeli beras dan lainnya. Untungya, kekeluargaan masih tinggi disini. Jadi, masih dapat saling bantu, kalau ada yang kekurangan,” cerita Endatno.

Berdasarkan informasi yang dikumpulkan, hal yang sama, dampaknya juga dialami masyarakat dan pelaku wisata di TN Baluran, TN Kepulauan Seribu dan TN Gunung Rinjani.

‘New Normal’

Wisata Mangrove, Taman Nasional Kepulauan Seribu, Jakarta. Foto: Tim Jelajah 54 TN Indonesia

Apakah akan sama kunjungan sebelum pandemi virus corona dengan sesudahnya? Kapankah wabah ini akan berakhir? Mungkin saja pada kunjungan ke lokasi wisata alam akan mengalami perubahan. Karena belakangan, seluruh dunia sedang dalam tahap pembahasan ‘Tatanan Dunia Baru Pasca Covid-19’.

The New Normal atau Normal yang Baru. Sebuah istilah yang kian mengemuka saat ini. Terlebih vaksin virus corona, hingga saat ini belum ditemukan atau masih dalam penelitian oleh para ahli.

Tidak dapat dipungkiri, virus corona, sejak mulai mewabah, telah mengubah perilaku kehidupan manusia sehari-sehari. Cara bergaul atau berhubungan sosial, bekerja, memesan makan di restoran, belanja, kesehatan, sanitasi dan lain-lain.

Secara perlahan, kebiasaan yang selama ini berlaku telah bergeser. Dan mungkin juga akan berlaku pada saat mengunjungi tempat-tempat wisata alam, seperti taman nasional dan wisata alam.

Tiga pendaki mananegara mendaki di TN Gunung Rinjani. Foto: Harley Sastha

Apakah benar, dunia akan memasuki tatanan baru dan melakukan semua aktifitas dengan normal yang baru. Hingga saat ini, belum ada yang secara pasti bisa menjawabnya. Tetapi, cepat atau lambat perubahan itu akan terjadi. Dan, sudah siapkah kita?

Sebagaimana dilansir dari DW, para pakar dan ilmuwan terkemuka, tidak berani dan tidak mampu meramalkan apa yang akan terjadi seminggu ke depan, terkait pandemi virus corona SARS-CoV-2. Walaupun, dari data dan informasi yang telah mereka kumpulkan sudah sangat banyak dan relatif akurat, bahkan ada riset dari tahun 2007 yang memperingatkan kemungkinan wabah virus corona jenis baru.

Bilakah Taman Nasional dan Taman Wisata Alam dibuka Kembali?

Menysuri Sungai Sekonyer TN Tanjung Puting, Kalimantan Tengah.

Seperti disebutkan sebelumnya, para ahli masih belum bisa memprediksi, kapan pandemi virus coronoa ini benar-benar akan berakhir. The Guardian, pada 14 April 2020, melaporkan, para ilmuwan baru berhasil membuat vaksin dan mengatasi wabah Covid 19 selama delapan belas bulan dari sekarang. Itulah mengapa keharusan sosial atau physical distancing akan tetap berlanjut hingga 2022.

Menurut, ahli Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, pandemi akan berlangsung lama. Jadi, harus sudah membiasakan dengan new normal life atau pola hidup normal yang baru.

kumparan post embed

Kehidupan harus terus berjalan. Tidak selamanya semua harus dilakukan dirumah. Tetapi, dengan pandemi virus corona, mau tidak mau atau siap tidak siap, harus menghadapi perubahan yang terjadi. Karena, virus corona akan terus ada, selama vaksinnya belum ditemukan.

Seperti apa kehidupan normal yang baru ke depan? Mungkin, bisa jadi protokol mengenai disiplin cara pergaulan, kesehatan dan sanitasi akan lebih ketat..

