Ciri-Ciri Proses Fermentasi Alami dalam Pembuatan Makanan dan Minuman

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fermentasi alami adalah salah satu proses biokimia yang paling tua dan banyak dimanfaatkan manusia sejak ribuan tahun lalu, mulai dari pembuatan roti, keju, yoghurt, hingga minuman tradisional. Proses ini melibatkan aktivitas mikroorganisme seperti ragi dan bakteri yang mengubah senyawa organik menjadi produk baru, biasanya menghasilkan alkohol, asam, atau gas. Untuk informasi lebih dalam, berikut ciri-ciri proses fermentasi alami dalam pembuatan makanan yang bisa kamu pelajari.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
1. Terjadi karena Aktivitas Mikroorganisme
Ciri utama fermentasi alami adalah keterlibatan mikroorganisme yang bekerja tanpa bantuan zat kimia tambahan. Misalnya, ragi (Saccharomyces cerevisiae) berperan dalam mengubah gula menjadi etanol atau alkohol dan karbon dioksida.
Menurut ScienceDirect, mikroorganisme ini memicu reaksi biokimia yang membuat fermentasi berlangsung secara spontan dalam kondisi lingkungan yang sesuai.
2. Menghasilkan Gas, Alkohol, atau Asam
Fermentasi umumnya ditandai dengan terbentuknya gas (seperti karbon dioksida), alkohol, atau asam. Contohnya, saat membuat roti, adonan mengembang karena gas CO₂ yang dihasilkan ragi. Pada yoghurt, bakteri Lactobacillus menghasilkan asam laktat yang memberi rasa asam khas.
National Library of Medicine (NIH) menjelaskan bahwa produk fermentasi bergantung pada jenis mikroba yang dominan dalam proses tersebut.
3. Perubahan Rasa, Aroma, dan Tekstur
Fermentasi alami selalu menghasilkan perubahan sensorik yang nyata. Makanan atau minuman yang difermentasi biasanya memiliki rasa lebih tajam, aroma khas, dan tekstur berbeda dibanding bahan mentahnya. Sebagai contoh, susu yang difermentasi menjadi keju atau yoghurt memiliki rasa dan tekstur yang jauh berbeda.
Healthline menyebutkan bahwa proses fermentasi tidak hanya meningkatkan cita rasa, tetapi juga menambah kandungan probiotik yang bermanfaat bagi pencernaan.
4. Tidak Membutuhkan Oksigen dalam Banyak Kasus
Sebagian besar fermentasi adalah proses anaerob, artinya dapat berlangsung tanpa oksigen. Misalnya, fermentasi alkohol dan asam laktat tetap berjalan meskipun dalam kondisi kedap udara.
Britannica menjelaskan bahwa fermentasi termasuk bentuk respirasi anaerobik yang membantu mikroorganisme tetap hidup ketika oksigen terbatas.
5. Memiliki Waktu Proses yang Beragam
Journal of Food Science and Technology menjelaskan bahwa fermentasi alami tidak terjadi secara instan, melainkan membutuhkan waktu yang bervariasi, tergantung bahan dan jenis mikroorganisme yang berperan. Lamanya fermentasi ini dapat memengaruhi intensitas rasa dan nilai gizi produk akhir.
Pembuatan roti bisa hanya memakan waktu beberapa jam, sementara fermentasi sayuran seperti kimchi atau sauerkraut membutuhkan beberapa hari hingga minggu.
6. Dapat Meningkatkan Kandungan Nutrisi dan Probiotik
Selain mencirikan perubahan fisik, fermentasi alami juga meningkatkan manfaat kesehatan. Proses ini dapat memperkaya kandungan vitamin, memecah zat antinutrisi, serta menghadirkan probiotik yang baik bagi usus.
Harvard T.H. Chan School of Public Health menegaskan bahwa makanan hasil fermentasi alami memiliki dampak positif terhadap kesehatan pencernaan dan sistem kekebalan tubuh.
7. Memerlukan Kondisi Lingkungan yang Tepat
Ciri lain fermentasi alami adalah kebutuhan akan kondisi lingkungan tertentu seperti suhu, kelembaban, dan pH yang sesuai. Jika kondisi terlalu ekstrem, mikroorganisme tidak akan bekerja optimal.
Food and Agriculture Organization (FAO) menjelaskan bahwa fermentasi tradisional biasanya memanfaatkan lingkungan alami, sehingga setiap daerah bisa menghasilkan cita rasa berbeda karena mikroba lokal yang unik.
Baca juga: Proses Pembuatan Keju dari Susu hingga Siap Disajikan
(NDA)
