Konten dari Pengguna

Asal Usul Nama Kota Jakarta dari Sunda Kelapa hingga Batavia

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi monas sebagai ikon kota Jakarta. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi monas sebagai ikon kota Jakarta. Foto: Unsplash

Jakarta, ibu kota Indonesia yang kini menjadi salah satu megapolitan tersibuk di Asia Tenggara, memiliki perjalanan sejarah panjang yang tercermin dari perubahan nama-namanya. Sebelum menjadi Jakarta seperti yang kita kenal hari ini, kota metropolitan ini telah melalui berbagai era dengan identitas berbeda, mulai dari Sunda Kelapa, Jayakarta, hingga Batavia. Transformasi nama ini bukan sekadar perubahan label, melainkan cerminan dari pergantian kekuasaan dan pertemuan peradaban yang membentuk wajah kota ini selama berabad-abad. Simak terus uraian ini untuk mengetahui sejarah asal usul nama kota Jakarta dari Sunda Kelapa hingga Batavia.

Daftar isi

Sunda Kelapa: Pelabuhan Kerajaan Pajajaran

Jejak pertama kota Jakarta dapat ditelusuri hingga abad ke-12 dengan nama Sunda Kelapa. Pelabuhan ini berada di bawah kekuasaan Kerajaan Pajajaran yang berpusat di Pakuan (kini Bogor).

Dalam buku Nusantara: Sejarah Indonesia karya Bernard H.M. Vlekke, disebutkan bahwa Sunda Kelapa telah menjadi pelabuhan internasional tempat kapal-kapal dari berbagai negeri bersandar untuk bertukar komoditas.

Catatan Tome Pires yang bertajuk Suma Oriental menggambarkan Sunda Kelapa sebagai pelabuhan sibuk dengan perdagangan lada, kemenyan, dan rempah-rempah yang menjadi primadona pasar dunia.

Kedatangan Portugis dan Perjanjian 1522

Pada tahun 1522, Portugis membuat perjanjian dengan Kerajaan Pajajaran untuk berdagang melalui Pelabuhan Sunda Kelapa. Namun, kehadiran Portugis ini mengundang kekhawatiran Kesultanan Demak yang melihatnya sebagai ancaman. Sultan Trenggono kemudian mengirimkan armada laut di bawah komando Fatahillah untuk mengusir Portugis dari Sunda Kelapa.

Kemenangan Fatahillah dan Lahirnya Jayakarta

Pertempuran sengit terjadi pada 22 Juni 1527 ketika Fatahillah berhasil mengalahkan pasukan Portugis. Pasca kemenangan ini, Sunda Kelapa diganti namanya menjadi Jayakarta yang berarti "kemenangan sempurna" dalam bahasa Sansekerta.

Seperti dijelaskan dalam buku Sejarah Jakarta dari Masa Prasejarah sampai Akhir Abad ke-20 karya Adolf Heuken, nama Jayakarta pertama kali muncul dalam dokumen Barat sekitar tahun 1553. Tanggal 22 Juni kemudian diperingati sebagai hari jadi Jakarta, menandai transformasi dari pelabuhan Hindu menjadi pelabuhan Islam.

Penaklukan VOC dan Kelahiran Batavia

Awal abad ke-17, VOC membuat perjanjian dengan Pangeran Jayawikarta untuk mendirikan pos dagang. Ketegangan memuncak pada 1619 ketika Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal VOC, menaklukkan Jayakarta dan membangun kembali kota dengan desain menyerupai kota-kota Belanda.

Dalam buku Nusantara: Sejarah Indonesia karya Bernard H.M. Vlekke, disebutkan bahwa nama Batavia diambil dari suku Batavieren yang dianggap sebagai nenek moyang bangsa Belanda. Nama ini diresmikan pada 4 Maret 1621, menandai dimulainya era kolonial yang bertahan lebih dari tiga abad.

Era Pendudukan Jepang: Kembali ke Jakarta

Ketika Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942, pemerintah militer Jepang menerapkan kebijakan de-Nederlandisasi. Seperti dicatat dalam buku Jakartaku, Jakartamu, Jakarta Kita karya Lasmijah Hardi, nama Batavia diganti menjadi Jakarta Tokubetsu Shi atau "Kota Istimewa Jakarta" yang diresmikan pada 8 Desember 1942.

Nama Jakarta merupakan penyederhanaan dari Jayakarta, menghubungkan kembali kota ini dengan masa kejayaan Islam abad ke-16. Setelah Indonesia merdeka, nama Jakarta terus digunakan dan dipilih sebagai ibu kota negara.

Status Jakarta Sebagai Daerah Khusus Ibu Kota (DKI)

Setelah kemerdekaan, status administratif Jakarta mengalami beberapa perubahan. Pada 22 Juni 1956, Wali Kota Sudiro menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Ulang Tahun Jakarta.

Tahun 1961, Jakarta resmi menjadi Daerah Khusus Ibu Kota (DKI). Ketetapan mengenai hal ini dituangkan dalam Peraturan Pemerintah No. 2 Tahun 1961, yang kini telah diubah menjadi Undang-Undang No. 29 Tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sejak itu, Jakarta memegang peran penting sebagai pusat politik, ekonomi, dan budaya negara.

Baca juga: Sejarah Bali Sejak Zaman Prasejarah hingga Pasca Kemerdekaan

(NDA)