Tarsius. Foto: Balai TN Bantimurung Bulusaraung

Nah, bilakah dimasa tersebut, taman nasional dan taman wisata alam dibuka kembali? Siapkah pengelola wisata alam menghadapi kemungkinan gelombang orang yang datang berkunjung? Karena begitu tingginya rasa rindu dan kangen serta hasrat untuk berwisata alam.

Seperti apa perilaku baru dalam berwisata nantinya? Akankah tetap ada protap dan protokol seperti pencegahan penularan virus corona seperti yang diberlakukan sudah diberlakukan saat ini. Jangan sampai berbondong-bondongnya orang datang, malah kemudian memunculkan gelombang baru Covid 19, karena adanya Orang Tanpa Gejala (OTG) di dalamnya.

Tentu, hal-hal seperti ini juga harus dipikirkan dan disiapkan pengambil kebijakan dan pengelola jauh-jauh hari. Terlebih kesehatan staff dan pekerja taman nasional dan taman wisata alam juga harus dipikirkan.

Kapal masyarakat yang melayani wisata di Sungai Sekonyer TN Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Foto: Harley Sastha

Mengenai dampak penutupan kawasan yang terjadi terhadap ekosistem, ekologi, sosial, budaya dan ekonomi seperti yang sudah dituliskan sebelumnya, seharusnya dapat menjadi bahan pemikiran untuk membuat kebijakan-kebijakan pada kehidupan normal yang baru.

Perlu dipertimbangkan untuk pemberlakuan penutupan kawasan pada periode waktu tertentu setiap tahunnya, diluar waktu jika terjadi bencana alam, seperti: kebakaran, gempa bumi atau tanah longsor. Dapat juga masing-masing kawasan ditutup dengan cara begilir atau diatur. Jadi, tidak ditutup penuh, sehingga ekonomi masih dapat berjalan dan alam juga tetap mendapatkan haknya waktu untuk beristirahat.

Mengenalkan alternatif-alternatif wisala alam lainnya, diluar yang sudah ada selama ini, yang juga akan memberi pengalaman tidak terlupakan bagi pengunjungnya.

Taman Teluk Nasional Cenderawasih. Foto: Tangkapan layar channel YouTube Balai Besar TN Teluk Cenderawasih

Pengelola membantu, mendorong dan mengedukasi para pelaku wisata di sekitar kawasan, misalnya dengan cara untuk melakukan diversifikasi produk-produk wisata alam. Mengajarkan pelaku wisata, khususnya masyarakat sekitar, untuk melakukan berbagai hal sebagai preventif, jika sewaktu-waktu kejadian seperti ini berulang.

Misalnya, mendorong mereka untuk membentuk kelembagaan, agar dapat saling bekerjasana dan menguatkan. Menyisihkan sebagian pendapatannya untuk disimpan atau ditabung.

Kalaupaun misalnya, kawasan akan dibuka, sementara mas pandemi masih terjadi, tidakkah sebaiknya dilakukan pembukaan secara bertahap atau terbatas. Karena, walau bagaimanapun, pembatasan jarak, pengurangan kerumunan harus tetap menjadi protap.

Pengunjung dalam hal ini juga harus siap mengalami perubahan yang terjadi. Akan mendapatkan pengalaman perjalanan yang berbeda dari sebelumnya. Normal yang berbeda atau baru.

Pembukaan Terbatas dan Bukan Mass Tourism

Seorang pendaki berada di puncak Kaldera Gunung Tambora. Foto: Harley Sastha

Mengenai hal ini, Dirjen KSDAE, Wiratno, melalui sambungan telepon mengatakan, akan mempertimbangkan protokol Covid-19, sebagai satu kewajiban baru bagi orang-orang yang akan berwisata alam.

Semua aktifitas wisata alam, akan dipikirkan ulang tentang kemungkinan terjadinya penularan. Menjaga jarak dan tidak boleh adanya kerumunan massa.

“Tetapi, apabila nanti dibuka, tetap harus ada prinsip kehati-hatian. Dengan mempertimbangkan protokol tersebut,” kata Wiratno.

