Cara Membedakan Gamelan Jawa dan Bali dari Sejarahnya

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gamelan adalah salah satu warisan musik tradisional Indonesia yang terkenal hingga mancanegara. Alat musik ini berkembang terutama di Jawa dan Bali, dua daerah dengan tradisi karawitan yang kaya dan unik.
Meski sekilas tampak mirip, gamelan Jawa dan Bali memiliki perbedaan mendasar, baik dari bentuk, teknik permainan, hingga sejarahnya. Untuk lebih memahaminya, berikut cara membedakan gamelan Jawa dan Bali dari sejarah hingga karakteristiknya.
Gamelan Jawa
Mengutip laman KWRI UNESCO, instrumen gamelan diyakini sudah dikenal masyarakat Jawa sejak tahun 326 Saka atau sekitar 404 Masehi. Dugaan ini diperkuat oleh relief-relief pada Candi Borobudur dan Prambanan yang memperlihatkan gambaran orang sedang memainkan seperangkat gamelan.
Di lingkungan keraton, gamelan kerap dimainkan dalam upacara resmi, termasuk prosesi pernikahan bangsawan. Hingga saat ini, gamelan Jawa masih setia diperdengarkan dalam berbagai acara, terutama resepsi pernikahan, sebagai simbol keluhuran budaya sekaligus pelestarian warisan leluhur.
Gamelan Bali
Gamelan Bali seringkali ditampilkan dalam berbagai macam acara, seperti acara hiburan, pertunjukan kesenian tari, drama, sampai teater. Tidak hanya itu, pada waktu-waktu tertentu, Gamelan Bali juga dimainkan untuk mengiringi upacara ritual atau sebagai sajian instrumental.
Berdasarkan buku Jenis-jenis Tungguhan Karawitan Bali karya Pande Made Sukerta, karawitan atau perangkat gamelan dari Pulau Dewata ada 33 jenis. Karena jumlah dan fungsinya begitu beragam, para ahli kemudian mengelompokkan gamelan Bali ke dalam tiga golongan utama, yaitu:
1. Gamelan Wayah (Tua)
Jejak gamelan wayah diyakini sudah ada sejak sebelum abad ke-15. Pada masa itu, ansambel gamelan masih sederhana dan didominasi instrumen bilah, misalnya gambang, caruk, genggong, selonding, gong luwang, gong bheri, gender wayang, angklung, bebonangan, hingga balaganjur.
2. Gamelan Madya
Memasuki periode abad ke-16 hingga abad ke-19, gamelan mengalami perkembangan signifikan. Ansambelnya tidak lagi terbatas pada instrumen bilah, melainkan sudah dilengkapi kendang serta instrumen berpencon yang menambah variasi bunyi.
Beberapa jenis gamelan yang lahir dalam fase ini antara lain gamelan pagambuhan, semar pagulingan, gong gede, batel barong, bebarongan, pelehongan, joged pingitan, dan gong degdog.
3. Gamelan Anyar (Baru)
Sesuai dengan namanya, gamelan anyar merujuk pada kelompok gamelan yang berkembang lebih belakangan, yakni sekitar abad ke-20 Masehi. Ciri khas yang paling mudah dikenali dari gamelan jenis ini adalah tabuhan kendang yang lebih dominan dibandingkan instrumen lain.
Kelompok gamelan anyar mencakup berbagai barungan yang lahir pada periode modern. Beberapa di antaranya adalah gamelan joged bumbung, jegog, bumbung gebyog, kendang mabarung, gamelan geguntangan, gamelan gong kebyar, gamelan janger, gong suling, hingga tektekan.
Ukuran Instrumen yang Berbeda
Selain berdasarkan sejarahnya, perbedaan antara gamelan Jawa dan Bali juga terlihat dari karakteristinya. Dikutip dari buku Mengorek Masa Lalu Menggali Jati Diri susunan Atiqa Sabardilla dkk., gamelan Jawa umumnya memiliki instrumen dengan ukuran lebih besar dibandingkan gamelan Bali. Ini menjadikan gamelan Jawa menghasilkan suara yang lebih dalam dan tenang.
Sementara itu, gamelan Bali cenderung dibuat dalam ukuran lebih kecil sehingga bunyinya terdengar lebih nyaring dan lincah. Ukuran instrumen ini bukan sekadar masalah teknis, tetapi juga mencerminkan filosofi budaya setempat. Jawa identik dengan sikap tenang dan halus, sedangkan Bali dikenal dinamis dan ekspresif.
Karakter Nada
Gamelan Jawa memiliki nada yang lebih pelan, harmonis, dan mengalun. Nada ini sering dimainkan untuk menciptakan suasana yang sakral. Berbeda dengan itu, gamelan Bali memiliki karakter nada lebih cepat, rancak, dan penuh hentakan.
Inilah sebabnya gamelan Bali sering mengiringi tarian yang penuh gerakan cepat, seperti tari barong atau tari kecak. Sementara itu, gamelan Jawa lebih banyak digunakan untuk wayang kulit atau acara adat dengan nuansa syahdu.
Komposisi Musik
Mengutip buku Mas dan Mba oleh Endah Nur Rahmi, komposisi musik gamelan Jawa terikat dengan aturan tertentu, seperti penggunaan pathet manyura. Pathet adalah sistem laras atau tangga nada yang memberi batasan dalam menciptakan komposisi musik.
Sementara gamelan Bali lebih bebas dan fleksibel, bahkan sering dipadukan dengan instrumen modern seperti gitar dan drum. Hal ini membuktikan bahwa gamelan Bali lebih terbuka terhadap improvisasi, sedangkan gamelan Jawa menekankan pada keteraturan dan pakem tradisional.
Struktur Instrumen Gamelan
Struktur instrumen gamelan juga menunjukkan perbedaan signifikan. Bersumber dari buku Mengorek Masa Lalu Menggali Jati Diri susunan Atiqa Sabardilla dkk., gamelan Jawa terdiri atas instrumen seperti gendang, bonang, saron, kenong, slentem, gender, gong, gambang, rebab, siter, suling, hingga kempul.
Sedangkan gamelan Bali memiliki jiyeng, reyong, kanthil, gangse, jigog, jublak, gong, kendang, ceng-ceng, gender, dan suling. Salah satu perbedaan yang mencolok adalah kehadiran rebab pada gamelan Jawa, sementara di Bali tidak ditemukan.
Hal ini memperlihatkan adanya pengaruh budaya Islam di Jawa, sementara Bali mempertahankan identitas Hindu-Buddha yang lebih kuat.
Baca Juga: Sejarah Candi Borobudur, Monumen Buddha Terbesar di Dunia
