Konten dari Pengguna

Mengapa Hayam Wuruk Dianggap Tokoh Penting Majapahit? Ini Penjelasannya

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi patung Hayam Wuruk. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi patung Hayam Wuruk. Foto: Unsplash

Hayam Wuruk, yang bergelar Sri Rajasanagara, merupakan pemimpin Kerajaan Majapahit dari tahun 1350 hingga 1389 Masehi. Namun, tak sedikit orang yang bertanya-tanya, mengapa Hayam Wuruk dianggap tokoh penting Majapahit? Merujuk buku 5 Kesatria Majapahit dalam Komik Aryo karya Hadi Keypo dan Brian Tizi, Hayam Wuruk dikenal sebagai pemimpin visioner yang menggabungkan kekuatan militer dengan diplomasi cerdas. Di bawah kepemimpinannya, Majapahit berhasil menguasai wilayah luas di Nusantara hingga Asia Tenggara, menjadikannya kekuatan maritim terbesar saat itu. Untuk mengetahui peran penting Hayam Wuruk selama memimpin Majapahit, simak uraian ini hingga tuntas.

Daftar isi

Masa Kejayaan Majapahit di Bawah Hayam Wuruk

Hayam Wuruk naik tahta sebagai raja Majapahit saat usianya masih sangat muda, sekitar 16 tahun. Meski demikian, ia tidak memerintah sendirian. Ia didampingi oleh Mahapatih Gajah Mada, tokoh penting yang saat itu berada di puncak pengaruhnya.

Menurut Encyclopaedia Britannica, kerja sama keduanya berhasil membawa Majapahit mencapai masa kejayaan dengan wilayah kekuasaan yang sangat luas, mencakup hampir seluruh kepulauan Indonesia. Wilayah inti kerajaan diperintah langsung oleh raja, sementara daerah lain tetap memiliki pemimpin sendiri tetapi mengakui kekuasaan Majapahit.

Pada masa ini, kekuatan laut Jawa sangat dominan. Kapal-kapal Majapahit menguasai jalur perdagangan laut, terutama perdagangan rempah-rempah yang sangat berharga. Kondisi ini membuat Majapahit memiliki kekuatan ekonomi yang besar dan menjadi salah satu kerajaan terkaya di kawasan Asia Tenggara.

Kolaborasi Hayam Wuruk dengan Gajah Mada

Hubungan kerja antara Hayam Wuruk dan Gajah Mada menjadi faktor utama keberhasilan Majapahit. Hayam Wuruk memberikan dukungan penuh terhadap Sumpah Palapa, janji Gajah Mada untuk menyatukan Nusantara.

Dalam buku Jejak-Jejak Peradaban Majapahit Imperium oleh Prasetya Ramadhan dijelaskan, dukungan raja terhadap sumpah tersebut mempercepat proses perluasan wilayah Majapahit. Beberapa kerajaan yang sebelumnya berdiri sendiri, seperti Pasai dan Aru, akhirnya berada di bawah pengaruh Majapahit.

Berkat kepemimpinan yang kuat dan kerja sama yang solid, situasi politik menjadi lebih stabil dibandingkan masa sebelumnya yang penuh persaingan antar kerajaan.

Perkembangan Budaya dan Keagamaan di Masa Hayam Wuruk

Selain kuat secara politik dan militer, Majapahit juga berkembang pesat dalam bidang budaya dan agama. Pada masa Hayam Wuruk, banyak bangunan keagamaan dibangun, seperti Candi Tikus dan Candi Jabung, yang menjadi bukti kemajuan arsitektur saat itu.

Menurut jurnal Agama dan Pendidikan Agama pada Masa Majapahit karya Hariani Santiko, pendidikan agama berkembang melalui lembaga kadewaguruan. Di tempat ini, ajaran Hindu aliran Siwa dan ajaran Buddha berkembang berdampingan tanpa konflik. Hal ini menunjukkan adanya sikap toleransi beragama yang kuat.

Kitab Nagarakretagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365, bahkan menggambarkan Hayam Wuruk sebagai raja yang bijaksana dan suci karena mampu menjaga keharmonisan di tengah keberagaman agama dan budaya.

Peran Hayam Wuruk dalam Kelancaran Diplomasi dan Ekonomi Majapahit

Dalam bidang hubungan luar negeri, Hayam Wuruk dikenal piawai menjalankan diplomasi. Ia menjaga hubungan dagang dengan berbagai wilayah penting, termasuk jalur perdagangan antara India dan Cina. Britannica mencatat bahwa kekuatan maritim Majapahit menjamin kelancaran perdagangan dan membawa kesejahteraan bagi rakyatnya.

Meski Hayam Wuruk tidak memiliki penerus langsung dari permaisuri utama, ia tetap berusaha menjaga kestabilan kerajaan dengan membagi wilayah kekuasaan kepada para kerabatnya. Langkah ini dilakukan agar tidak terjadi perebutan kekuasaan setelah masa pemerintahannya berakhir, sehingga warisan kejayaan Majapahit tetap terjaga.

Baca juga: Mengapa Kerajaan Majapahit Bisa Runtuh? Ini Faktor Penyebabnya

(NDA)