Menurutnya, tidak boleh ada konsentrasi satu objek wisata alam. Misalnya di TN Komodo, hanya di Loh Liang dan Loh Buaya. Jadi, harus ada diversifikasi objek, sehingga pengunjung tersebat. Tidak terjad penumpukkan wisatawan di satu tempat.

Tim Jelajah 54 TN Indonesia dan staff Balai TN Gunung Merbabu saat berada di Puncak Merbabu. Foto: Tim Jelajah 54 TN Indonesia

“Dengan cara seperti itu, physical distancing dapat dijaga. Kecuali dengan keluarganya yang sudah diketahui sejarah kesehatannya. Jadi, tidak ada lagi model wisata alam yang mass tourism disatu tempat ramai sekali dan tidak terkontrol,” lanjut Wiratno.

Katanya lagi, carrying capacity akan diperketat lagi dengan physical distancing. Juga, menambah objek-objek baru yang tidak terkonsentrasi pada satu titik.

“Hal tersebut menunjukkan, bahwa, ekowisata itu bukan mass tourism. Ia segmented. Nah, dengan banyaknya wisatasan alam sekarang ini, perlu adanya reset ulang protokolnya. Kesehatan masih menjadi yang utama. Pengukuran suhu, menggunakan masker dan seterusnya. Kedepan mungkin dalam waktu yang lama, kita akan menggunakan protokol itu,” kata Wiratno.

Pendaki Mancanegara sedang mendaki di TN Gunung Merapi. Foto: Har;ey Sastha

Wiratno mencontohkan kegiatan bird watching yang sebenarnya sudah menerapkan physical distancing. Karena, tidak mungkin hal itu dilakukan ramai-ramai.

Untuk lokasi wisata alam Penanjakkan, Bromo, TN Bromo Tengger Semeru, menurutnya, tidak mungkin lagi pengunjung menumpuk rapat-rapat seperti yang lalu-lalu. Itu, nanti akan dibuat alurnya. Misalnya, masuk sekian orang. Kemudian keluar, berikutnya masuk sekian orang lagi. Begitu seterusnya.

“Implikasinya, memang, kita tidak bisa lagi dituntut untuk memberikan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar sebelumnya. Tetapi, kepuasan pengunjung, mungkin akan menjadi lebih. Karena akan merasa lebih aman dan nyaman,” kata Wiratno.

Danau Segara Anak TN Gunung Rinjani. Foto: Harley Sastha

Untuk itu, akan dilakukan rumusan bersama dengan antara pemerintah dengan pelaku wisata, usaha, aktivis, asosiasi, federasi, masyarakat dan lainnya. Misalnya menghitung ulang jumlah kuota pendakian di Semeru atau Merapi dan tempat lainnya.

Menurutnya, hal tersebut sudah harus dipersiapkan dan akan mulai dibicarakan dari sekarang, menyangkut pasca Covid-19.

Melihat hal tersebut, memang perlu adanya kehati-hatian. Karena, pembukaan pelayanan taman nasional dan taman wisata alam dalam masa pandemi seperti ini, harus dapat memastikan keselamatan seluruh staff, pekerja, sukarelawan mitra lainnya serta berbagai komunitas masyarakat yang terlibat.

Bagaimanpun, para staff dan pekerja taman nasional dan taman wisata alam, akan menjadi rentan tertular dan menularkan. Karena, mereka berhubungan langsung dengan pengunjung dan masyarakat, yang bisa jadi salah seroang diantaranya OTG.

Danau Kawah TN Kelimutu. Foto: Balai TN Kelimutu, instagram/tamannasionalkelimutu

Pengunjung sudah harus mengerti dan memahami, situasi normal yang baru ini. Tidak mungkin mengharapkan pengalaman yang mereka rasakan pada perjalanan terakhir mereka sebelumnya.

(Penulis juga Koodinator Bid. Konservasi PB Federasi Mountaineering Indonesia (FMI), Anggota Kehormatan Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) dan pengurus Masyarakat Geowisata Indonesia (MAGI)).